<![CDATA[Pengeja Cerita - Non Fiksi]]>Mon, 20 Sep 2021 02:25:39 +0700Weebly<![CDATA[[Review Buku] 'Creative Writing' - A.S. Laksana: Kitab Hitam Wajib Calon Penulis Fiksi]]>Sat, 18 Sep 2021 09:30:00 GMThttp://pengejacerita.com/non-fiksi/review-buku-creative-writing-as-laksana-kitab-hitam-wajib-calon-penulis-fiksi
Ketika kamu butuh pijakan untuk membangun cerita, buku 'Creative Writing' karya A.S. Laksana ini bisa diandalkan. 
Sejujurnya gue beli dan buku ini sejak kuliah. Buku ini satu dari segelintir buku lawas yang selalu gue bawa ke manapun gue pindah sebagai anak kos di Jakarta. Kenapa gue selalu bawa-bawa buku ini? Yok, kita bahas.

Memberi Pencerahan walau Covernya Gelap

Gue membeli buku ini karena dulu belum mampu ikut coaching clinic menulis atau kelas-kelas menulis. Ini tuh jauuuuuuh banget dari pengalaman jadi jurnalis atau penulis konten. Pokoknya pas masih benar-benar awam sebagai penulis. Waktu itu gue kenalan sama buku ini saat baru lulus kuliah dan terbersit keinginan untuk jadi penulis kreatif.

Saat itu sebenernya nggak tahu juga siapa A.S. Laksana, tepatnya baru sekali baca cerpennya di Kompas. Tapi setelah membaca buku ini dan udah membeli beberapa buku tuntunan menulis kreatif, bahkan ikut kelas menulis, 'Creative Writing' tetap patut dijadikan pegangan. Kayaknya Dee Lestari bahkan juga merekomendasikan buku ini untuk murid-muridnya yang ingin belajar menulis kreatif. 

Isinya sangat komplit dan menurutku sangat sejalan dengan kelas-kelas menulis yang pernag gue ikutin. Intinya, cerita yang bagus adalah cerita yang ketemu tamatnya. Kalaupun kita sebagai penulis belum merasa puas dengan alurnya, kita bisa edit setelah selesai nanti. Berikut hal-hal yang sampai sekarang selalu gue ingat dari kitab hitam ini:
1. Jangan menulis sekaligus mengedit
2. Kenali karaktermu sebaik-baiknya
3. Jangan membuat dialog kosong
4, Pilih adegan terbaik di pembuka
5. Selesaikan cerita yang sudah dimulai, nggak peduli seberapa jelekpun hasilnya!

Gaya Bahasa yang Gampang Dimengerti

Gue sebenernya ada satu series buku belajar menulis karya pengarang lain. Tapi harus diakui buku ini yang materinya paling dasar, paling gambang diikuti dan paling mudah diapliksikan. Bahkan kalau lo mau rajin, di setiap bab ada latihan yang sangat bisa dijadikan bahan untuk memperbaiki tulisan. Ada juga contoh-contoh menarik yang membuat kita mengerti maksud penulis. Mungkin inilah perbedaan mencoloknya buku ini dari buku panduan menulis lainnya; A.S. Laksana nggak mencoba filosofis atau semacamnya. Langsung to the point aja gitu menjelaskan komponen-komponen dalam cerita. 

Buku ini juga dulu membuat gue sadar bahwa jarak antara mimpi gue sebagai penulis dan gue saat ini adalah action! Ide doang banyak kalau nggak segera ngetik dan menuangkannya sebagai cerita dalam plot, adegan, karakter dan kata, ya akan selamanya menjadi ide. Kekayaan intelektual kita nggak akan berwujud sebuah buku.

Rekomendasi

Agak sulit untuk menemukan celah buruk di buku ini. Kebetulan buku yang gue beli juga sudah edisi revisi pula, jadi udah lengkap dengan tips keterampilan menulis yang konkret. Menurut gue sih nyaris sempurna untuk penulis pemula.

Tapi buku ini nggak cuma cocok untuk orang yang ingin jadi penulis aja kok sebetulnya. Kamu yang ingin tahu proses kreatif di balik pembangunan cerita atau pengen jadi lebih rajin baca juga bisa baca. 
]]>
<![CDATA[[REVIEW BUKU] Siap-siap Ditampar 'You Do You' Karya Fellexandro Ruby]]>Tue, 31 Aug 2021 04:46:03 GMThttp://pengejacerita.com/non-fiksi/review-buku-siap-siap-ditampar-you-do-you-karya-fellexandro-ruby
Buku self-development yang penting buat anak muda, dan bisa dibilang 'gue banget'!
Pertama kali kenal buku ini adalah karena gue sekarang follow banyak banget bookstagram. Buku ini juga selalu nongkrong di rak depan Gramedia. Biasanya dua indikasi itu cukup membuat gue penasaran dengan isi sebuah buku. Sempat skeptis sih, apakah ramai karena penulisnya sendiri mas Ruby ini juga merupakan influencer ?

​Tapi ternyata bukunya emang bagus dan penting guys! Yok kita bahas satu-satu kenapanya!

Topik serius dibawa ringan aja

Intinya, buku ini ngajakin pembaca untuk mengenal diri mereka sendiri. Memang nggak ada jalan ninja untuk menuju ke sana dan ada banyak cara. Semuanya sah, tinggal cocok-cocokkan aja. Nah, buku ini menawarkan alur yang nggak mesti rigid kita ikuti. Pertama-tama, kita akan diajak ketemu dengan diri kita sendiri. Kita tipe orang yang seperti apa sih dalam menghadapi masalah, apa aja sih hal-hal yang kita nilai berharga dsb. 

Selanjutnya, kita akan diajak untuk bertemua dengan Ikigai kita. Sebenarnya konsep Ikigai ini bukan hal baru ya. Ada buku yang khusus membahas tentang ini jika kalian mau baca. Lalu kita juga diajak mendesain hidup kita sebaik mungkin. Di bab ini ada beberapa case yang konon banyak ditanyain ke Ruby lewat DM-DM di Instagramnya.

Kemudian, yang nggak kalah penting dari buku ini adalah bagaimana kita membangun 'kekayaan'. It does not literally mean money doang ya. Nanti dibuku ini bakal disebut dengan new net worth yang penting untuk dimiliki. Di bab terakhir, ada beberapa prinsip yang menurut gue juga perlu kita tahu dan kita refleksikan untuk menjadikan diri kita seseorang yang kita sukai.

Semua bab ini sebenarnya membicarakan hal serius. Seserius adanya data-data yang membuka mata dan pikiran yang tersebar di halaman-halaman bukunya. Tetapi karena memang buku ini sasarannya adalah anak muda, gaya bahasanya sangat gampang dicerna dan diserap. Nggak pakai cingcong, langsung maju ke intinya aja. Itulah yang menurut gue membuat buku ini sangat 'gue banget'. Singkat, padat, jelas berisi!

Terasa seperti rangkuman buku-buku lain

To be honest ketika membaca buku ini, aku selalu mikir oh penulisnya baca dari buku ini. Oh jadi buku ini inti konsepnya ini toh. Inti-inti dari banyak buku itulah yang dimasukkan Koh Ruby dalam buku ini. Gue nggak tahu ini sisi positif atau negatif ya. Tapi emang rasanya kayak lagi dikasih rangkuman dari banyak buku self-development gitu ditambah pengalaman pribadi dan orang-orang yang dikenal penulis. He tried to make it personal.

Bagi gue yang nggak pinter baca buku pengembangan diri macam ini, hal itu adalah nilai plus. Gue nggak perlu repot-repot baca banyak buku pengembangan diri, dan nggak perlu merangkumnya. Buku ini adalah jawaban. It's okay, there's nothing new under the sun anyway. Tapi tentu, gue juga akan mengerti kalau ada orang yang berpikir teori yang dikemukakan tidak original milik penulis sendiri. 

Rekomendasi

Buku ini menurut gue paling cocok dibaca anak sekolah yang mau lulus SMA/sederajat  dan kuliah. Agak telat sih tante-tante kek gue baca ini karena bentar lagi juga udah memasuki kepala 3. Separuh dari buku ini akan terasa cukup risky jika gue praktekkan. Tapi ya gitu, yang menampar dari buku ini, Ruby bilang buat apa baca banyak-banyak buku, ikut banyak banyak seminar kalau nggak mau praktekkan jadi mungkin gue akan yang bisa gue praktekkan sesuai usia. Hahaha

Gimana menurut kalian guys? Udah pada baca belum nih?
]]>
<![CDATA[[REVIEW BUKU] 'Imperfect' - Meira Anastasia untuk Mama Insecure]]>Sun, 04 Jul 2021 01:30:00 GMThttp://pengejacerita.com/non-fiksi/review-buku-imperfect-meira-anastasia-untuk-mama-insecure
 Ditulis dengan gaya ngobrol sama BFF (best friend forever), 'Imperfect' perlu dibaca perempuan muda yang masih terperangkap pencitraan patriarki tentang wanita di seluruh dunia.
Gue, elo dan kebanyakan cewek Indonesia mungkin punya sosial media dan tentu sering liat bagaimana #lifegoals atau #bodygoals di sana. Seringkali, apa yang kita lihat itu bikin insecure sama keadaan diri sendiri. Ngerasa kurang putih, kurang tinggi, kurang langsing, kurang cakeplah pokoknya. Apa sih yang menentukan seseorang pada posisi paling cakepnya? Likes, komen, follower?

Nah, buku ini kira-kira menceritakan kisah-kisah perjalanan pribadi Meira Anastasia untuk menerima dirinya sendiri. Sebelumnya, Meira yang merupakan istri Ernest Prakarsa, ngerasa dirinya kok nggak bisa memenuhi ekspektasi netizen sebagai istri artis. Dia merasakan body shamming. Karena kebetulan dia sendiri mengaku sensitif, cibiran netizen itu jadi ngena banget ke dia. 

Gaya bahasa Mamak Meira sangat mengalir. Rasanya, kayak lagi denger curhatan (gosip) temen sendiri yang terasa sangat dekat. Meskipun ada juga yang ngerasa kurang formal atau terlalu bebas, ya itu wajar ya namanya juga selera. Karena konsepnya adalah cerpen berbentuk jurnal, menurut gue sah-sah aja. Jujur nih, gue juga jadi terinspirasi bikin cerpen-cerpen jurnal begini jadinya. 

Yang gue suka lagi dari buku adalah adanya gambar-gambar yang lucu. Sayangnya, itu jadi makan space ya di buku ini dan kemungkinan itu juga yang membuat bukunya jadi tebal. Oh ya, buku ini juga memuat banyak halaman tutorial untuk workout. Jadi rasanya, kurang item ceritanya. Untung, aku dapat buku ini dari tukar buku di BookHive, jadi nggak ikut ngerasain mahalnya.

Dari perubahan tubuh sampai perubahan mindset

She talks about real things, real feelings. Di buku ini, Meira bahas ranjang segala! Tapi tentu yang dibahas termasuk perubahan tubuh yang dia alami setelah melahirkan which is sangat relatable banget buat gue yang ngerasa nggak ok badannya setelah melahirkan. Gelambir dan perubahan kulit itu sangat mempengaruhi kepercayaan diri lho terutama di depan pasangan. Walaupun pasangan kita mungkin menerima apa adanya, siapa sih istri yang nggak ingin terlihat ok di depan suami? Langsung kena mental itu kalau body berubah, apalagi ada saja 'oknum' yang nyinyir.

Oleh karena itu, gue senang banget ketika buku ini membahas perubahan mindset yang seharusnya dimiliki semua orang, terutama cewek yang masih menjadi obyek di mata dunia. Kita harus tahu kapan saatnya melakukan perubahan pada diri sendiri dan untuk apa perubahan itu. Mamak Meira said:
But, never (I repeat) never, change yourself to please other people!
Lha tadi katanya mau nyenengin suami? Ya kalau ternyata perubahan itu baik untuk kita dan nyenengin suami, kenapa tidak!

Mengakui kacamata patriarki

Meskipun bisa dibaca cowok, jelas bahwa buku ini lebih cocok dibaca cewek. Lebih utama lagi untuk cewek-cewek yang #lifegoals dan #bodygoals-nya masih kurang realistis karena ngikutin penggambaran hidup sempurna di Instagram. Well, nggak salah sih lo set body goals yang tinggi. But once again, ingat tujuannya. 

Mamak Meira dalam buku ini mengakui bahwa dunia sekarang emang udah maju dalam melihat peran wanita, tapi ya belum maju-maju amat. Perempuan masih jadi obyek yang dilihat dan dituntut memiliki "bentuk" tertentu. Kadang yang menjadikan perempuan itu obyek bahkan bukan laki-laki, tetapi sesama mereka sendiri. Sedih ya, tapi gue sepakat banget tentang hal ini. Lebih sedihnya lagi karena udah dibicarain berulang kali tapi masih belum banyak berubah. Masih aja ada mbak-mbak yang ngeliat kita dari ujung kepala sampai ujung kaki. Masih ada aja yang kaget kalau suami ikutan cuci piring di rumah. Padahal kodrat wanita itu cuma 3; hamil, melahirkan dan menyusui (macak alias dandan itu bukan kodrat cewek lho!).

Pada akhirnya, tujuan ditulisnya buku ini gue rasa adalah untuk menunjukkan bahwa lo nggak sendirian. Ada orang lain di luar sana yang ngerasa selalu kurang, dihakimi, dinilai, dituntut, dan lagi struggling untuk bertahan! Jadi yok, bisa yok hidup sehat dan jadi versi terbaik dari diri sendiri. 

Rekomendasi

Seperti yang sudah gue sebut di atas, buku ini cocok buat cewek yang masih belum bisa menerima diri sendiri terutama karena masalah fisik. Buku ini ngajak pembaca untuk lebih berpikiran positif dan mau mengubah diri dengan mindset dan gaya hidup sehat. 

​Jadi, lo tertarik baca buku ini juga nggak?
]]>
<![CDATA[[REVIEW BUKU] Belajar Hypnobirthing dari Buku '#BebasTakut Hamil dan Melahirkan']]>Wed, 17 Feb 2021 03:25:18 GMThttp://pengejacerita.com/non-fiksi/review-buku-belajar-hypnobirthing-dari-buku-bebastakut-hamil-dan-melahirkan
Apakah kamu calon ibu muda yang lagi ketar ketir karena takut sakitnya melahirkan? Sepertinya buku ini cocok buat kamu.
Menjadi ibu baru membuat perasaan bercampur antara takut tapi juga bersemangat. Semangat karena akan ada anggota keluarga baru dan mainan baru. Namun, siapa sih yang nggak pernah denger kalau melahirkan itu menyakitkan, bahkan banyak juga cerita-cerita ngeri yang bilang melahirkan itu rasanya seperti meregang nyawa. Makanya, sejak kecil kita nggak boleh durhaka sama Mama. Ya kan?

Nah, sejak hamil dan ketakutan akan melahirkan gue mencari-cari informasi sebanyak-banyaknya dong biar nanti lahiran nyaman, no drama, no trauma. Setelah mencari-cari di berbagai ecommerce, akhirnya memilih ke toko buku aja dan ketemulah buku yang ditulis Bidan Yesie Aprilia ini. 

Bahasa Ringan dan Mudah Dimengerti

Bagi mamah muda yang awam dengan istilah-istilah dan tahapan kehamilan, buku ini memberikan gambaran yang sangat jelas terkait kehamilan. Bude, begitu Bidan Yesie akrab dipanggil, menjelaskan apa-apa aja sih yang akan kita alami selama hamil hingga melahirkan, bahkan fase-fase melahirkan yang sepertinya hanya diketahui oleh bidan dan dokter aja. Gue nggak pernah denger temen-temen gue yang pernah hamil pernah menjelaskan teori-teori kehamilan dan melahirkan sejelas di buku ini. 


Membahas Hypnobirthing

 Okey dari judul gue udah sebut-sebut Hypnobirthing, jadi itu apa?

Hypnobirthing adalah metode yang menggunakan self-hypnosis (hipnotis diri sendiri) dan teknik relaksasi untuk membantu calon ibu merasa siap serta mengurangi persepsi akan ketakutan, kecemasan atau tegang, dan rasa sakit saat melahirkan. Terlepas dari kontroversi self-hypnosis itu ada atau nggak, intinya, calon ibu diajak untuk mengubah persepsi sakit dan cemas saat melahirkan agar proses melahirkan itu sendiri tidak sesakit yang banyak dibicarakan sehingga tidak menimbulkan trauma bagi calon ibu.

Buku '#BebasTakut Hamil dan Melahirkan' ini membahas mulai dari filosofi, cara implementasi dan juga persepsi yang cukup detail untuk dipahami bumil. Yang gue pelajari, tempat melahirkan (rumah sakit, klinik bersalin atau rumah) atau cara melahirkan (operasi caesar atau per vaginam) bisa saja menggunakan teknik gentle birth alias hypnobirthing.  

Hamil dan melahirkan sendiri dilihat sebagai fenomena ajaib yang alami dialami oleh wanita. Jika wanita zaman dulu dapat melahirkan banyak anak tanpa banyak intervensi dari rumah sakit atau medis, harusnya bumil zaman now tidak perlu terlalu khawatir asal sudah mengupayakan segalanya demi kesehatan diri dan bayinya. 

Hal itu membuat gue sebagai calon ibu menjadi lebih tenang dan percaya diri sih. Asal kita udah olahraga, menjaga pola makan, menghindari pantangan orang hamil, dan berdoa, insyaallah akan lancar. (Doakan gue guys!)

Rekomendasi

Gue merekomendasikan buku ini dibaca cewek-cewek maupun cowok yang udah siap hamil dan melahirkan bayi. To be honest, gue menandai halaman-halaman yang perlu dibaca dan dibuka-buka lagi oleh suami yang menjadi pendamping saat hamil dan nantinya saat melahirkan. Begitu juga dengan halaman-halaman yang perlu gue rujuk ketika gue sedang mengalami tahapan tertentu. 
]]>
<![CDATA[[Review Buku] Hari-Hari Bumil yang Menghibur Gundah Gulana Calon Mama Muda]]>Thu, 24 Dec 2020 17:00:00 GMThttp://pengejacerita.com/non-fiksi/review-buku-hari-hari-bumil-yang-menghibur-gundah-gulana-calon-mama-muda
Mendengar kabar bahwa kita hamil adalah berita yang menggembirakan ya. Namun, bagi wanita yang baru hamil pertama kali, pasti ada ketakutan yang menggelayuti karena belum punya pengalaman sama sekali.

Kasih kabar menyenangkan dulu

Kabar menyenangkan itu datang hanya sebulan lewat beberapa hari sejak gue menikah. Gue menikah di Agustus 2020. September-nya aku langsung telat mens dan hasil test-pack ternyata dua garis pink (ternyata nggak biru). Waktu itu gue takjub banget bahwa ternyata gue ini bisa hamil. Ternyata benar-benar akan mengalami keajaiban melahirkan manusia lain di dunia.

Etapi setelah merenungi fakta itu beberapa saat, gue sedikit tercenung. Apa ya yang bakal gue alami selama hamil dan melahirkan nanti? Pasti akan gendut, sakit, nggak nyaman, bahkan mungkin meninggal saat melahirkan.

Semua pikiran itu membuat gue mengalami stres dan sakit-sakitan di awal kehamilan. Gue kena reading slump parah juga mungkin hampir di 4 bulan pertama setelah menikah. Namun akhirnya, gue mencoba mencari buku tentang kehamilan yang konon bisa memberikan pengetahuan tentang cara meminimalisir trauma saat kehamilan dan melahirkan. Saat itulah gue ketemu buku karya Zhou Yueyue ini.

Ringan dan lucu

Gue bisa bilang, buku ini adalah salah satu buku yang mengangkat kutukan reading slump di awal kehamilan gue. Buku ini memang nggak menceritakan tentang cara menghilangkan trauma hamil dan melahirkan, tetapi Zhou berkisah tentang pengalaman pertamanya hamil dan ternyata sangat seru!

Banyak pertanyaan dan pengalaman Zhou yang sama seperti pengalaman gue. Mulai dari mood-swing sampai bentuk badan dan performa kerja yang acak kadut karena pengaruh hormon. Selain itu, Zhou sedikit banyak memberikan gambar kira-kira apa yang akan gue alami di bulan-bulan berikutnya. Jadi, gue bisa siap-siap.

Buku ini menyenangkan dibaca juga berkat ilustrasi yang digambar Zhou. Sebenarnya gambar dan penceritaanya lebih mirip ke komik ketimbang novel ya. Tetapi Zhou juga menyelipkan beberapa foto asli yang dia ambil ke dalam buku ini. Dari buku akhirnya gue ketularan energi positif bahwa hamil yang hanya 9 bulan ini adalah momen yang harus dinikmati setiap detik dan keindahannya. Gue juga terinspirasi untuk membuat jurnal kehamilan yang sama, tapi mungkin nanti perlu cari penggambar ya biar bisa buat buku yang menarik seperti ini.

Cowok atau suamimu juga perlu baca

Sejak menikah apalagi punya anak, kita gak akan bisa berkompromi tentang apapun sendiri. Apalagi soal hamil, lo harus bener-bener duduk sama pasangan untuk membicarakan persoalan itu. Tapi kalian nggak akan bisa ngobrol jika yang punya pengetahuan tentang hamil dan melahirkan cuma lo doang. Makanya, buku ini menurut gue juga akan fun dibaca oleh pasangan kamu. Anggap saja sebagai bacaan ringan saat kalian merencanakan si kecil ya bund. 

Dalam buku ini, Zhou menjelaskan juga kok apa yang dilakukan suaminya ketika dia hamil. Ada tindakan suaminya yang so sweet dan patut dicontoh pasanganmu, tetapi ada juga yang keliru. Jadi, kalian bisa belajar dari kisah pasangan ini dan lebih siap jika nanti hamil.

Rekomendasi

Buku ini akan sangat cocok untuk dibaca calon mama muda seperti gue yang masih gagal paham dengan situasi dan kondisi kehamilan apalagi melahirkan. Tapi seperti saran gue di atas, pasangan yang mau menikah atau punya anak bisa juga baca buku ini untuk have fun.

Cuma untuk kekurangannya, buku ini dibanderol dengan harga yang lumayan untuk ukuran buku yang habis dalam 1-2 kali duduk. Kabar baiknya, bumil (ibu hamil) bisa menengok lagi halaman-halamannya untuk melihat kira-kira apa yang bakal terjadi di trimester berikutnya atau saat akan melahirkan.

Ada yang udah baca belum? Coba share pendapat di kolom komentar ya biar kita bisa diskusi.
]]>
<![CDATA[[REVIEW BUKU] Baca'Recehan Bahasa' Biar Nggak Ngomong Receh Mulu]]>Fri, 14 Aug 2020 03:45:06 GMThttp://pengejacerita.com/non-fiksi/review-buku-bacarecehan-bahasa-biar-nggak-ngomong-receh-mulu
Bahasa Indonesia baku ternyata nggak harus kaku kayak kanebo asal kamu tahu cara memakainya!
Orang Indonesia sebagian besar saat ini udah bisa berbahasa Indonesia dengan baik, terutama generasi milenial yang emang sejak lahir udah ada TV dan radio bahkan internet. Meski begitu, faktanya ujian nasional Bahasa Indonesia jarang banget ada yang dapat nilai sempurna.

Menurut gue Bahasa Indonesia punya ragam bahasa yang sangat berbeda dari bahasa percakapan dan bahasa tulisnya. Plus, kebanyakan orang menganggap enteng Bahasa Indonesia dan jarang mempelajari dan mematuhi kaidahnya dengan baik karena toh mereka bisa berkomunikasi dengan baik dengan pengetahuan di lingkungan penutur asli. 

Pengguna bahasa ini baru kelimpungan ketika harus menulis skripsi, membuat jurnal ilmiah, menulis berita atau tulisan lainnya yang bersifat lebih formal. Karena nggak terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia yang baku atau sesuai kaidah (grammar), kamu bisa dianggap kurang berpendidikan lho! Sepertinya, itulah alasan Ivan Lanin dan penerbit Qanita meluncurkan buku berjudul "Recehan Bahasa".  Seperti apa isinya?

Membahasa kesalahan receh yang sering terjadi

Sebelum membahas isinya, kamu perlu tahu bahwa format buku ini nggak bertel-tele dalam menjelaskan fenomena dalam Bahasa Indonesia. Ketika membahas beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh penutur Bahasa Indonesia, Uda Ivan langsung menunjukkan penggunaan kata yang benar, konteksnya dan ditambah ilustrasinya. 

Contohnya, banyak banget nih orang yang suka menggunakan kata "merubah". Banyak orang mengira kata itu berasal dari kata dasar "ubah" dan artinya sesuatu/seseorang telah memiliki kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Padahal "merubah" berasal dari kata "rubah" yang artinya berubah menjadi rubah. Kalau yang ingin disampaikan adalah perbedaan kondisi, maka kata yang tepat dari "ubah" adalah "mengubah". Misalnya, 'Kamu telah mengubah kain jelek menjadi gaun yang cantik". Masih banyak lagi contoh kesalahan umum yang dibahas di buku ini. 

Menurut gue, yang kayak gini-gini ini penting banget diketahui semua orang sih. Sejujurnya, gue suka gatel juga baca tulisan orang yang salah meletakkan "di", ada juga yang nggak pakai titik kalau nulis alias bablas aja. Tapi karena gue kurang hobi menyerca tulisan orang, gue hanya akan menyarankan orang baca buku ini. Mungkin juga sambil mengayunkan buku pelajaran Bahasa Indonesia.

Membahas bahasa kekinian

Kalau kamu perhatiin, milenial emang paling jago bikin bahasa baru. Mulai dari suka pakai singkatan seperti OTW, TTDJ, IMHO dan sebagainya sampai akronim seperti baper, cemen, gaptek, mager dan lainnya. Selama ini gue kira nggak ada padanan untuk bahasa-bahasa gaul ini dan mereka nggak pernah masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia. Well, ternyata gue salah.

Dari buku ini gue belajar bahwa setiap kata dalam Bahasa Indonesia juga punya asal muasal dan menariknya Uda Ivan juga sedikit menyentuh sejarah itu. Buku ini juga membahas padanan bahasa gaul itu just in case teman-teman mau pakai ragam bahasa yang lebih baku atau formal. Sebab, seperti yang gue bilang tadi, ragam bahasa percakapan dan tulis sangat jauh sampai-sampai orang seperti punya kepribadian yang berbeda ketika menggunakan ragam bahasa yang berbeda. 

Rekomendasi

"Recehan Bahasa" barangkali adalah buku non-fiksi yang gue baca dalam rentang waktu paling cepat yakni sekitar 3 hari. Namun, gue yakin bakal sering membolak-balik lagi halamannya begitu gue mulai menulis lebih sering lagi.

Buku ini memang seringan itu. Bisa kamu baca sambil bales WhatsApp, scroll Instagram atau nongkrong dengan setengah hati di depan TV. Pastikan aja otak kamu scanning bahwa ada poin-poin penting yang disampaikan Uda Ivan dalam buku ini. Nanti ketika butuh, kamu bisa kembali dan menelusuri lebih dalam.

Buku ini cocok untuk segala usia mulai dari anak SD sampai yang sudah mahir menulis sekalipun. Saat peluncurannya, gue dengar sendiri bahwa Dee Lestari (iya penulis favorit gue) juga masih menemukan kesalahan dalam tulisannya dan masih bisa belajar dari buku ini. Yah, apalagi gue yang hanya remahan rengginang.

Kekurangan dari buku ini adalah harganya cukup mahal yakni di rentang Rp70ribuan, tergantung kamu belinya di mana. Satu hal lagi yang kurang gue suka adalah warna kertas di dalamnya yang abu-abu. 
]]>
<![CDATA[[Review Buku] Apakah ‘Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat’ termasuk Clickbait?]]>Wed, 27 May 2020 17:00:00 GMThttp://pengejacerita.com/non-fiksi/review-buku-apakah-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat-termasuk-clickbait
Buku ini boleh booming, tapi it doesn’t really speak to me.
​Judulnya sangat menjanjikan dan sepertinya cocok untuk mencari pembenaran atas sikap bodo amat gue pada kebanyakan hal. Alih-alih mendapatkan alasan yang pas untuk ‘not giving a f*ck’, sebetulnya buku ini menurut gue menawarkan konsep yang tidak jauh dari ajaran Stoa dan Buddha. Tapi lo harus tahu ada alasan mengapa buku ini mungkin cocok buat lo.

Judul, Clickbait?

Buat lo yang nggak tahu clickbait, terminologi itu digunakan untuk mendeskripsikan judul (umumnya artikel online) yang dibombastiskan sehingga mampu merangsang emosi seseorang untuk mengeklik tautan artikel. Tujuannya, tentu saja pageviews yang sekarang sudah jadi mata uang para blogger. Seems very relevant to the author of this book? yep I know.

Sayangnya, judul clickbait biasanya membawa isi yang mengecewakan pembacanya. Well, karena judulnya dibombastiskan pastinya isinya sebetulnya biasa aja atau justru berita kemarin sore yang ditulis ulang demi click.

Dari segi judul dan bahasa, Mark Manson sudah tidak perlu diragukan lagi punya ciri khas yang menjadi kekuatan dari ‘The Subtle Art of Not Giving a F*ck”. Cara menulisnya sangat lugas, mengalir, dipandang lucu oleh sebagian orang (tapi B aja menurut gue, mungkin karena terjemahannya) dan nyaris tanpa sensor. Tapi gue ingatkan bahwa beberapa orang di Goodreads bahkan ada yang merasa bahasanya seksis, sombong, pamer, bahkan rasis.
​Ini adalah cara yang tidak biasa untuk menyampaikan “konsep nasihat” yang biasanya dibawa oleh buku-buku self-help. Oleh karena itu, buku ini berhak mendapatkan tepuk tangan dari segi itu.

Gaya bahasa itu menurut gue tidak hanya akan membuat buku ini jadi bacaan ringan, tetapi terkadang juga marah-marah. You see how much he wrote F word, right? Gue yang awalnya tenang, nggak berniat untuk melemparkan piring pada siapapun jadi ikutan terbakar. Dan dampak ini saudara-saudaraku, rupanya memang secara teori dibutuhkan oleh orang yang sedang mengalami depresi.

Salah satu teman gue di Instagram dengan baik hati memberikan penjelasan tentang depresi yang dilaluinya dan bagaimana buku ini telah menuntunnya melewati masa sulit itu. Menurut teman gue, yang merujuk pada buku “Levels of Energy : Frederick E Dodson”, marah adalah emosi yang paling dekat dengan depresi (di saat orang udah bodo amat dengan semua hal alias apati).

Mungkin, sekali lagi mungkin (karena gue nggak mau sotoy), Manson sengaja membuat pembacanya marah-marah dulu sehingga mereka bisa menyalurkan depresinya dan kemudian menggunakan emosi itu untuk mulai peduli pada apa-apa yang penting.

Jadi Apakah Buku Ini Clickbait?

​Gue salah banget baca buku ini setelah membaca Filosofi Teras (iReview S016 | Filosofi Teras). Sebab, hampir sepanjang membaca buku ini, gue selalu ngerasa, “yah ini mah gue juga udah tahu”. Tapi mungkin buku ini bisa jadi gerbang nyentrik orang yang ingin mempelajari Stoa atau Buddhism.

Filosofi Stoa pada intinya berbicara tentang kontrol diri terhadap apa-apa saja yang memang bisa dikendalikan; perasaan dan opini kita terhadap apapun. Kita diminta lebih siap untuk menghadapi apa-apa saja yang tidak bisa dikendalikan. Suatu kejadian akan menjadi pengalaman negatif atau positif, besar atau kecil, biasa atau luar biasa tergantung pada opini kita terhadap masalah tersebut. Opini itu akan mempengaruhi cara kita merespon apapun. Mereka menyebut konsep ini sebagai dikotomi kendali.

Well, inti dari ‘Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat’ adalah menjadi bodo amat dengan apapun yang tidak bisa dikendalikan. Sebaliknya, belajar mengendalikan perasaan dan opini kita terhadap masalah. Mungkin bedanya, Manson tidak menegaskan suatu kejadian sebagai hal yang netral seperti yang disampaikan Henry Manampiring.
“Kita tidak benar-benar tahu mana yang disebut pengalaman negatif dan mana yang positif.” — Mark Manson.
Selain itu, I treasure the 2 first and the last chapters. Jujur, cuma di tiga bagian itu doang gue nggak ketiduran saat baca. Dua bagian pertama penting karena Manson menggambarkan konsep bodo amatnya di sana, dan sudah cukup jelas. Pada bagian terakhir, ada cerita tentang kematian yang menurut gue cukup dalam dan belum pernah gue alami, jadi itu cukup membuka mata pada konsep yang ternyata Buddhism.

Sayangnya di bagian-bagian lain, isinya adalah cerita-cerita tentang pengalaman orang lain atau tokoh terkenal dunia yang sukses dari keterpurukan. Manson memasukkan kisah-kisah itu untuk mendukung konsepnya yang dia jelaskan berulang ulang. Tapi, setelah gue pikir-pikir sepertinya semua buku self help memang begitu! Itulah kenapa selama ini gue jarang baca buku self-help dan selalu butuh waktu setengah tahun untuk selesai satu buku aja!

So, jawaban dari pertanyaan apakah buku ini clickbait sangat bergantung pada kebutuhan dan pemahaman lo pada konsep-konsep yang gue jabarin di atas.

Rekomendasi

​Definisi bodo amat yang gue temukan di buku ini seperti menampar orang-orang naif yang ingin peduli pada apapun dan selalu berkata iya. Manson berkata, bodo amatlah pada hal-hal yang berada di luar prioritasmu dan lakukan apapun (bodo amat bagaimana caranya) sampai prioritasmu terpenuhi.

So, mungkin buku ini cocok untuk young adult yang belum memahami konsep bertanggung jawab. Buku ini bisa jadi hadiah ulang tahun ke-20 yang diulurkan sambil berkata, “welcome to the jungle!”.

Selain itu, buku ini sangat gue rekomendasikan untuk dibaca orang yang sedang depresi dan nggak masalah dengan gaya bahasa dirty talk. Semoga buku ini mampu memantik emosi lo lagi.
]]>
<![CDATA[[Review Buku] ‘Filosofi Teras’, Buku Wajib Dibaca di Tengah Physical Distancing]]>Wed, 15 Apr 2020 17:00:00 GMThttp://pengejacerita.com/non-fiksi/review-buku-filosofi-teras-buku-wajib-dibaca-di-tengah-physical-distancing
Sassy banget ‘Filosofi Teras’ karya Henri Manampiring. Meski buku ini berbicara tentang filsafat, tapi gaya penulisannya yang santai dan kekinian membuat gue nggak ngantuk membacanya. Plus, buku ini sangat relevan untuk dibaca di saat-saat stressful seperti saat ini.

Gaya Bahasa yang Kekinian

Oke, gue dulu sempat belajar filsafat budaya dikiiiiiiiiiit. Ya, karena gue dulu kuliah sastra Inggris jadi mau nggak mau dapet mata kuliah filsafat. Pada dasarnya, filsafat membahas tentang cara pemikiran kritis dan konsep hidup manusia. Dalam konteks gue dulu, filsafat ilmu budaya membahas bagaimana budaya-budaya lahir di tengah manusia-manusia. That was a splendid subject, eye opening and very fun to talk about. But I thought I didn’t need more of it, thanks!

Hal inilah yang membuat gue agak ogah membaca buku-buku filsafat lainnya, termasuk melirik “Filosofi Teras” saat pertama kali melihatnya. Tapi pada suatu ketika, gue nggak sengaja nemu Ted Talk Henry Manampiring yang ngobrolin tentang bukunya hanya dalam 15 menit. Ternyata, cara penyampaiannya sangat ringan dan fun.

Setelah itu, gue lihat sampel online-nya di Gramedia E-book. Ternyata memang fun dan gue sanggup melahapnya sampai akhir. Menurut gue, membaca buku ini beneran terasa seperti ngobrol sama kakak yang sedang menunjukkan cara bijak menghadapi peliknya hidup. Meneguk nasihat itu bisa lebih mudah karena kakak ini usianya sepertinya nggak terlalu jauh dari gue. Henry juga menggunakan contoh-contoh yang setiap hari gue alami sendiri. Jadi sangat relevan buat gue!

Menurut gue buku-buku seperti ini penting banget agar filsafat lebih membumi, terutama ke anak-anak muda yang udah fobia mendengar kalimat filsafat. Filsafat itu penting dipahami anak-anak muda bahkan yang nggak kuliah supaya bisa berpikir kritis, mendalam dan mampu membuat keputusan-keputusan yang lebih bernalar dan bijak dalam hidupnya.

Buku yang Paling Relevan untuk Physical Distancing

​Punya temen yang ngamuk-ngamuk atau lebih sensitif selama physical distancing? Gue ada, banyak. Bahkan gue sendiri juga merasakan lebih sensitif karena memang dalam keadaan terperangkap di dalam rumah.

Buku ini relevan karena berisi ajaran-ajaran teori Stoa yang netral dari segi agama, ras, bangsa, suku, pilihan politik dan lainnya. Filosofi ini dapat melindungi kita dari emosi-emosi negatif, baik karena faktor eksternal dan internal. Tanpa emosi negatif, kita akan bisa hidup damai dalam keadaan apapun bahkan dipenjara betulan sekalipun! Mental kita jadi lebih sehat dan kuat.

Teori Stoa, secara singkat, telah membantu gue untuk lebih mantap mengatakan bahwa emosi negatif itu bisa kendalikan. Meski awalnya semua orang punya emosi yang keluar secara otomatis, pada akhirnya ternyata emosi-emosi tersebut bisa dikendalikan (dengan latihan rutin yang konsisten). Dengan begitu, kita juga nggak akan menghabiskan tenaga untuk marah, sedih, stres, kecewa. Kita bisa lebih fokus untuk memperbaiki situasi dan mencari solusi agar keadaan menjadi lebih sesuai dengan ekspektasi kita.

Gue sendiri pernah mengalami “musibah” dan berkesempatan menjajal filosofi Stoa di situasi ini. Beberapa pekan lalu, Work From Home sudah dimulai dan gue bekerja dari rumah, meeting dari rumah, berkomunitas pun dari rumah. Baru sehari meeting saat WFH, ternyata handphone gue jatuh dari lemari dan LCD-nya pecah. Harga menggantinya sudah tentu mahal bahkan bisa sampai sepertiga harga ponsel.

Normalnya, gue akan membenci diri karena nggak berhati-hati meletakkan handphone. Tanggal lagi tua, rezeki lagi seret, tapi handphone harus tetap bisa beroperasi untuk urusan pekerjaan dan berkomunikasi dengan orang lain. Karena gue udah baca buku ini, gue ikhlaskan saja kejadian ini dan belajar bahwa di masa depan gue harus meletakkan hape gue dengan lebih baik. Untuk uang, pinjam pacar dan besoknya pergi ke service center. Anggap saja kurang amal dan kesempatan belajar bersabar.

Nggak cuma itu aja, buku ini juga menyampaikan pandangan Marcus Aurelius dan tokoh Stoa lainnya mengenai berbagai isu seperti menjadi orang tua hingga kematian. Buku ini dimaksudkan sebagai pengantar bagi orang yang belum pernah mendengar filosofi Stoa atau bahkan filsafat. Henry sendiri mengakui bahwa dirinya sebagai orang awam yang merasakan manfaat filosofi ini.

​Rekomendasi

Gue merokemendasikan buku ini untuk semua orang. Entah yang mau belajar filosofi, yang baru belajar baca buku non-fiksi, yang punya masalah manajemen emosi, atau orang yang simply butuh bacaan ringan aja. Believe me, yang paling berat dari buku ini adalah bagian Kata Pengantarnya doang. Nggak dibaca juga nggak apa-apa.

Gue sendiri membaca buku ini dalam versi digital dan nikmat banget pengalamannya, reading bit by bit, nggak beda sama baca berita online selama 3–5 menit di setiap sub babnya.
]]>
<![CDATA[[Review Buku] ‘Becoming’ oleh Michelle Obama: Soal Cinta, Wanita, dan Takhta]]>Sat, 04 Apr 2020 17:00:00 GMThttp://pengejacerita.com/non-fiksi/review-buku-becoming-oleh-michelle-obama-soal-cinta-wanita-dan-takhta
Bukan cuma pria, wanita juga bisa berbicara mengenai cinta, wanita dan takhta.
​Ibu Negara adalah jenis pekerjaan yang sepertinya akan senantiasa melekat pada seseorang bernama Michelle Robinson Obama. Pertama dan sejauh ini, satu-satunya First Lady of United States of America (FLOTUS) dari President of United States of America (POTUS) 2009–2017 yang berkulit hitam. Michelle menulis memoar, jika nggak bisa disebut sebagai petunjuk untuk menjadi sukses sebagai seorang wanita. Dan uniknya, meski ditulis oleh seseorang yang lekat dengan embel-embel politik, buku ini mengalir seperti cerita fiksi yang ringan dan mendebarkan.

​Soal Cinta

Michelle dan Barack Obama adalah dua orang yang memimpin Amerika tepat di masa gue mulai memperhatikan dan ngeh politik dunia. Nggak terlalu ngeh banget sih, but at least, I tried to read some news. Dan gue langsung dibuat jatuh cinta oleh pasangan ini.

Michelle menggambarkan dirinya lahir di tengah keluarga yang hangat di Kawasan Selatan, Chicago. Dia menggambarkan bahwa setiap orang di keluarganya menyumbang cinta yang besar padanya hingga Michelle memiliki rasa aman untuk bermimpi dan mengejar mimpinya itu. Meski tak mudah, Michelle muda berusaha menemukan dirinya menjadi seseorang yang selalu mencari makna dari apapun yang diupayakannya.

Dia pernah berkarir sebagai seorang pengacara andal dengan fasilitas dan gaji mentereng. Di sanalah dia bertemu Barack yang ternyata berniat menjadi rekan musim panas di firma hukum tempat Michelle bekerja. Segera saja mereka cocok mengobrol dan saling memahami satu sama lain meski awalnya Michelle mengaku tak pernah membayangkan dirinya akan menjalin hubungan dengan Barack.

Tetapi Michelle akhirnya terpukau juga oleh kualitas Barack yang disebutnya sudah utuh sebagai seorang individu. Cinta mereka berdua akhirnya membuat Michelle terusik dengan keutuhan dirinya, hingga dia ingin mencari apa yang membuatnya merasa telah melakukan sesuatu yang bermakna. Dari kebermaknaan itu, dia ingin merasa utuh dan bahagia juga.

Lebih dari itu, pasangan FLOTUS dan POTUS ke-44 ini juga mengalami pertengkaran seperti pasangan menikah lainnya. Pernah struggling dengan finansial, pernah kesulitan untuk melahirkan seorang anak, dan sering mengkhawatirkan perkembangan anak-anak mereka. Tetapi satu hal yang selalu dipegang Michelle sebagai seorang Ibu Negara; percaya pada suaminya. Menurut gue, percaya adalah salah satu wujud cinta seorang wanita yang tak bernilai.
“Aku setujua (Barack mencalonkan diri) karena aku mencintainya dan memiliki keyakinan akan apa yang dapat dilakukannya,” — Michelle sebelum suaminya mencalonkan diri sebagai Kandidat Presiden AS.

Soal Wanita dan Takhta

Michelle adalah Ibu Negara yang modern dan berbeda. Dia mungkin satu-satunya yang berasal dari keluarga pekerja. Sebelum menjadi istri seorang presiden, Michelle adalah ibu pekerja dan wanita karir; dia punya suaranya sendiri dan selalu ingin suaranya memberi dampak perbaikan. Itu yang gue tangkap dari upayanya menulis buku ini. Dia ingin menyuarakan tentang mendidik anak-anak, tentang pentingnya makan makanan sehat, tentang wanita dan tentang politik tentu saja.

Sejak kecil, Michelle nggak takut bermimpi dan mimpinya kadangkala melebihi teman-teman wanitanya. Dia menjadi siswi yang baik hingga bisa masuk ke sekolah mentereng sejak SMA dan kuliah. Dia juga membangun karir yang mapan di firma hukum. Dan dia menunjukkan bahwa untuk meraih semua itu, perempuan apalagi jika memiliki kulit berwarna, harus bekerja dua kali lipat lebih keras.

Michelle sama seperti gue, sebetulnya nggak terlalu suka punya embel-embel yang disangkut-pautkan dengan pasangan, misalnya istri presiden, pasangan presiden dan lain sebagainya. Itu karena dia dan gue sama-sama punya status sendiri dan bahkan punya definisi sendiri yang kami perjuangkan. Dan rasa-rasanya selalu disangkut pautkan dengan seorang pria yang punya jabatan publik kok menutupi segala perjuangan itu. Tapi tentu Michelle nggak punya pilihan lain selain menerima itu.

Meski sudah jadi Ibu Negara pun, Michelle ternyata juga pernah diragukan dan meragu. Orang lebih fokus pada apa-apa yang kurang subtantif seperti fasyen, gaya rambut dan lain sebagainya. Well, bagi Michelle tentu itu penting karena dia simbol Amerika saat itu. But well, seharusnya apa yang dia pakai tidak menjadi lebih penting dari apa yang dia sampaikan dengan lantang.
“Apakah aku cukup baik? Ya aku cukup baik.” — kata Michelle untuk membangun kepercayaan dirinya.
Ibu Negara juga tidak memiliki pakem tugas yang jelas, bahkan kalau kalian jadi Ibu Negara Amerika sepertinya menggelar beberapa pesta tahunan dan tradisi-tradisi di Gedung Putih rasanya sudah cukup. Tapi sekali lagi di buku ini Michelle ingin menunjukkan bahwa wanita dengan caranya sendiri bisa membuat sesuatu terjadi, tanpa harus melalui pembuatan undang-undang atau peraturan rumit lainnya.

Selain itu, gue juga menangkap bahwa sebagai Ibu Negara dia masih seorang ibu bagi kedua anaknya yaitu Malia dan Sasha. Dia masih tetap mencoba menyeimbangkan kehidupannya sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai Ibu Negara. Dia harus melakukan banyak pengorbanan demi karir suaminya, demi anak-anaknya dan demi negara.
“Setiap kali Barack dan aku meninggalkan kantornya, kami merasa sedikit lebih terhubung. Aku mulai melihat bahwa ada cara-cara agar aku bisa lebih bahagia dan bahwa Barack tidak perlu berhenti dari politik untuk mengambil pekerjaan dari jam 9–6,” tulis Michelle setelah mendatang konselor pernikahan.

Alasan Buku Ini Berbeda

Diceritakan secara personal dan menyentuh. Seperti yang gue bilang, rasanya elo akan kenal dekat dengan Michelle. Seolah-olah, dia ibu RT di kampung lo atau bu Lurah. Apa yang dia rasakan diceritakan dengan gaya kepenulisan seperti bercerita pada teman. Meski konsekuensinya, buku ini jadi cukup tebal yaitu 557 halaman.

Caranya agak berbeda dengan Sheryl Sandberg dengan ‘Lean In’. Sheryl lebih suka bermain data dan praktik di lapangan ketika dia menjalani karir sebagai seorang wanita yang meniti karir di tengah pekerjaan “maskulin”; dari Harvard, Google hingga Facebook. ‘Lean In’ lebih concise dan bisa dibaca per bagian.

Sementara itu, ‘Becoming’ mungkin punya bagian-bagian di dalam bukunya, namun nggak mungkin meloncat karena Michelle menuliskannya berdasarkan runutan waktu dan menyelipkan nilai-nilai yang dia pelajari di sela-sela ceritanya. Barangkali seperti nasihat yang dia ingin bagi ke seorang teman atau anak-anaknya. Dari situlah kadang gue ikut merasa sedih ketika dia gagal, ikut bangga ketika dia berhasil. Michelle tipikal orang yang bisa menggambarkan perasaan dan pikirannya secara akurat dan hati-hati.

Kendati demikian, pada dasarnya gue memang nggak terlalu menyukai buku-buku biografi, sehingga menyelesaikan satu buku aja butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Dua buku biografi ini gue beli karena murni mengidolakan dan penasaran dengan jalan hidup mereka. Dan dua-duanya menawarkan cerita yang luar biasa jika elo mau bersabar sampai titik terakhirnya.

Rekomendasi

Becoming akan gue rekomendasikan pada orang-orang yang memiliki ketertarikan pada daya juang hidup; bagaimana bertahan di situasi yang tidak enak dan tidak punya banyak pilihan, untuk mereka yang ingin tahu seberapa tinggi seseorang bisa bermimpi dan sebagaimana besar pekerjaan mereka untuk menggapai mimpi itu.

Buku ini juga menjaga akurasi mengenai sejarah dan peristiwa penting selama masa jabatan Obama di Amerika pada 2009–2017, jadi mungkin akan cocok bagi penyuka politik luar negeri atau sejarah. Michelle juga membagikan pandangan bagaimana demokrasi di Amerika dijalankan dan bagaimana membujuk jutaan pemilih untuk memilih mereka. Dan menariknya juga membagikan fakta-fakta unik mengenai hidup di dalam Gedung Putih.

Yang terakhir dan pasti, gue rekomendasikan buku ini untuk wanita dan perempuan yang ingin bisa berdiri sendiri di atas kaki mereka. Mereka yang ingin hidupnya bisa lebih sedikit seimbang antara, keluarga, karir dan diri sendiri.
]]>
<![CDATA[A Guide to Educate ‘Strawberry Gener4tion' by Rhenald Kasali]]>Sun, 12 Jan 2020 17:00:00 GMThttp://pengejacerita.com/non-fiksi/a-guide-to-educate-strawberry-gener4tion-by-rhenald-kasali
Cantik tapi lembek. Bagaimana seharusnya generasi milenial diperlakukan?

Itulah perspektif Prof. Rhenald Kasali soal generasi milenial yang dalam waktu dekat akan memenuhi pasar tenaga kerja, kursi-kursi kepemimpinan baik di sektor swasta maupun publik. Gue termasuk dalam generasi ini.

Honestly, gue udah mendengar banyak banget upaya banyak pihak untuk deal with millenials (generasi usia 18-35 tahun). Mereka punya banyak kelebihan yang nggak dimiliki generasi sebelumnya, misalnya melek teknologi, sangat cair, egaliter, dsb. Tapi nggak sedikit juga generasi milenial yang bikin pusing generasi generasi sebelumnya.

Prof Kasali dengan buku kumpulan esainya berjudul ‘Strawberry Gener4tion’ mencoba memberikan beberapa ‘wejangan’ kepada pendidik dan juga orang tua tentang bagaimana menghadapi si milenial.

Kebiasan Unik Soekarno

​Gue pernah baca bahwa Soekarno suka banget membaca, bahkan tetap membaca meski lagi di toilet (baca boker). Terlepas cerita itu benar atau salah, gue adalah orang yang sangat menikmati waktu di toilet karena terinspirasi cerita Soekarno itu. Gue suka berkontlempasi, mencari ide atau membaca pas lagi poop.

Berkat adanya handphone yang resisten terhadap air, gue udah nggak baca tulisan di balik sabun/sampo lagi pas poop. I try to read e-book instead. And this book sungguh sangat cocok dibaca saat itu. Kenapa?

Gue, sama seperti generasi milenial lainnya, suka ide yang disampaikan tanpa bertele-tele. Singkat, padat, pada intinya. Prof Kasali punya cara penyampaian yang begitu lihai untuk menyajikan ide njilemet yang sebenarnya ndakik-ndakik alias advanced (karena mereferensikan banyak hasil penelitian ilmiah), tapi pembawaan kalimatnya begitu membumi sehingga rasanya nggak jauh beda dengan baca tulisan jurnalis-jurnalis piawai kita di Kompas atau CNN.

Gue paham juga sih, Prof Kasali emang punya slot mengisi kolom sendiri di media massa. Pasti dari situ sang dosen mengasah kepiawaiannya. Oleh karena itu, satu bab buku ini bisa dipahami dalam 3-10 menit dengan mudah.

Membahas Isu Kekinian

​Prof Kasali nggak mungkin golongan generasi milenial, tapi gue sangat tertarik dengan pembahasan di buku ini karena topik dan istilah yang digunakan sangat relate sama milenial. In short, concern gue dikupas sama Pak Prof di buku ini.

Udah lama gue tertarik ke dunia pendidikan, bahkan sempat ingin mengambil double degree karena pengen jadi guru. Tapi saat mulai menyentuh mata kuliah yang berhubungan dengan pendidikan, gue sadar bahwa ada hal hal administratif, cara penilaian dan cara pembelajaran yang gue rasa lebih ke membebani gue sebagai guru dan murid gue sebagai pembelajar. Tergusurlah passion menjadi pendidik itu dari mimpi gue.

Rupanya pengetahuan terbatas gue saat baru semester 5 itu sebetulnya dirasakan oleh guru guru kita bahkan sampai hari ini. Banyak teman gue yang berprofesi sebagai guru lebih lelah mengerjakan tugas tugas administrasi sekolah ketimbang memikirkan cara menarik untuk menyampaikan konsep ilmu, mengajari cara belajar, apalagi mendidik tentang kehidupan. Dari situ, gue sangat menghargai guru yang masih menyempatkan diri memberikan pengajaran hidup di tengah ketatnya materi yang harus disampaikan.

Gue juga sepakat bahwa terkadang, kita, orangtua, atau teman di sekitar kita ingin menjaga diri kita terlalu ketat sampai tidak ada celah untuk salah atau jatuh. Padahal bagi gue, kita semua perlu membangun budaya bahwa salah itu wajar.

“Dan, inovasi-inovasi besar hanya muncul jika kita memberikan ruang yang cukup untuk kegagalan. Seperti kata Thomas Alva Edison, ‘Saya tidak gagal, malah saya sudah menemukan 10.000 ribu cara, tetapi belum sepenuhnya berhasil’.”

​Rekomendasi

In recap, buku ini bakal cocok banget dibaca oleh orang yang suka baca buah-buah ide secara instan tapi bukan cetek. Gue juga nggak sungkan merekomendasikan buku ini untuk pembaca awal, atau pembaca buku non-fiksi pemula karena jumlah halamannya cuma sampai 296.

Yang utama dan perlu banget baca menurut gue adalah guru-guru yang suka puyeng menghadapi ulah milenial. Orang tua pun menurut gue wajib baca buku ini supaya anak anak mereka nggak rapuh meski cantik seperti buah strawberry.
]]>