<![CDATA[Pengeja Cerita - Fiksi]]>Wed, 20 Oct 2021 03:44:00 +0700Weebly<![CDATA[[Review Cerpen] Sumur - Eka Kurniawan: Kisah tentang Cinta dan Sumber Kehidupan]]>Thu, 07 Oct 2021 06:14:15 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-cerpen-sumur-eka-kurniawan-kisah-tentang-cinta-dan-sumber-kehidupan
Sumur: bukan hanya sumber air dan kehidupan, tetapi sumber harapan, tempat cinta itu tumbuh dan terkubur. 
Buku yang hanya punya satu cerpen ini ditulis Eka Kurniawan pada 2019.  Cerita ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di antologi Tales of Two Planets dengan judul “The Well”, diterbitkan oleh Penguin Books pada 2020. Bukunya tipis, selesai dalam sekali duduk. Cocok untuk #SejamMembaca. Bukunya dibungkus amplop tipis yang seirama dengan sampul di dalamnya, jadi terlihat manis dan penuh misteri. Ya, misterius karena nggak ada blurb apapun di bungkusnya. Namun terlepas dari itu semua, apa saja yang menarik dari cerpen ini?

Sinopsis dan Pesan untuk Menjaga Lingkungan

Kisah ini menceritakan Toyib dan Siti yang sudah berkawan sejak kecil. Mereka adalah tetangga di sebuah kampung yang dulunya subur. Namun karena hujan semakin jarang, air semakin sulit, Ayah mereka terlibat percekcokan sehingga cinta yang tumbuh di antara keduanya pun ikut terputus seiring dengan matinya salah satu ayah mereka. 

Dari kisah ini, kita akan melihat pentingnya mata air (sumur) untuk kehidupan manusia. Jangankan untuk  saling mencintai, air penting untuk menjaga kehidupan dan harapan. Semakin miskinnya suatu daerah karena nggak ada air, maka akan semakin temperamental orang yang tinggal di sana. Alam kalau nggak dijaga juga bisa membawa petaka, makanya salah satu tokoh bisa sampai terenggut nyawanya karena amukan alam.  

Menurut gue, cerita tentang alam ini jadi menarik karena dimasukkan dalam tragedi cinta Siti dan Toyib yang menyentuh dan datang bertubi-tubi. Orang zaman sekarang mungkin nggak banyak yang percaya bahwa alam itu bisa ngamuk lho, atau perubahan iklim itu bisa berdampak serius lho pada kehidupan kita. Tapi ketika disampaikan melalui kisah Siti dan Toyib, orang bisa melihat sendiri contoh hubungan yang bisa kandas karena perubahan alam. 

Kendati demikian menurut gue, bagian paling gongnya ada di bagian ending. Eka memberikan ending yang tidak banyak penjelasan tapi sangat twisty.

Rekomendasi

Cerpen ini cukup sederhana. Cocok untuk teman-teman yang ingin berkenalan dengan karya Eka Kurniawan. Meskipun pendek hanya 51 halaman, tapi kita tetap bisa merenungi pesannya. 
]]>
<![CDATA[[Review Novel] Burning Heat - Akiyoshi Rikako: Kisah Cinta dengan Bumbu Dendam]]>Thu, 07 Oct 2021 00:09:10 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-burning-heat-akiyoshi-rikako-kisah-cinta-dengan-bumbu-dendam
Tragedi percintaan yang diceritakan dengan dendam membara sebagai penggerak cerita. 
Akhir-akhir ini, gue lagi pengen baca buku-buku dari penulis Asia yang ternyata seru-seru. Mereka biasanya punya konsep cerita yang kuat dan unik. Nah, setelah kemarin membaca novel iyamisu Minato Kanae yang super gelap, kali ini gue menyelesaikan karya Akiyoshi Rikako yang  konon juga dikategorikan dalam genre yang sama. 

Novel Iyamisu yang Menghangatkan

Sebelum baca novel ini, gue ikut beberapa diskusi tentang penulis-penulis Jepang yang menulis novel iyamisu. Akiyoshi Rikako disebut masih memberikan secercah cahaya dalam kisah yang ditulisnya. Jadi dari sana saja, gue udah nggak berekspektasi bahwa novel ini akan terlalu dark. 

Saat baca sinopsisnya, buku ini sangat menggugah. Bahkan hanya dengan dua kalimat seperti ini saja, orang pasti penasaran pengen baca:
Aku menikah dengan pembunuh suamiku. Demi menuntut keadilan.
Burning Heat bercerita tentang kehidupan seorang wanita underprivileged bernama Kawasaki Sakiko yang kehilangan suaminya, Tadatoki, awalnya karena dugaan kasus pembunuhan. Tersangka pembunuhan adalah Hideo yang merupakan seorang dokter terkenal. Namun, Hideo akhirnya tidak dipenjara karena Tadatoki dinilai penyidik terbunuh karena kecelakaan. Fakta yang dipaparkan polisi itu tidak dapat diterima oleh Sakiko. Dia ingin menyelidiki kasus ini sendiri, bahkan hingga rela menikahi Hideo.

Saat cerita bergulir, lambat laun kita bakal kenalan mengerti kenapa Sakiko ini sampai nekad melakukan penyelidikan sampai menikahi tersangka. Di buku ini ada dua kasus kecelakaan besar yang menggerakkan Sakiko hingga dia punya dendam begitu membaranya. ​Namun lambat laun, kita bakal melihat kisah cinta yang hangat semacam love-hate relationship. Plotnya dibuat maju mundur dan nggak menyimpan banyak twist, tetapi seluruh pertanyaan kita di awal buku akan terjawab dengan baik. Endingnya cukup tragis, tetapi sepertinya memang pantas diterima oleh setiap karakter.

Penokohan dan Penerjemahan

Dalam buku ini, ada tokoh sentral cerita yaitu Sakiko, Hideo dan adik Hideo yang bernama Akiko. Ketiganya yang paling sering berhubungan dengan Sakiko sebagai tokoh utama. 

Sakiko diceritakan sebagai wanita yang serba kekurangan, termasuk dari segi pendidikan pun dia hanya sekolah sampai SMA/sederajat. Begitu juga suaminya, Tadatoki, juga nggak sekolah tinggi. Hal ini membuat Sakiko kurang logis dalam membuat keputusan. Dia sering terbawa perasaan dan impulsif.

Sebaliknya, Hideo adalah seorang dokter yang terkenal dan baik hati. Meskipun penampilannya biasa saja, penuh dengan misteri dan pendiam, Hideo digambarkan sebagai sosok yang sangat mencintai istrinya. Dia lembut dan penuh kasih pada istrinya. Deskripsi tentang Hideo dari sudut pandang Sakiko memang berubah, awalnya dingin tetapi lama-lama seperti orang jatuh cinta. 

Sementara itu, Akiko adalah adik Hideo yang memiliki penyakit jantung. Akiko yang menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah sakit punya pemikiran yang sangat tajam. Dia masih punya harapan tinggi bisa bertahan hidup, bahkan mandiri. Dia jago membuat kerajinan dan juga coding. Tokoh ini sih yang menyimpan banyak twist.

Rekomendasi

Buku ini cocok buat teman-teman yang suka membaca buku misteri terutama yang suka psychological thriller ya. Walaupun berisi sebuah misteri pembunuhan, gue harus ingatkan bahwa penekanan novel iyamisu bukan di penghakiman tersangka. Namun biasanya akan lebih berfokus pada kondisi mental orang-orang yang terlibat kasus kriminal.
]]>
<![CDATA[[Review Novel] Ferris Wheel at Night : Karya Iyamisu Terbaru Minato Kanae di Indonesia]]>Fri, 24 Sep 2021 03:00:00 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-ferris-wheel-at-night-karya-iyamisu-terbaru-minato-kanae-di-indonesia
Sekali lagi, Minato Kanae kembali dengan kisah tidak mengenakkan yang tidak berfokus pada pelaku kriminal dalam novel iyamisu-nya.
Belakangan ini, novel J-lit terbitan Penerbit Haru terus naik daun. Setelah tahun lalu bisa dibilang sukses merilis novel iyamisu Minato Kanae 'Penance', tahun ini Penerbit Haru meluncurkan 'Ferris Wheel at Night' karangan penulis yang sama. Nah, apa aja yang menarik dari buku ini? Yok kita bahas satu per satu!

Kisah Keluarga Sehari-hari

Minato Kanae sebenarnya tidak pernah mengulik kasus yang masalahnya jauh dari kehidupan kita. Di kedua novel sebelumnya yang sudah rilis dalam Bahasa Indonesia, Kanae sudah menulis tentang hubungan guru-murid dan teman-teman. Kali ini, Ferris Wheel at Night bercerita tentang masalah-masalah keluarga tentu saja yang menyangkut hubungan ayah-ibu-anak, satu rumah dengan rumah yang lain, atau hubungan suami-istri. 

Ferris Wheel at Night berkisah tentang sebuah keluarga yang mengalami pembunuhan. Si korban adalah ayah, sedangkan pelakunya adalah sang ibu. Mereka memiliki tiga anak yang lahir dan dibesarkan di lingkungan perumahan elit, Bukit Hibari, namanya. Di lingkungan tersebut, keluarga ini memiliki tetangga yang ternyata terlibat saat kejadian. Misterinya adalah, apa sih motif sang ibu melakukan pembunuhan terhadap ayah?

Dari sanalah, Minato Kanae mengupas satu per satu perspektif keluarga sekitar rumah korban dan pelaku ini. Yang dikupas bukan hanya tentang kejadian saja tetapi juga bagaimana mereka memandang keluarga tersebut dan anak-anaknya. Dari kasus ini, gue melihat bahwa hampir semua orang nggak mau terlibat dalam kasus "tercela" ini, tetapi juga kepo alias pengen tahu banget apa yang sebetulnya terjadi malam itu. Dan sepertinya, pembunuhan ini memang tidak terjadi begitu saja tetapi memang ada sebab akibat dari hubungan suami-istri dan anak-orang tua yang mendorong.

Karakter Terlaknat

Oke, sebelum kita bicara tentang karakter mana yang paling bikin elus dada. Gue harus kasih tahu bahwa semua orang di dalam novel ini punya pikiran jahat dan semua pikiran itu diungkapkan secara gamblang oleh penulisnya. Itulah kenapa novel ini masuk dalam genre iyamisu. Belum ada definisi akademis tentang apa itu iyamisu, tetapi menurut penerjemah Penerbit Haru, Mas Andry Setiawan, iyamisu intinya adalah cerita yang mengulik sisi tergelap manusia. 

Now, karakter terlaknat dalam buku ini menurut gue adalah Endo Ayaka. Dia anak SMP yang menurut gue medioker banget. Dibilang pintar enggak, tapi bego juga enggak. Dia punya kekecewaan terhadap dirinya sendiri dan dilampiaskan ke Mamanya yang kebetulan membuatnya semakin hilang kepercayaan diri. Anak ini adalah definisi Maling Kundang versi Jepang. Silakan tarik nafas dan buang nafas sepanjang-panjangnya setiap membaca bagian dia.

Karakter kedua yang menurutku sangat menyebalkan adalah Endo Keisuke. Tokoh ini adalah ayah Ayaka yang luar biasa pengecut dan suka membohongi diri sendiri. Sebagai kepala keluarga, dia sering tidak berani mengambil langkah untuk menghentikan polah tingkah anaknya yang tidak tahu diuntung dan durhaka. 

Karakter terakhir yang paling bikin gue sebel dan sayangnya ada banyak di Indonesia adalah Kojima Satoko. Tokoh yang satu ini dalam bayanganku adalah wanita paruh baya yang suka ikut campur urusan orang walaupun kayanya nggak ketulungan. Karakter seperti ini sebenarnya plus minus ya. Di budaya orang Timur, orang-orang seperti ini ada karena memang kita hidup secara sosialis dan saling peduli. Tapi tentu, kalau terlalu peduli akan jadi mengganggu. 

Perbandingan dengan dua karya sebelumnya

Sejujurnya, karya yang terakhir ini agak sulit dibandingkan dengan dua karya Minato Kanae yang sudah diterbitkan di Indonesia sebelumnya. Alasannya ya karena tujuan tulisan ini agak berbeda. Dalam dua karya sebelumnya, Kanae sepertinya masih menyediakan jawaban-jawaban atas kasus yang terjadi sehingga kita bisa belajar sebab-akibat atau konsekuensi yang terjadi jika melakukan hal-hal yang terjadi dalam buku buku itu. 

Tetapi, novel Ferris Wheel at Night ini nggak seperti itu. Kita diminta untuk memutuskan sendiri apa yang ingin kita percayai dari seluruh informasi yang sudah kita terima dari semua orang yang terlibat...kecuali si pelaku. Entah ini kelebihan atau kekurangan buku ini ya. Gue sih agak geregetan dan penasaran, tapi ya sah-sah aja di mana penulis ingin meletakkan kata tamat kan. 

Rekomendasi

Buku ini sepertinya cocok untuk remaja atau yang lebih tua, sebab ada banyak kata umpatan yang sepertinya kurang baik dibaca bocah. Plus, kebanyakan tokoh dalam buku ini memang ada di usia remaja jadi mungkin mereka akan bisa lebih relate dengan situasi para tokoh muda. 

Meski begitu, para orang tua juga sangat gue rekomendasikan baca buku ini supaya anak mereka nggak jadi Malin Kundang seperti Ayaka. Overall, gue suka buku ini karena tulisan dan penerjemahannya sangat mengalir. 
]]>
<![CDATA[[Review Kumcer] Membuka Ruwetnya Ibukota Indonesia Lewat 'Cerita-Cerita Jakarta']]>Sun, 12 Sep 2021 07:50:37 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-kumcer-membuka-ruwetnya-ibukota-indonesia-lewat-cerita-cerita-jakarta
Picture
Reading with a view di Gelora Bung Karno sore-sore
Terbit pertama kali dalam Bahasa Inggris, 'Cerita-Cerita Jakarta' kini disampaikan dengan bahasa ibunya yang menggambarkan peliknya hidup di Ibukota Indonesia ini.
'Cerita-Cerita Jakarta' adalah salah satu buku yang aku tunggu-tunggu kehadirannya tahun 2021 ini. Buku ini berisi 10 cerita pendek tentang Jakarta yang ditulis oleh penulis yang berbeda-beda, tiga diantaranya udah nggak asing lagi buat aku yaitu Sabda Armandio, Yusi Avianto Pareanom, dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Selain itu, buku ini juga direkomendasikan oleh banyak bookstagram yang aku ikuti di Instagram. So, yok kita coba kupas buku ini just in case kamu lagi pengen tahu worth it atau nggak buku ini dikoleksi.

Jakarta Hari Ini, Dulu dan Nanti

Sesuai dengan judulnya, buku ini tentunya membahas masalah-masalah yang lekat dimiliki penduduk kota metropolitan ini. Sebagai salah satu penduduk Jakarta, gue harus mengakui bahwa problematika yang diangkat sangat dekat dengan gue. Misalnya permasalahan ruwetnya macet, antrean mengular, penggunaan aplikasi canggih. termasuk friends with benefit dan gelandangan. Kayaknya nggak ada kota seruwet Jakarta deh di Indonesia. 

Tapi menariknya, cerita yang disuguhkan nggak cuma tentang Jakarta saat ini lho! Cerita Sabda Armandio misalnya, mengisahkan kerusuhan Mei 1998 dari sudut pandang dua pengamen jalanan. Selain itu ada pula kisah persahabatan dua gadis Tionghoa yang terpisah masih karena peristiwa penurunan Presiden Soeharto itu. 

Nggak cuma kembali ke masa lalu, pembaca juga disuguhi kemungkinan Jakarta di masa depan jika kehidupan kita masih begini-begini saja. Maksudnya, yaaa masih buang sampah sembarangan, masih aja bangun apartemen dan jalan layang di kota yang udah mau tenggelam ini. Meskipun begitu, kita mungkin juga akan menjadi anak-anak dewasa yang membeli rumah dengan harga overpriced karena siapa sih yang nggak mau punya tanah dan rumah megah di Ibukota?

Namun seluruh pilihan dan tindakan kita di manapun dan kapanpun pasti akan membawa konsekuensi. Cerpen-cerpen ini menunjukkan kemungkinan konsekuensi yang bakal kita terima dan melihat konsekuensi yang sudah kita bayar dari kejadian masa lalu di Jakarta. 

Cerita Terfavorit sampai Ter-enggak Ngerti

Gue harus menyampaikan apresiasi gue pada Hanna Fransisca yang sudah menulis 'Aroma Terasi'. Ceritanya tentang kebusukan aroma korupsi ini sangat menghibur dan menohok, karena kebetulan banget kantor yang dikritiknya adalah kantor gue. LOL sumpah lucu banget!

Cerita berikutnya yang sangat membekas di hati gue adalah 'Buyan' karya utiuts. Sebenarnya cerita sangat pendek tapi kocak. Buyan adalah mobil tanpa pengemudi yang entah di Jakarta tahun berapa mampu beroperasi tanpa supir. Si Buyan bisa dipesan melalui aplikasi KEJAR dan nahasnya malah membawa seorang emak-emak rempong menuju Semanggi yang kala itu sudah digenangi air. Kepanikan emak-emak sungguh menggelitik.

Peringkat ketiga favorit gue adalah 'Anak-anak Dewasa' oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dan 'Matahari Tenggelam di Utara' yang ditulis Cyntha Hariadi. Agak bingung menentukan mana yang lebih gue suka karena menurut gue keduanya bener-bener bagus. Yang satu menceritakan bagaimana orang-orang generasi kita mungkin akan menyesali keputusan mereka bertahan di Jakarta dan membangun rumah bagai istana di sini. Sementara itu, cerita Cyntha sangat sedih yaitu tentang dua siswa SMA yang sama-sama orang keturunan Tionghoa. Yang satu berasal dari keluarga tajir melintir yang tinggal di perumahan super mewah, sedangkan satu lagi hidup sederhana. Begitu pecah kerusuhan tahun 1998, perbedaan kasta itu mempengaruhi hubungan mereka begitu parahnya. 

Nah yang terakhir, cerita yang paling gue nggak ngerti adalah 'Pengakuan Teater Palsu' dari Afrizal Malna. Cerita yang satu ini agak filosofis, sehingga kita mungkin butuh waktu lebih banyak untuk mencerna maksud cerita ini. Tokoh dalam cerita ini mirip-mirip temenku di jurusan sastra dulu yang kalau ngomong seolah ngalur ngidul nggak jelas. Tapi sebenarnya lagi memprotes sesuatu.

Rekomendasi

Buku ini aman untuk pembaca remaja atau yang lebih tua karena ada cerita tentang 'Rahasia tentang Kramat Tunggak' yang mungkin kurang pas dibaca anak-anak. Selebihnya, buku ini sangat cocok untuk orang yang ingin mengenal Jakarta dan segala histori dan masalahnya. Plus, covernya sangat cakep berwarna krem dengan tulisan merah dan biru. 

Selanjutnya, gue jadi pengen baca series 'Book of (Town)' yang diterjemahkan dalam Bahasa Inggris oleh Comma Press seperti buku ini. Anyway, buku ini bisa kamu dapetin di Post Santa karena kebetulan memang mereka penerbitnya. Bahkan editornya adalah couple goals gue, Maesy Ang dan Teddy W. Kusuma.

Selamat membaca!
]]>
<![CDATA[[REVIEW NOVEL]  'Pulang Pergi' - Tere Liye: Dari Jual Beli Tinju sampai Kebut-kebutan Mobil]]>Thu, 19 Aug 2021 10:35:13 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-pulang-pergi-tere-liye-dari-jual-beli-tinju-sampai-kebut-kebutan-mobil
Suka dengan film mafia dengan adegan bertempur dan kejar-kejaran dengan mobil keren? This novel is gonna be one of your best pick!
Buku action dari Tere Liye adalah salah satu genre buku yang paling menghibur kalau dibaca. Alurnya super cepat, hanya 1-7 hari dan sudah seru dari lembar-lembar pertama. Pernyataan gue ini berdasarkan pengalaman gue membaca 'Negeri di Ujung Tanduk', 'Negeri Para Bedebah', 'Pulang' dan 'Pergi'. Begitu 'Pulang Pergi' keluar, langsung banget nih penasaran dan pengen baca.

Jadi kali ini, Tere Liye masih melanjutkan kisah Bujang (a.k.a Agam, a.k.a Si Babi Hutan). This time Bujang is going to marry a girl. Meski dibangun dengan setting yang tampaknya bernuansa romantis, percayalah keromantisan ini hanya sekitar 10 persen aja dari keseluruhan cerita. Alkisah Bujang dijodohkan dengan Maria, putri penguasa shadow economy Rusia bernama Otets. Namun sebenarnya, Bujang nggak yakin dia mau menikah walaupun Maria ini sangat cantik. Di Rusia, Bujang mengajak penembak nomor 1 di dunia hitam, Salonga, dan juga bertemu Thomas.

Jika kamu belum tahu, Thomas adalah tokoh utama dari seri 'Negeri Para Bedebah'. Dia adalah seorang akuntan cerdas, ganteng, kaya, singkatnya ya sempurna gitu. Novelnya juga berisi tembak-tembakan dan adu pukul.

Namun di hari H pernikahan Bujang dan Maria, Otets malah menerima pengkhianatan yang sangat menyakitkan. Pengkhianat itu membuat Bujang dkk terus melarikan diri. Momen-momen melarikan diri itulah yang menurutku sangat seru dan kalau diimajinasikan nggak kalah sama Vincenzo dan Fast and Furious.
Picture
Saint Petersburg sebagai latar pesta pernikahan sekaligus pertempuran Bujang melawan musuh.

Nuansa yang Lebih Beragam

Yang selalu mengagumkan dari tulisan Darwis Tere Liye adalah risetnya. Kita akan dibuat percaya bahwa dunia mafia sangat nyata dan berkuasa dengan data-data yang benar-benar ada. Salah satu kejadian nyata yang disebutkan di buku ini adalah kecelakan di Chernobyl pada 1986. Kejadian itu benar-benar ada, tapi belum semua orang Indonesia tahu. Buku ini paling tidak mengulas sedikit sejarah wilayah yang sudah terpapar radiasi nuklir itu.

Apakah kejadian itu benar-benar ada hubungannya dengan para mafia? Kita tidak tahu. Tetapi selalu menarik menyimak hubungan yang dibangun Tere Liye antara kejadian-kejadian besar dunia dengan shadow economy.

Selain itu, kali ini Tere Liye juga memberikan bumbu-bumbu cinta dan persahabatan yang lebih kental. Justru nuansa keagamaannya yang tidak terlalu berasa. Mungkin karena kali ini sudah tidak dinaungi Penerbit Republika lagi. Sementara itu, adegan yang ada di dalam buku ini juga lebih sinematografis. Sangat mudah membayangkan buku ini difilmkan dan menjadi salah satu box office.

Ganti Penerbit

Tidak seperti biasanya, kali ini buku Tere Liye diterbitkan oleh Sabak Grip Nusantara. Konon, perubahan penerbit ini menyebabkan perubahan yang membuat sebagian pembaca Tere Liye kecewa. Contohnya, yang agak mengganggu gue adalah ketidakhadiran terjemahan dari Bahasa Rusia yang kebetulan sangat banyak dalam buku ini. Cuma karena gue orangnya kontekstual dalam membaca apapun, gue jarang ambil pusing ketika gue ga ngerti bahasanya. Lanjut aja. Paling artinya ini atau itu. Namun intinya, gue sangat mengerti bahwa kekurangan ini agak menyebalkan memang.

Ada juga yang mengeluhkan font dan ketebalan buku. So far itu nggak terlalu ganggu sih kalau buat gue. Selain itu, ada juga yang menemukan inkonsistensi bahasa White yang biasanya kerap menjawab 'Aye aye captain', sekarang menjadi lebih lugas. Memang benar secara karakter, White jadi tidak seperti di dua buku sebelumnya yang sangat kental kemarinirannya. Hal ini konon karena ada penulis kedua yang membantu Tere Liye. Tapi balik lagi, itu nggak merusak cerita kalau bagi gue.

Rekomendasi

Bagian yang paling mudah dalam menulis review ini adalah rekomendasi. Gue rekomendasikan buku ini untuk siapa aja. Buku ini aman dibaca semua umur karena entertaining, heart pounding and mind-opening. 
]]>
<![CDATA[[REVIEW NOVEL] Memilih Petualangan Sepatu Ajaib Sendiri dalam 'Gentayangan' karya Intan Paramaditha]]>Sat, 14 Aug 2021 15:30:00 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-memilih-petualangan-sepatu-ajaib-sendiri-dalam-gentayangan-karya-intan-paramaditha
Masih ingat kisah Goosebumps yang kita bisa pilih halaman cerita kita sendiri? Buku ini versi dewasanya yang lebih peka terhadap isu perempuan.
Gentayangan berkisah tentang seorang wanita 'Aku' atau kadang juga 'Kamu' yang memiliki sepasang sepatu merah cantik pemberian Iblis Kekasih. Kita sebagai tokoh utama wanita dalam buku ini ceritanya sangat bosan hidup di Jakarta yang sumpek tanpa pencapaian hidup yang dapat memuaskan dirinya. Akhirnya, dia pacaran dengan Iblis berharap hidupnya lebih bergairah. 

Setelah pacaran dengan Iblis Kekasih, rupanya kita masih bosan juga. Iblis kekasih yang cinta mati, kita rela memberikan apapun deh dan kita minta satu tiket untuk pergi jauh tanpa harus kembali ke rumah. Dengan berat hati, Iblis Kekasih memberikan kita sepasang sepatu yang akan mengantarkan kita ke negara-negara di dunia untuk melarikan diri dari Indonesia. Nah, kita sebagai tokoh utama bisa memilih untuk bergentayangan di New York, Berlin, Amsterdam dan seterusnya. Terserah kita mau memilih halaman berapa dan berakhir seperti apa. 

Tapi yang perlu diketahui, semua pemberian Iblis Kekasih itu juga membawa kutukan. Jadi siap-siap saja di setiap kisah pasti akan ada surprise dari sang kekasih.

Cerita lama yang dijadikan kekinian

Sampai beberapa minggu aku baca buku ini, aku nggak yakin sudah membaca semua ending atau semua halaman. Masalahnya, nggak peduli berapa kalipun aku mencoba memilih pilihan berbeda, seringkali endingnya berada di halaman yang sama. Entah aku yang bingung atau memang ceritanya diset seperti itu.

Tapi jangan sedih, dari beberapa plot yang sudah berhasil aku temukan dan tamatkan, Intan Paramaditha menyajikan kisah-kisah yang sudah familiar di dunia misalnya The Wizard of Oz, Rumpelstiltskin, pencurian patung kurcaci sampai cerita kuntilanak segala. Cerita-cerita ini seperti mendapat update yang menjadikan mereka relevan terhadap kehidupan zaman now di kota-kota besar.

Intan sepertinya memang sangat percaya bahwa 'there is nothing new under the sun' dan nggak apa-apa juga untuk me-recycle cerita folklore yang sudah sangat dikenal masyarakat. Yang paling penting adalah bagaimana cerita-cerita itu dinarasikan dengan gaya penulisnya. Sejujurnya aku emang suka cerita recycle seperti ini. And that's why I enjoyed reading this book.

Intan menambahkan unsur gothic, horor dan majik untuk nuansa penceritaannya. Ini karena Intan punya kesenangan membaca Margaret Atwood dan juga Mary Shelly. You know that Shelly who wrote Frankenstein? Yup, itulah asal kegelapan cerita di buku ini.

Isu perempuan

Meskipun kamu laki-laki, tapi kamu akan tetap menjadi perempuan dalam tokoh ini. Dari buku ini, kita akan diajak melihat dunia dari perspektif perempuan dan bagaimana konsekuensi pilihan itu. Dari plot yang aku udah baca, aku pernah jadi lesbian, janda, pelancong atau pramusaji. Kadang berakhir mati, kadang berada dalam bahaya tanpa ending yang jelas. Tapi menurutku, isu yang dibawa Intan ditutukan dengan sangat subtle sehingga nggak terasa feminismenya dibanding buku-buku bertema perempuan lainnya.

Membaca buku ini aku jadi berpikir lagi apakah perempuan itu benar-benar sebebas itu memilih jalan hidupnya. Kok, banyak yang pilihan yang berakhir nggak bahagia ya? Aku nggak tahu apakah pilihan dalam buku ini sebenarnya disajikan sebagai kebebasan sungguhan atau diset untuk menunjukkan bahwa nasib perempuan itu memang kebanyakan berakhir sama aja? Sepertinya, aku masih harus bolak-balik buku ini lebih lanjut untuk mendapatkan jawabannya.

Dalam buku ini kita akan ketemu juga dengan sosok-sosok perempuan yang exceptional. Kita akan punya kakak seorang pebisnis hijab sekaligus ibu yang sukses, wanita yang ternyata penyihir, perempuan-perempuan bersejarah sampai perempuan pembuat film. Meski menyentuh banyak hal, Intan membubuhkan satir terhadap kehidupan perempuan masa kini yang kerap dilabeli seperti halnya benda. 

Rekomendasi

Buku ini cukup tebal yaitu 490 halaman, tetapi kita mungkin nggak akan membaca semua halaman itu sekaligus. Butuh waktu yang cukup lama untuk membaca buku ini karena aku sendiri sering terjebak di alur yang sama. Oleh karena itu, pembaca yang punya target menyelesaikan sejumlah buku mungkin perlu meluangkan waktu lebih untuk bisa menikmati buku ini.

Gentayangan juga sebaiknya nggak dibaca di e-book. Pasti akan pusing bolak-balik halaman dan merunut alurnya. Pakai paperbook aja, kita masih bisa tersesat lho apalagi e-book. Aku adalah salah satu korban e-book Gentayangan yang tersesat. 
]]>
<![CDATA[[REVIEW NOVEL] 'Cantik Itu Luka': Novel Indonesia Cita Rasa Eropa]]>Sun, 08 Aug 2021 12:34:21 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-cantik-itu-luka-novel-indonesia-cita-rasa-eropa
Novel pertama karya Eka Kurniawan ini disebut mendapat pengaruh karya Pramoedya Ananta Toer, tapi juga memukau bak kisah alegori ala Eropa.
Buku ini adalah perkenalan pertama gue dengan Eka Kurniawan pada akhir 2018. And didn't really know of this book, tetapi sering banget lihat nama penulisnya di toko buku. Karena sedang ulang tahun, iseng aja waktu itu minta dihadiahi buku ini ke pacar. And you know what? I love it!

Buku ini bercerita tentang seorang perempuan blesteran Indo Belanda yang hidup di era akhir kolonialisasi. Tokoh penting kita ini, Dewi Ayu, bangkit dari kuburnya setelah 21 tahun mati atas keinginannya sendiri. Dewi Ayu yang cantik jelita terpaksa menjadi korban peralihan zaman sehingga jadi pelacur. Tapi saking cantiknya, dia menjadi comfort woman termahsyur.

Tapi ini bukan kisah tentang Dewi Ayu semata. Kita bakal kenalan sama orang sekampung Halimunda dari tukang kuburnya sampai tentaranya. Tentu saja dengan balutan sejarah Indonesia yang pernah dijajah Belanda, Jepang sampai zaman Komunis lengkap dibahas dari generasi ke generasi. 

Cerita Multidimensional

Karena banyaknya tokoh dalam buku ini, ada banyak juga aspek masalah yang diperkenalkan Eka Kurniawan. Selain perubahan iklim politik di Indonesia, buku ini juga memperlihatkan bagaimana keadaan wanita terdampak oleh perubahan itu. Keempat anak Dewi Ayu memperlihatkan bagaimana sialnya menjadi wanita cantik sekaligus sangat buruk rupa. 

Buku ini juga memperlihatkan cinta kasih seorang ibu yang ingin melindungi anaknya bahkan dengan bangkit lagi dari kubur untuk mengusir arwah gentayangan yang membawa keruntuhan bagi anak cucunya. I know, it may sound like zombi-esque story tapi kebenarannya adalah cerita ini membawa unsur horor, mistis, legenda, klenik dan bahkan sedikit seksualitas. Sama seperti 'Lelaki Harimau', agak ngeri membaca novel ini di gerbong-gerbong kereta karena seksulitas yang diceritakan di sini bukan yang biasa tetapi bisa antar saudara sampai sepupu. 

Buku ini menggabungkan unsur realistis dan non-realistis menjadi satu sehingga ceritanya sangat kaya tapi juga terasa pas dan mudah dimengerti untuk aku yang nggak terlalu mendalami novel sejarah. Beberapa pembaca luar negeri ngasih review di Goodreads bahwa buku ini mirip dengan alegori karya-karya sastra seperti Animal Farm-George Orwell atau One Hundred Years Solitude-Gabriella Garcia Marquez. Aku harus setuju dengan pendapat itu karena memang alegori, satir dan simbolismenya segetol itu.

Untuk gaya bahasa dan isu memang banyak yang bilang mirip dengan Pramoedya Ananta Toer, tapi tenang aja karena nggak sesulit itu. Bahasa Eka mudah dipahami tapi memang ada beberapa diksi yang perlu nanya Google dulu. 

Menabrak norma-norma

Ketika baca novel ini, aku nggak berhenti geleng-geleng kepala karena menyaksikan gambaran masyarakat jahiliyah. Nggak ada lagi kata haram untuk tokoh-tokoh di buku ini. Edan sih. Apa aja dihajar seolah-olah manusia nggak pernah punya adab. Anak kawin sama lelaki yang pernah dikawini ibunya; saudara perempuan tidur dengan suami kakaknya; sepupu saling mencintai dan terbunuh; pembunuhan, pemerkosaan, manusia dimakan hewan dan cerita-cerita tragis lainnya. Menurutku, buku ini mungkin akan kurang cocok bagi pembaca buku yang ngeri dengan adegan-adegan di atas ya. 

Yang mengagumkan adalah seluruh keabsurdan dan surealisme itu mengalir dengan lancar dalam alur maju mundur yang ditulis Eka. Aku sih nggak menemukan plot hole ya. Kerapihan plot adalah salah satu hal yang aku suka dari buku ini. Tapi dia cukup chunky, sehingga aku sarankan teman-teman nggak menyelingkuhi buku ini agar nggak tersesat ketika baca. Seperti yang kubilang tadi, ada banyak tokoh, banyak masalah, dan alurnya maju mundur. It's a lot to take in, so read this book at once. Overall, buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca!

Rekomendasi

Harus diakui bahwa buku bukan bacaan ringan terutama untuk teman-teman yang kurang suka baca karya sastra. Tapi karya seperti ini sepertinya cukup langka dan akan menyenangkan menjajal satu dari daftar panjang Khatulistiwa Literary Award. 

Buku ini cocok untuk kamu yang suka novel ghore, mistis, sejarah, satir dan barangkali politik. Tapi tetap jangan lupa bahwa sejatinya novel ini adalah tentang cinta dan keluarga.
]]>
<![CDATA[[REVIEW NOVEL] Kisah Ayam yang Bermimpi Bisa Terbang karya Hwang Sun-Mi]]>Sun, 04 Jul 2021 08:30:00 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-kisah-ayam-yang-bermimpi-bisa-terbang-karya-hwang-sun-mi
Kisah alegori yang disebut-sebut setara 'Animal Farm' asal Korea ini nggak hanya bicara soal mimpi dan cinta tetapi juga kebebasan dan perundungan.
Saat orang ngobrol tentang kisah alegori (majas yang menjelaskan maksud tanpa secara harafiah), kebanyakan yang langsung terpikirkan adalah buku 'Little Price' atau 'Animal Farm'. Untungnya, sekarang ada satu lagi kisah alegori yang nggak terlalu berat namun bagus.

Buku tersebut berjudul 'The Hen Who Dreamed She Could Fly' karya Hwang Sun-Mi. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Baca di Indonesia pada November 2020. Menurut pantauan di sosial media influencer buku, karya ini cukup hits di Indonesia walaupun aslinya dari Korea Selatan. 

Novel ini berkisah tentang seekor ayam betina yang menamai dirinya sendiri Daun. Sebagai ayam petelor, dia dirawat agar bisa menghasilkan telur. Tetapi Daun sebenarnya nggak pingin telurnya terus diambil. Dia ingin menjalani 'kodratnya' sebagai telur betina yaitu mengerami dan menetaskan telur di halaman seperti ayam betina ras Korea lainnya di peternakan itu. Singkat cerita, Daun berhasil keluar dari kandangnya, nggak sengaja bisa menetaskan telur bebek dan harus survive melawan perburuan musuh besarnya yaitu seekor musang.

Seperti cerita alegori lainnya, jangan berharap seekor ayam betina akan berpikir seperti ayam betina betulan. Mereka sebetulnya manusia dengan polah tingkahnya yang diungkapkan dengan perilaku binatang. Cerita Daun menurut gue dikisahkan dengan cukup sederhana dan menyentuh, nggak satir seperti 'Animal Farm'. 

Gaya penceritaan dalam novel ini kesuluruhan berasal dari sudut pandang pertama yaitu Daun. Dari sana kita akan mengerti perasaan Daun yang berkembang dari awalnya takut pada musang, kemudian menjadi takut hingga iba. Penerjemahan yang dilakukan oleh Dwita Rizki juga apik, nggak ada kata yang bikin kita berjengit. Plot yang digunakan seluruhnya maju dan tidak terburu-buru, namun juga nggak terlalu lambat. Pas untuk diceritakan sebagai dongeng untuk anak-anak.

Kekurangan dari cerita ini menurut gue adalah beberapa twist cerita yang bisa ditebak di beberapa bagian awal. Bagian ketika Daun menemukan telur baru dilahirkan nggak tahu telur milik siapa berhasil gue tebak. Selain itu, ada satu plot hole yang agak menganggu yaitu ketika Daun nggak ngasih tahu ke anak bebeknya alasan kenapa dia sebaiknya nggak pulang kembali ke halaman peternakan. Padahal, dia takut banget Jambul Hijau (anak bebeknya) disakiti manusia. 

Bicara tentang pengorbanan ibu, kebebasan, dan perundungan

Buyut ayam adalah ayam, tetapi kebanyakan spesies ayam nggak bisa terbang. Apalagi ayam petelor. Oleh karena itu, judul buku ini udah menunjukkan tema yang diceritakan yaitu mimpi yang nggak mungkin jadi nyata. Tetapi karena terus bekerja keras, Daun sebagai tokoh utama kita akhirnya bisa meraih mimpinya. Ya walaupun cara agak hmmmmm...

Tapi selain ngomongin tema yang udah jelas itu, yang paling mengena di hati gue adalah karakter keibuan yang dimiliki Daun. Ibaratnya, Daun adalah seorang cewek yang udah nggak subur tapi pengen punya anak. Pengen banget sampai akhirnya anak siapapun diasuh sama dia seperti anak sendiri. Feeling ketika dia mengerami Jambul Hijau itu sama banget ketika gue hamil. Ya mendengar detak jantungnya, merasakan gerakannya bayi. Belum lagi keputusan-keputusan Daun untuk anaknya yang sedang tumbuh dewasa. Itu yang membuat cerita ini begitu menyentuh. 

Soal kebebasan, Daun sebenarnya bisa hidup dengan nyaman tanpa rasa khawatir dan tinggal menunggu mati dalam menjalankan tugasnya di dalam kandang. Hidupnya aman, nyaman dan terjamin. Tapi di sana dia terkungkung. Ketika dia ingin bebas, dia harus melupakan rasa aman dan nyaman karena dikejar musang. Ya gitu kan hidup? Ada yang mampu menggaransi keamanan dan kenyamanan, tetapi kebebasan kadang harus tersandera. 

Di sisi lain, cerita ini juga menyentuh isu perundungan yang dialami Daun, Bebek Pengelana dan Jambul Hijau. Daun dirundung karena dia dianggap berbeda dan tidak layak, Bebek Pengelana dan Jambul Hijau juga dirundung karena fisik mereka tidak sama dengan bebek lain di halaman peternakan. Mereka juga dianggap sebagai makhluk yang nggak jelas asal muasalnya. Sedih banget sih bagian ini. Gue membayangkan anak-anak di sekolah harus merasa kecil hati hanya karena mereka berbeda. Mereka hanya belum tahu siapa diri mereka dan potensi yang mereka punya. 

Sejujurnya, ada banyak banget isu yang disentuh cerita ini. Bisa bikin skripsi sih kalau mau bahas semuanya haha. Jadi gue tinggalkan isu-isu lain untuk lo ceritain di kolom komentar aja ya!

Rekomendasi

Cerita ini adalah dongeng. Bisa dibacain untuk dedek dedek kita atau ya kita sendiri yang baca. Akan sangat cocok untuk dihadiahin buat mereka yang masih kelas 5-6 SD. Buku ini juga cocok untuk mereka yang baru aja diadopsi atau mengadopsi anak.
]]>
<![CDATA[[REVIEW & INTERVIEW] Kumcer 'Aku Mengeong' - Wawan Kurniawan]]>Sun, 04 Jul 2021 05:30:00 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-interview-kumcer-aku-mengeong-wawan-kurniawan
Gue berkesempatan wawancara dengan penulis buku kumpulan cerpen yang menyentuh topik-topik sensitif yang jarang dibicarakan ini. Buku dengan cerpen surealis itu menurut gue patut diberi kesempatan.
'Aku Mengeong' berisi 15 cerita pendek surealis karya Wawan Kurniawan yang terbit Februari 2021. Buku kumcer ini ketemu sama gue karena kebetulan Kumpulbaca bekerja sama bareng Patjar Merah untuk membuat beberapa agenda mingguan. Kebetulan, penerbit Indonesia Tera yang menggawangi buku ini memperkenalkan gue dengan penulisnya langsung, Wawan Kurniawan. Jadi, gue ada kesempatan mewawancarai langsung proses kreatif setelah baca karyanya. Yuk, bagi yang penasaran isi buku dan proses kreatif penulisannya merapat yuk!

[Review Buku] Kumcer surealis yang bikin geleng-geleng

Sejujurnya, gue anak sastra yang nggak peka-peka banget soal rasa, alegori dan simbolisme. Untuk membaca karya-karya dalam buku ini, rupanya perlu kemampuan menelaah menggunakan elemen-elemen yang tadi gue sebutin. Alhasil, ada beberapa cerita dalam buku ini yang membuat gue geleng-geleng kepala karena nggak paham, misalnya seperti cerpen 'Aku Mengeong' sendiri Butuh waktu dan ngobrol dengan penulis langsung sampai akhirnya ber-'oooh gitu'. Sepertinya, gue harus belajar lagi memahami gaya penceritaan seperti ini ya!

Yang cukup memikat dari buku ini adalah tema-tema yang diambil. Judul seperti 'Mimpi Terakhir Seorang Teroris Muda', 'Kematian Tokoh Aku', dan 'Pengakuan Penghuni Rumah Sakit Jiwa S' mengambil tema radikalisme, gender, serta kesehatan mental. Kita bahas satu satu ya.

Mimpi seorang teroris bercerita tentang 'pengantin' yang merasa ragu untuk melakukan tugasnya meledakkan diri. Sudut pandang ini menurut gue unik karena gue sendiri selama ini juga selalu bertanya-tanya apa yang ada di kepala para "pengantin" ini sebelum mereka melakukan aksi teror. Populer di kalangan masyarakat Indonesia menganggap mereka kaum radikal yang menganggap orang selain golongan mereka itu kafir atau yang darahnya halal untuk dibunuh. But I haven't really got into their mind and soul. Sebagai manusia biasa, masak iya sih nggak ngeri meledakkan diri? Masak seyakin itu sih bakal masuk surga? Sebenci itukah sampai tega ngebunuh orang yang bahkan nggak mereka kenal? 

Yang kedua menarik adalah tentang kisah bissu di suku Bugis. Bissu adalah kaum pendeta yang dianggap campuran antara laki-laki dan perempuan, separuh dewa dan manusia, di Sulawesi Selatan. Mereka dianggap gender kelima dan tidak berpenampilan berdasarkan gender laki-laki atau perempuan. Mereka dianggap sebagai penjembatan antara dunia manusia dan dewa, namun sayangnya keberadaannya seperti tidak mendapat tempat lagi di Sulawesi. Kisah ini menurut gue sangat berbeda dari isu gender yang biasanya soal kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Gara-gara cerita ini, timbul perbincangan mengenai gender-gender di Nusantara yang ternyata lebih dari dua. Kisah ini juga memperkenalkan gue pada adat Bugis itu sendiri yang sebelumnya nggak pernah gue tahu.

Isu yang menurut gue juga seru adalah tentang kesehatan mental. Sekarang ini banyak orang yang stres, depresi, hampir gila. Tapi pernah nggak sih ngobrol sama orang yang beneran dirawat di RSJ? Ya kalau belum, cerpen ini bisa menggambarkan bagaimana alur pikir pasien di sana. 

Yang juga relatable sama gue adalah ketakutan akan kegagalan menjadi penulis. Well, sebenarnya itu ketakutan untuk gagal pada umumnya sih. Tetapi karena tokoh di situ adalah seorang penulis jadi rasanya kayak legit no debat gitu ke gue yang juga pengen banget jadi penulis buku. Perasaan kalau buku nggak selesai, buku nggak laku, nggak bisa makan padahal duit dari nulis juga nggak banyak. Ya, perasaan semacam itu.

Interview proses kreatif 

Mas Wawan nggak cuma menulis cerpen. Beliau nulis esai, puisi dan juga menerjemahkan karya sastra luar ke Indonesia. Rupanya ini yang membuat beliau menulis isu agak berbeda, karena pekerjaan menulisnya juga dalam berbagai bentuk yang menuntut ketajaman isi.

Kumcer 'Aku Mengeong' dipilih penerbit dan juga penulis sebagai judul karena dinilai menggambarkan tema dalam buku ini yaitu cerita surealis. Aliran ini dipilih mas Wawan untuk karya-karyanya karena beliau emang terbiasa menulis puisi. Beliau sendiri mengakui bahwa dalam menulis cerpen-cerpen di buku ini, dia banyak menggunakan teknis menulis puisi yang dia rasa pas untuk menyampaikan cerita. 

Nah, gue juga sempat tanya dari mana saja ide menulis isu-isu yang menarik di atas. Mas Wawan punya keresahan-keresahan tentang isu yang dipakainya untuk menulis. Untuk risetnya, beliau menggunakan teknis riset langsung dari narasumber dan dari literatur. Soal radikalisme misalnya, ternyata beliau pernah wawancara langsung dengan teroris untuk pekerjaan sebelumnya. Jadi beliau gunakan hasil wawancara itu untuk bahan bercerita. Selain itu, beliau juga melakukan riset tentang isu di sekitar. Jadi buat temen-temen yang pengen punya buku sendiri, bisa mulai cari ide menulis dari keresahan sendiri lalu riset dan kerja ya!

Rekomendasi

Gue merekomendasikan buku ini buat teman-teman yang suka puisi, suka cerita pendek yang selesai sekali duduk atau buat lo yang lagi pengen belajar menyibak makna dalam kata. Ya, buku ini perlu dicoba!

​Berita bagusnya adalah cerpen 'Mimpi Terakhir Seorang Teroris Muda' bakal dialihwahanakan sebagai audio cerita di Podca. Jangan sampai ketinggalan ya. Pantau aja Spotify Kumpulbaca!
]]>
<![CDATA[[REVIEW NOVEL] Sedihnya 'Jika Kucing Lenyap dari Dunia' Ini]]>Sat, 03 Jul 2021 16:55:39 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-sedihnya-jika-kucing-lenyap-dari-dunia-ini
Ditulis oleh Genki Kawamura, novel yang terjual lebih dari 2 juta eksemplar ini berbicara tentang pahit dan manisnya arti hidup melalui premis 'kehilangan untuk mendapatkan sesuatu'. Wajib dibaca pecinta kucing!
Pernah bayangin nggak sih suatu hari lo divonis kena suatu penyakit dan kira-kira hanya akan hidup di dunia dalam hitungan hari aja? Hal itulah yang dialami tokoh utama kita dalam novel berjudul 'Jika Kucing Lenyap dari Dunia'. Novel dengan tebal 255 halaman yang diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Baca ini menceritakan kisah seorang tukang pos yang terkena tumor otak stadium terakhir. Dia diperkirakan hanya punya waktu sepekan untuk hidup.

Tetapi menariknya, dia didatangi seorang iblis yang bisa menambah sisa usianya asalkan tokoh utama 'Aku' dalam buku ini bersedia menghilangkan sesuatu dari dunia. Tentu saja salah satunya adalah melenyapkan kucing dari dunia. Apa yang akan terjadi pada dia sendiri dan dunia jika kucing nggak ada lagi? 

Cerita ini menggunakan alur maju yang sangat straightforward, cocok sama gue yang suka cerita nggak kebanyakan cincong (bunga-bunga kata). Walaupun begitu, gue masih bisa merasakan emosi yang pingin disampaikan penulis sama kita karena kebetulan problematika keluarga gue sama. Tokoh aku di sini sebenarnya orang yang biasa-biasa aja seperti tokoh yang diciptakan penulis Jepang pada umumnya. Dia pria berusia 30 tahun yang pernah punya pacar, dia suka film, dia juga pengguna gadget seperti kita semua. Hanya saja, dia punya hubungan yang kurang baik dengan bapaknya.

Kritik yang gue baca di Goodreads kebanyakan bilang bahwa gaya penulisan di novel ini lebih banyak ke penceritaan daripada penggambaran. Padahal, potensi ceritanya bisa jadi lebih menarik jika memakai teknik penggambaran. Misalnya kejadian ketika dia flashback masa lalunya. Tokoh aku memang lebih banyak cerita ke kita bagaimana dulu hubungan dengan ibunya daripada menunjukkan scene masa lalu itu secara langsung. Well, itu masalah selera ya. Sejauh ini, gue nggak terganggu dengan plot yang ada. Gaya translasi ke Bahasa Indonesianya juga bagus kok.

Oh ya satu lagi, meskipun novel ini berasal dari Jepun, sedikit banget kultur yang bisa kita rasain. Yang gue temukan ke-Jepang-jepangan tentu saja kucing itu sendiri. Banyak banget penulis Jepang yang membahas tentang kucing kan. Di sanapun, banyak konsep hotel dan restoran yang bertemakan kucing. Mungkin itu kekurangan buku ini yang paling kentara. Tapi kalau mau dilihat dari sisi baiknya, bisa jadi penulis mencoba menyampaikan cerita yang lebih universal sehingga banyak orang yang bisa relate. Menurut gue, sah-sah aja juga kok karya sastra dari manapun tidak terlalu menonjolkan kultur.

Tapi kalau boleh zuzur ya, yang agak mengecewakan justru karena tokoh aku sebenarnya nggak bisa memilih sendiri sesuatu yang ingin dia lenyapkan. Ini beda dari film India 'Jab Tak Hai Jaan' ketika Meera Thapar  (Katrina Kaif) percaya Tuhan akan mengabulkan satu doanya ketika dia merelakan sesuatu untuk hilang atau tidak dia lakukan lagi. Di novel ini, iblis dari tokoh aku yang memilih benda apa yang akan dihilangkan selamanya. Jadinya di situ kurang seru!

Berbicara soal arti kehilangan

Karena ngomongin kematian dan lenyap, so pasti novel ini berbicara tentang kehilangan. Kita sebagai pembaca diajak Genki Kawamura untuk berkontemplasi apa sih makna kehilangan. Kehilangan di sini banyak lho sektornya, misalnya kehilangan kemudahan, kehilangan cinta, kenangan, sampai hewan kesayangan. 

Dari sana, justru banyak banget aspek menarik yang disuguhkan buku ini yang memantik pemikiran gue sebagai manusia apa arti "ada" itu sendiri. Setelah selesai baca, gue jadi bersyukur masih punya umur yang panjang, ada rezeki, ada banyak hal yang gue suka dan masih bisa gue jalani sampai sekarang. Even gue juga masih bisa memeluk orang yang gue sayangi dan cintai. Emang ya, kadang orang itu take things for granted. Dengan baca buku ini, mungkin lo akan menyadari betapa berharganya napas yang dikasih Tuhan buat lo sampai sekarang dan segera ingin memanfaatkannya untuk sesuatu yang nggak lo sesali.

Yang membuat gue terkesan adalah penulis nggak berniat mengatakan nasihat itu langsung di depan muka pembaca. Jadi menurut gue sih nggak menggurui ya. 

Kucing adalah keluarga

Sesuai dengan judulnya, kucing menjadi salah satu tokoh sentral di novel ini. Kalau lo punya kucing sejak lama, kemungkinan besar cerita ini bakal relate banget sama lo. Kucing menurut cerita ini memiliki 'jiwa'. Ya, walaupun nggak berakal seperti manusia, nggak berarti mereka nggak punya perasaan. Itulah kenapa hewan peliharaan harusnya dianggap sebagai bagian keluarga, bukan cuma 'mainan' atau perhiasan aja. 

Anyway, ini adalah salah satu concern gue sih. Orang di Indonesia sering banget pilih-pilih ras kucing pas untuk dipelihara. Padahal ya sama aja kayak manusia, mereka pasti sedih kalau kita rasis begitu. Gue paham kalau lo masih nganggep kucing ras lebih bagus, lebih lucu, menunjukkan status sosial pemiliknya. Gue dulu juga gitu. Eh tapi ternyata gue salah, kucing domestik (kocheng kampung), kalau dipelihara dengan benar dan baik juga bisa gendut, lucu, bagus dan punya kepribadian yang baik. Miu (kucing gue di atas) adalah buktinya! Haha

Rekomendasi

Overall, ini adalah cerita magic. Seperti cerita keajaiban lainnya yang nggak masuk akal, gue merekomendasikan buku ini bagi elo yang ingin cerita ringan, nggak perlu mikir sampe otot mau lepas, tapi 'menyentuh'. Sejujurnya, gue suka banget sama buku ini makanya agak sulit untuk nggak bias ketika membaca komentar negatifnya di Goodreads maupun platform lain.  Buku ini paling cocok dibaca remaja atau dewasa muda. Agak dark ya kalau buat anak-anak, tapi kalau lo ingin mengajarkan arti kehilangan sejak awal ya nggak apa-apa juga sih. 

Itu pendapat gue tentang 'Jika Kucing Lenyap dari Dunia'. Ada yang punya pendapat beda? Boleh lho share di kolom komentar biar agak rame gitu blog ini. Anyway, thank you udah baca sampe kalimat terakhir ini.
]]>