<![CDATA[Pengeja Cerita - Fiksi]]>Sun, 19 Dec 2021 23:37:50 +0700Weebly<![CDATA[[REVIEW NOVEL] Mathilda: Novel Mary Shelley yang Penuh Aura Suram]]>Sat, 18 Dec 2021 09:30:00 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-mathilda-novel-mary-shelley-yang-penuh-aura-suram
Kisah tragis seorang gadis yang dicintai dan hanya mengenal cinta dari ayahnya sendiri. Cinta ini bukanlah cinta yang lo pernah bayangkan.

Sinopsis

Kita akan berkenalan dengan seorang gadis yang menceritakan kisahnya melalui surat kepada sahabatnya. Gadis bernama Mathilda ini sekarat walaupun usianya baru 20 tahun lebih sedikit. Kita akan membaca perjalanan hidupnya, bahkan bagaimana ibu dan ayahnya bertemu sebelum dia dilahirkan. 

Pada intinya, Mathilda muda tidak mendapatkan kasih sayang selayaknya anak-anak dan remaja seusianya baik dari kedua orang tuanya maupun keluarga. Ibunya meninggal beberapa hari setelah melahirkan dirinya. Ayahnya yang tak sanggup menanggung perih kematian ibunya pergi menitipkan Mathilda pada saudara perempunnya. Saudara perempuan ini, bibi Mathilda, adalah seseorang yang dingin. Tidak menikah dan tidak memiliki keturunan. Dia wanita karir yang sibuk dengan kehidupannya sendiri meskipun tidak membenci Mathilda juga.

Suatu hari saat usia Mathilda menginjak 16 tahun, ayahnya pulang untuk bertemu dengannya. Ratapan Mathilda akan perihnya hidup tanpa kasih sayang berubah menjadi surga saat dia bertemu ayahnya. Namun tentu kisah bahagia itu tidak lama. Cinta yang semula murni antara ayah-anak itu tercemar kasih terlarang. 

 Bergaya Autobiografi dan Gothic

Ini bukanlah novel Mary Shelley pertama yang gue baca. Sebelumnya sudah ada Frankestein yang sukses membuat gue sangat terpukau pada kemampuan Shelley dalam memaknai hubungan ciptaan dan penciptanya. Gaya gothic-nya selalu mampu membuat gue bergidik saking sedih dan terharunya. Bahkan, dulu gue bisa bikin esai dari perkembangan cerita Frankenstein dan dapat nilai straight A dari dosen phsyco-linguistic! Dari sana gue tahu bahwa kekuatan Shelley memang caranya mendeskripsikan perasaan putus asa, dibenci, diisolasi, dibiarkan mati atau bahkan diburu. 

Namun yang gue sangka adalah novel ini juga masih membawa aura suram yang sama kuatnya. Kata-katanya mungkin lebih berbunga-bunga mengingat Mathilda sendiri adalah seorang Lady yang berpendidikan dan suka membaca. Saking banyak bunganya, entah mengapa gue merasa itu adalah racauan panjang Shelley akan keadaan mentalnya sendiri yang sedang gamang dan sakit which would be very relevant to the people who feel the same. Karena sedang nggak ingin murung, gue mending skip these long mourning pages.

Tema yang ngeri-ngeri sedap

Salah satu hal yang membuat novel ini begitu terkenal di masanya adalah karena skandal yang diceritakan Shelley di dalamnya. Rumor has it Shelley sedang menceritakan kisahnya sendiri yang terpisah dengan ayahnya sendiri. Dia juga diduga mengalami depresi berat setelah kehilangan anaknya. Oleh karena itu, buku ini tidak dipublikasikan  ketika Shelley sendiri masih hidup karena keluarganya khawatir orang akan berpikir kisah ini fiksi tentang hubungan inces sungguhan. 

Selain itu, novel ini juga mendapat banyak pujian karena ceritanya menunjukkan seorang wanita yang dapat dan bisa memilih keputusan sendiri dalam hidupnya. Jalan cerita woman-centris begini belum musim pada masanya dirilis yaitu pada tahun 1 Januari 1959. 

Rekomendasi

Buku ini tidak gue rekomendasi bagi orang yang sedang dalam keadaan murung, sedih, atau pecinta cerita dengan alur cepat. Tapi buat lo yang suka cerita tragis penuh air mata dan menyukai kata-kata puitis, buku ini cocok banget buat kalian!
]]>
<![CDATA[[REVIEW NOVEL] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas]]>Wed, 15 Dec 2021 08:30:31 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-seperti-dendam-rindu-harus-dibayar-tuntas
Sebuah kisah yang mengikuti kemauan penis Ajo Kawir. Agak abstrak dan berbeda dari novel kekinian.

Sinopsis

Ajo Kawir adalah seorang bocah yang nggak sengaja melihat adegan pemerkosaan perempuan gila oleh dua laki-laki. Keduanya diduga polisi yang sedang birahi. Sejak menyaksikan adegan tak senonoh itu, bahkan memasukkan penisnya ke dalam lubang perempuan gila bernama Rona Merah, Ajo Kawir nggak bisa ngaceng lagi.

Karena nggak bisa ngaceng, Ajo Kawir muda melampiaskan birahinya pada perkelahian. Dari salah satu perkelahiannya yang dahsyat, Ajo bertemu petarung hebat yang akhirnya justru menjadi cintanya. Gadis petarung itu namanya Iteung. Namun perjalanan cinta dan anti-heroisme Ajo Kawir baru dimulai sejak dia bertemu Iteung. 

Gaya Penceritaan yang Beda

Bukan Eka Kurniawan namanya jika jalan cerita yang ditulis nggak kompleks, nggak bikin geleng-geleng kepala saking absurd-nya. Eka bagi gue adalah penulis yang jahil pada pembacanya, selalu bikin penasaran, ketawa, tetapi juga sering membuat bingung. 

Seperti Dendam (sama halnya dengan Cantik Itu Luka) berani berbicara secara lugas tentang adegan seks, pertarungan yang brutal demi maskulinitas,  dan cinta. Kalau baca di sinopsis, sebenarnya ini hanyalah cerita seorang anak laki-laki yang ingin bisa ngaceng lagi karena dia jatuh cinta. Tapi perjalanan ke sana bisa macam-macam caranya, dan Ajo Kawir mencoba jalan yang keras dan konyol.

Absurditas Eka ini menurut gue sangat menghibur dan sesekali yes bikin tegang juga. Alurnya maju mundur nggak tertebak. Bahkan kita sendiri juga nggak akan bisa menebak ada apa di halaman selanjutnya. Semuanya baru akan terlihat gamblang pada akhir cerita.

Filmnya?

Kebetulan udah nonton filmnya. Menurut gue, film Seperti Dendam sangat dapet tema tahun 80-90an-nya. Dari efek kameranya-pun udah amat mewakili. Gaya penyampaian dialognya apalagi ditambah wardrobe dan make up gaya dulunya sejenak membuat gue lupa ada film kayak End Game atau Harry Potter. Inget zaman Suzanna dan Barry Prima masih berjaya. 

Other than that, yang namanya adaptasi dari novel sudah pasti sedikit banyaknya membawa alur yang sama. Film karya sutradara Edwin ini mewujudkan imajinasi gue ke dalam layar besar dan membuat gue lebih mengerti bagian-bagian cerita yang sebelumnya gue nggak ngerti atau kelewatan pas baca. 
Tapi kalau dibilang seruan mana, film atau bukunya, jelas novelnya lebih juara. Adegan ranjang, balapan truk, pertarungan, dan pembunuhan di novel terasa lebih brutal dan keren aja.

Rekomendasi

Buku ini jelas nggak cocok untuk bocah di bawah 21 tahun. Tentu karena bahasa perkontolan dan aksi barbar bertebaran di mana-mana dalam buku ini. But once you are 21 yo and older, nggak ada salahnya mencoba membaca buku ini. Dijamin lo bakal ngerasain cerita dan narasi yang beda di novel ini.
]]>
<![CDATA[Review Milk and Honey'': Antologi Puisi atau  Pemikiran?]]>Sat, 06 Nov 2021 15:30:00 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-milk-and-honey-antologi-puisi-atau-pemikiran
Pembaca terbagi menjadi dua, menyebutnya kumpulan puisi dan pemikiran. Yang manakah sebenarnya?
Gue baca Milk and Honey sekitar dua tahun lalu karena buku bekasnya kebetulan dijual temen. Karena gue sangat suka sampulnya dan cukup penasaran untuk baca buku yang direkomendasikan Maudy Ayunda ini, akhirnya gue beli dan gue baca. 

Overall, buku ini dibagi dalam empat bagian. The Hurting. The Loving. The Breaking. The Healing. Pada setiap bagian, kita akan ketemu sosok yang menceritakan perasaannya penuh dengan emosi dalam untaian kata-kata apa adanya. Buku ini bisa disebut penuh dengan semangat feminisme karena memberdayakan perempuan yang pernah patah hati, pernah diperkosa, pernah ditindas untuk bangkit dan mandiri. Pertanyaannya, apakah buku ini berisi puisi atau kumpulan pemikiran?

Puisi itu...

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Puisi atau sajak merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima serta penyusunan larik dan bait. Biasanya puisi berisi ungkapan penulis mengenai emosi, pengalaman maupun kesan yang kemudian dituliskan dengan bahasa yang baik sehingga dapat berima dan enak untuk dibaca.

Nah dari pengertian itu saja, kita sebenernya bisa memeriksa apakah Milk and Honey ini bentuknya puisi atau pemikiran dalam bentuk prosa (yang diberi enter setiap beberapa kata dalam kasus buku ini). Untuk itu, kita bisa ambil salah satu tulisan yang paling gue suka di buku ini. 
you pinned 
my legs to
the ground
with your feet
and demanded
​i stand up
Dari salah satu tulisan ini kita bisa lihat nggak ada irima atau ritme di sana. Namun harus diakui, cara penulisan dari tulisan itu seperti puisi yang sepotong sepotong. Coba deh bandingin sama puisi oleh Robert Frost ini:  
Some say the world will end in fire,
Some say in ice.
From what I've tasted of desire
I hold with those who favor fire.
But if it had to perish twice,
I think I know enough of hate
To know that for destruction ice
Is also great
And would suffice.

Puisi kontemporer kah?

Perlu juga lo tahu bahwa ketika lo mencari puisi kontemporer berbahasa Inggris di internet, tulisan seperti Rupi Kaur ini pasti banyak. Mereka nggak lagi terikat rima atau irama. Bisa jadi cara penulisan puisi di barat sekarang emang udah bergeser dari pakemnya di masa lalu. 

Di Indonesia sendiri, tulisan seperti ini lebih banyak disebut pembaca puisi sebagai kumpulan pemikiran. Kalau gue sih lebih menyebut buku Rupi Kaur ini sebagai kumpulan prosa ya karena isinya memang bercerita dengan kalimat lugas. Bedanya, buku ini dikemas dengan cantik dan Instagramable aja seperti puisi.  Prosa sendiri menurut KBBI adalah bentuk karangan bebas yang tidak terikat seperti puisi. 

Bentuk karya prosa seperti ini sedang tren negara kita dan biasanya harganya juga tinggi karena memang menarik difoto dan dipakai nyindir orang di sosial media. Gue sih nggak ada masalah ya orang mau menyampaikan ekspresinya dengan bentuk seperti apa. Tapi jelas akan jadi perdebatan ketika orang ingin mengelompokkan tulisan Rupi Kaur ke dalam jenis sastra apa.

Pendapat gue tentang Milk and Honey

Gue bukan pembaca puisi yang baik, alias emang jarang baca puisi karena buku puisi itu mahal. Jujur, gue beli buku kumpulan puisi itu bisa dihitung pakai jari. Kalau bukan karena bukunya/ penulisnya terkenal ya karena konsep bukunya menarik seperti 'Perjamuan Khong Guan' misalnya. Jadi, gue senang ketika baca buku ini. 

Makna dari tulisan di buku ini nggak ribet, dalam atau ambigu seperti puisi-puisi yang sebelumnya gue baca. Jadi ketika baca, ya rasanya kayak baca novel yang penuh perasaan aja. Oleh karena itu, gue sangat bisa relate dengan rasa-rasa patah hati yang ditulis Rupi Kaur. Gue juga jadi bisa bersimpati dengan mereka yang mengalami pemerkosaan atau disakiti oleh laki-laki. Intinya menurut gue, Rupi Kaur mampu memilih kata yang kuat untuk mengekspresikan perasaannya. Cuma ya, mungkin bentuknya bukan puisi.

Buku ini juga perlu dipuji karena doodle-nya yang kekinian. Menurut gue, Rupi Kaur adalah penulis pertama yang menggunakan goresan cara menggambar seperti itu. Sekarang gambar macam yang dia buat mungkin sudah pasaran, tapi dulunya bener-bener membuat buku ini terlihat cantik.

Rekomendasi

Menurut gue, buku ini cocok bagi elo yang pengen koleksi buku cantik. Isi di dalam buku ini juga cocok buat elo yang nggak terlalu berharap baca buku puisi yang dalam-dalam. Rupi pakai Bahasa Inggris yang lugas dan membahas isu feminisme dengan cukup baik. Saran gue, karena ada konten eksplisit di dalamnya, buku ini baiknya diberikan ke remaja 18+. 

​Enjoy.
]]>
<![CDATA[[REVIEW NOVEL] Laut Bercerita: Membaca Fiksi Sejarah Kelam Indonesia]]>Sat, 30 Oct 2021 12:37:50 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-laut-bercerita-membaca-fiksi-sejarah-kelam-indonesia
Mengingat masa kelam penghilangan orang secara paksa di Indonesia melalui fiksi Leila S. Chudori.
'Laut Bercerita' adalah novel kedua Leila S. Chudori yang gue baca. Sekali lagi, Leila membuat gue tenggelam dalam untaian kata-kata di dalam novelnya yang kali ini begitu mengaduk emosi.

Mungkin ini bukan pertama kalinya lo denger atau baca review tentang 'Laut Bercerita'. Novel ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Biru Laut Wibisana yang menjadi salah satu korban penghilangan orang secara paksa pada rentang 1997-1998. Laut digambarkan sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada, jurusan Sastra Inggris (sama kek gue), pecinta buku, masak dan makanan. Laut terlibat dalam gerakan mahasiswa yang aktif memprotes rezim Orde Baru sehingga organisasinya dilarang pemerinta dan dia sendiri dianggap sebagai aktivis radikal. Meski begitu, Laut juga punya pacar bernama Anjani dan keluarga selalu hangat.  Laut yang meninggal setelah mengalami penyiksaan dan pengkhianatan bercerita kepada adiknya, Asmara Jati, dari kedalaman laut di tempat hanya ikan dan makhluk dasar Bumi yang mengetahuinya. Dan seperti yang digambarkan banyak orang, novel ini benar-benar nikmat untuk dibaca. Kenapa?

Penuh Sejarah

Leila mengungkap bahwa buku ini adalah fiksi yang terinspirasi dari tulisan salah satu korban penculikan di masa Orde Baru, Nezar Patria. Dia lalu mewawancarai orang-orang yang berhubungan dengan kasus tersebut dan mendatangi tempat-tempat yang mungkin berhubungan dengan cerita ini. Kasus-kasus yang dicertakan di novel ini juga sungguh terjadi sehingga kita jadi punya gambaran bagaimana kondisi kebatinan dari sudut pandang orang-orang pertama. 

Sejujurnya, sejarah tentang kerusuhan Mei 98 dan penculikan terhadap para aktivis yang sampai sekarang tidak kembali dan nggak jelas di mana rimbanya itu mungkin sering kita dengar. Tetapi sayangnya, setelah aksi Kamisan yang mungkin sudah mencapai 700-an itu belum membuahkan hasil seperti yang diinginkan para keluarga korban atau korban sendiri. Kadang gue sendiri juga masih nggak mengerti apa yang dituntut?

Berkat baca buku ini, gue jadi mengulik kembali sudah sampai di mana penyelesaian 12 kasus HAM berat di Indonesia. Gue juga jadi lebih paham apa yang menjadi ganjalan berat dalam penyelesaian kasus-kasus tersebut. Namun, gue rasa terlepas apapun upaya pemerintah menyelesaikan kasus atau bagaimana frustasinya para korban dan keluarga tentang nasib kasus ini, kita sebagai pembaca muda perlu tahu bahwa ada sejarah kelam ini di negara kita. Dengan begitu kita sebagai warga negara, bisa mengisi kebebasan membaca, kebebasan berekspresi dan bebas-bebas lainnya dengan lebih mawas diri. Don't take it for granted because people were dying just because they read the books we can buy now in the bookstore.

Bahasa dengan emosi yang kuat

Ternyata satu lagi kesamaan gue dan Biru Laut adalah kami sama-sama menyukai jalinan kata yang indah di dalam kalimat. Tetapi nggak cuma indah, Leila dan Dee Lestar (dua penulis Indonesia terfav gue), sangat fasih mengisi kalimat mereka dengan emosi yang mengikat.

Tiap gue update progress #SejamMembaca buku ini, pasti ada aja orang yang bilang novel ini sedih banget lho. Siap-siap nangis. Dan benar saja. Novel ini selalu berhasil membuat dada gue sesak dan putus asa sampai menitikan air mata. 

Gue merasakan keputusuasaan Biru Laut yang ingin memiliki Indonesia yang lebih terbuka, lebih demokratis. Tetapi dia sudah ada di dalam laut sana dan nggak ada seorang pun yang tahu dia di sana. Lain lagi perasaan Asmara Jati yang merasa putus asa karena abangnya telah membuat Ayah dan Ibu mereka hidup dalam sebuah kepompong realitas yang mereka buat demi percaya bahwa Biru Laut akan pulang. 

Selain kisah tentang perjuangan dan kehangatan keluarga, Laut juga bercerita tentang persahabatannya yang erat, kisah cinta, bahkan masak memasak dan juga pengkhianatan. Gue bisa menduga dari awal siapa pengkhianat itu. Meski begitu ya, tetap sakit mengetahui protagonis kita merasa begitu tersakiti.

Bakal ada film panjangnya

Sebelum baca novel ini, gue udah sempat nonton film pendeknya. Gue kenalan sama Biru Laut di muka Reza Rahadian (yang menurutku mukanya kurang muda dan Jawa), Alex Perazon diperankan Tanta Ginting (yang menurutku kurang ganteng LOL), Sunu yang dimainkan Ade Firman Hakim (ini pas banget), Ayushita sebagai Asmara Jati (cucok kalau ini) dan Dian Sastro sebagai Anjani (hmmm Mba Disas pantes aja mau peranin jadi Kinan atau Anjani). 

Film itu seperti aba-aba untuk ngasih tahu pembaca bahwa buku ini akan berdarah-darah, akan penuh sedih tetapi juga hangat keluarga. Pas pemutaran film itu, kabarnya akan dibuat versi panjangnya. Tetapi kita masih belum apakah bakal pakai pemain yang sama atau berubah. Aku nggak sabar (untuk nangis di bioskop)!

Rekomendasi

Terlepas dari indahnya novel ini dan betapa gue merekomendasikan buku ini untuk anak-anak muda (probably 18 up), masih ada beberapa part yang ingin sedikit gue kritisi. 

Sepertinya sih ada penyuntingan yang belum sempurna karena gue masih menemukan beberapa kata yang berulang di kalimat yang sama walaupun letaknnya nggak jejeran. Kedua, gue merasa cerita dari sudut pandang Asmara Jati bisa sedikit dimampatkan karena entah kenapa gue merasa bagian Mara jadi kayak agak dipanjang-panjangkan. 

But again overall, I like this book so much! Mungkin selanjutnya gue akan baca 9 dari Nadira. Ada yang udah baca?
]]>
<![CDATA[[Review Cerpen] Sumur - Eka Kurniawan: Kisah tentang Cinta dan Sumber Kehidupan]]>Thu, 07 Oct 2021 06:14:15 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-cerpen-sumur-eka-kurniawan-kisah-tentang-cinta-dan-sumber-kehidupan
Sumur: bukan hanya sumber air dan kehidupan, tetapi sumber harapan, tempat cinta itu tumbuh dan terkubur. 
Buku yang hanya punya satu cerpen ini ditulis Eka Kurniawan pada 2019.  Cerita ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di antologi Tales of Two Planets dengan judul “The Well”, diterbitkan oleh Penguin Books pada 2020. Bukunya tipis, selesai dalam sekali duduk. Cocok untuk #SejamMembaca. Bukunya dibungkus amplop tipis yang seirama dengan sampul di dalamnya, jadi terlihat manis dan penuh misteri. Ya, misterius karena nggak ada blurb apapun di bungkusnya. Namun terlepas dari itu semua, apa saja yang menarik dari cerpen ini?

Sinopsis dan Pesan untuk Menjaga Lingkungan

Kisah ini menceritakan Toyib dan Siti yang sudah berkawan sejak kecil. Mereka adalah tetangga di sebuah kampung yang dulunya subur. Namun karena hujan semakin jarang, air semakin sulit, Ayah mereka terlibat percekcokan sehingga cinta yang tumbuh di antara keduanya pun ikut terputus seiring dengan matinya salah satu ayah mereka. 

Dari kisah ini, kita akan melihat pentingnya mata air (sumur) untuk kehidupan manusia. Jangankan untuk  saling mencintai, air penting untuk menjaga kehidupan dan harapan. Semakin miskinnya suatu daerah karena nggak ada air, maka akan semakin temperamental orang yang tinggal di sana. Alam kalau nggak dijaga juga bisa membawa petaka, makanya salah satu tokoh bisa sampai terenggut nyawanya karena amukan alam.  

Menurut gue, cerita tentang alam ini jadi menarik karena dimasukkan dalam tragedi cinta Siti dan Toyib yang menyentuh dan datang bertubi-tubi. Orang zaman sekarang mungkin nggak banyak yang percaya bahwa alam itu bisa ngamuk lho, atau perubahan iklim itu bisa berdampak serius lho pada kehidupan kita. Tapi ketika disampaikan melalui kisah Siti dan Toyib, orang bisa melihat sendiri contoh hubungan yang bisa kandas karena perubahan alam. 

Kendati demikian menurut gue, bagian paling gongnya ada di bagian ending. Eka memberikan ending yang tidak banyak penjelasan tapi sangat twisty.

Rekomendasi

Cerpen ini cukup sederhana. Cocok untuk teman-teman yang ingin berkenalan dengan karya Eka Kurniawan. Meskipun pendek hanya 51 halaman, tapi kita tetap bisa merenungi pesannya. 
]]>
<![CDATA[[Review Novel] Burning Heat - Akiyoshi Rikako: Kisah Cinta dengan Bumbu Dendam]]>Thu, 07 Oct 2021 00:09:10 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-burning-heat-akiyoshi-rikako-kisah-cinta-dengan-bumbu-dendam
Tragedi percintaan yang diceritakan dengan dendam membara sebagai penggerak cerita. 
Akhir-akhir ini, gue lagi pengen baca buku-buku dari penulis Asia yang ternyata seru-seru. Mereka biasanya punya konsep cerita yang kuat dan unik. Nah, setelah kemarin membaca novel iyamisu Minato Kanae yang super gelap, kali ini gue menyelesaikan karya Akiyoshi Rikako yang  konon juga dikategorikan dalam genre yang sama. 

Novel Iyamisu yang Menghangatkan

Sebelum baca novel ini, gue ikut beberapa diskusi tentang penulis-penulis Jepang yang menulis novel iyamisu. Akiyoshi Rikako disebut masih memberikan secercah cahaya dalam kisah yang ditulisnya. Jadi dari sana saja, gue udah nggak berekspektasi bahwa novel ini akan terlalu dark. 

Saat baca sinopsisnya, buku ini sangat menggugah. Bahkan hanya dengan dua kalimat seperti ini saja, orang pasti penasaran pengen baca:
Aku menikah dengan pembunuh suamiku. Demi menuntut keadilan.
Burning Heat bercerita tentang kehidupan seorang wanita underprivileged bernama Kawasaki Sakiko yang kehilangan suaminya, Tadatoki, awalnya karena dugaan kasus pembunuhan. Tersangka pembunuhan adalah Hideo yang merupakan seorang dokter terkenal. Namun, Hideo akhirnya tidak dipenjara karena Tadatoki dinilai penyidik terbunuh karena kecelakaan. Fakta yang dipaparkan polisi itu tidak dapat diterima oleh Sakiko. Dia ingin menyelidiki kasus ini sendiri, bahkan hingga rela menikahi Hideo.

Saat cerita bergulir, lambat laun kita bakal kenalan mengerti kenapa Sakiko ini sampai nekad melakukan penyelidikan sampai menikahi tersangka. Di buku ini ada dua kasus kecelakaan besar yang menggerakkan Sakiko hingga dia punya dendam begitu membaranya. ​Namun lambat laun, kita bakal melihat kisah cinta yang hangat semacam love-hate relationship. Plotnya dibuat maju mundur dan nggak menyimpan banyak twist, tetapi seluruh pertanyaan kita di awal buku akan terjawab dengan baik. Endingnya cukup tragis, tetapi sepertinya memang pantas diterima oleh setiap karakter.

Penokohan dan Penerjemahan

Dalam buku ini, ada tokoh sentral cerita yaitu Sakiko, Hideo dan adik Hideo yang bernama Akiko. Ketiganya yang paling sering berhubungan dengan Sakiko sebagai tokoh utama. 

Sakiko diceritakan sebagai wanita yang serba kekurangan, termasuk dari segi pendidikan pun dia hanya sekolah sampai SMA/sederajat. Begitu juga suaminya, Tadatoki, juga nggak sekolah tinggi. Hal ini membuat Sakiko kurang logis dalam membuat keputusan. Dia sering terbawa perasaan dan impulsif.

Sebaliknya, Hideo adalah seorang dokter yang terkenal dan baik hati. Meskipun penampilannya biasa saja, penuh dengan misteri dan pendiam, Hideo digambarkan sebagai sosok yang sangat mencintai istrinya. Dia lembut dan penuh kasih pada istrinya. Deskripsi tentang Hideo dari sudut pandang Sakiko memang berubah, awalnya dingin tetapi lama-lama seperti orang jatuh cinta. 

Sementara itu, Akiko adalah adik Hideo yang memiliki penyakit jantung. Akiko yang menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah sakit punya pemikiran yang sangat tajam. Dia masih punya harapan tinggi bisa bertahan hidup, bahkan mandiri. Dia jago membuat kerajinan dan juga coding. Tokoh ini sih yang menyimpan banyak twist.

Rekomendasi

Buku ini cocok buat teman-teman yang suka membaca buku misteri terutama yang suka psychological thriller ya. Walaupun berisi sebuah misteri pembunuhan, gue harus ingatkan bahwa penekanan novel iyamisu bukan di penghakiman tersangka. Namun biasanya akan lebih berfokus pada kondisi mental orang-orang yang terlibat kasus kriminal.
]]>
<![CDATA[[Review Novel] Ferris Wheel at Night : Karya Iyamisu Terbaru Minato Kanae di Indonesia]]>Fri, 24 Sep 2021 03:00:00 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-ferris-wheel-at-night-karya-iyamisu-terbaru-minato-kanae-di-indonesia
Sekali lagi, Minato Kanae kembali dengan kisah tidak mengenakkan yang tidak berfokus pada pelaku kriminal dalam novel iyamisu-nya.
Belakangan ini, novel J-lit terbitan Penerbit Haru terus naik daun. Setelah tahun lalu bisa dibilang sukses merilis novel iyamisu Minato Kanae 'Penance', tahun ini Penerbit Haru meluncurkan 'Ferris Wheel at Night' karangan penulis yang sama. Nah, apa aja yang menarik dari buku ini? Yok kita bahas satu per satu!

Kisah Keluarga Sehari-hari

Minato Kanae sebenarnya tidak pernah mengulik kasus yang masalahnya jauh dari kehidupan kita. Di kedua novel sebelumnya yang sudah rilis dalam Bahasa Indonesia, Kanae sudah menulis tentang hubungan guru-murid dan teman-teman. Kali ini, Ferris Wheel at Night bercerita tentang masalah-masalah keluarga tentu saja yang menyangkut hubungan ayah-ibu-anak, satu rumah dengan rumah yang lain, atau hubungan suami-istri. 

Ferris Wheel at Night berkisah tentang sebuah keluarga yang mengalami pembunuhan. Si korban adalah ayah, sedangkan pelakunya adalah sang ibu. Mereka memiliki tiga anak yang lahir dan dibesarkan di lingkungan perumahan elit, Bukit Hibari, namanya. Di lingkungan tersebut, keluarga ini memiliki tetangga yang ternyata terlibat saat kejadian. Misterinya adalah, apa sih motif sang ibu melakukan pembunuhan terhadap ayah?

Dari sanalah, Minato Kanae mengupas satu per satu perspektif keluarga sekitar rumah korban dan pelaku ini. Yang dikupas bukan hanya tentang kejadian saja tetapi juga bagaimana mereka memandang keluarga tersebut dan anak-anaknya. Dari kasus ini, gue melihat bahwa hampir semua orang nggak mau terlibat dalam kasus "tercela" ini, tetapi juga kepo alias pengen tahu banget apa yang sebetulnya terjadi malam itu. Dan sepertinya, pembunuhan ini memang tidak terjadi begitu saja tetapi memang ada sebab akibat dari hubungan suami-istri dan anak-orang tua yang mendorong.

Karakter Terlaknat

Oke, sebelum kita bicara tentang karakter mana yang paling bikin elus dada. Gue harus kasih tahu bahwa semua orang di dalam novel ini punya pikiran jahat dan semua pikiran itu diungkapkan secara gamblang oleh penulisnya. Itulah kenapa novel ini masuk dalam genre iyamisu. Belum ada definisi akademis tentang apa itu iyamisu, tetapi menurut penerjemah Penerbit Haru, Mas Andry Setiawan, iyamisu intinya adalah cerita yang mengulik sisi tergelap manusia. 

Now, karakter terlaknat dalam buku ini menurut gue adalah Endo Ayaka. Dia anak SMP yang menurut gue medioker banget. Dibilang pintar enggak, tapi bego juga enggak. Dia punya kekecewaan terhadap dirinya sendiri dan dilampiaskan ke Mamanya yang kebetulan membuatnya semakin hilang kepercayaan diri. Anak ini adalah definisi Maling Kundang versi Jepang. Silakan tarik nafas dan buang nafas sepanjang-panjangnya setiap membaca bagian dia.

Karakter kedua yang menurutku sangat menyebalkan adalah Endo Keisuke. Tokoh ini adalah ayah Ayaka yang luar biasa pengecut dan suka membohongi diri sendiri. Sebagai kepala keluarga, dia sering tidak berani mengambil langkah untuk menghentikan polah tingkah anaknya yang tidak tahu diuntung dan durhaka. 

Karakter terakhir yang paling bikin gue sebel dan sayangnya ada banyak di Indonesia adalah Kojima Satoko. Tokoh yang satu ini dalam bayanganku adalah wanita paruh baya yang suka ikut campur urusan orang walaupun kayanya nggak ketulungan. Karakter seperti ini sebenarnya plus minus ya. Di budaya orang Timur, orang-orang seperti ini ada karena memang kita hidup secara sosialis dan saling peduli. Tapi tentu, kalau terlalu peduli akan jadi mengganggu. 

Perbandingan dengan dua karya sebelumnya

Sejujurnya, karya yang terakhir ini agak sulit dibandingkan dengan dua karya Minato Kanae yang sudah diterbitkan di Indonesia sebelumnya. Alasannya ya karena tujuan tulisan ini agak berbeda. Dalam dua karya sebelumnya, Kanae sepertinya masih menyediakan jawaban-jawaban atas kasus yang terjadi sehingga kita bisa belajar sebab-akibat atau konsekuensi yang terjadi jika melakukan hal-hal yang terjadi dalam buku buku itu. 

Tetapi, novel Ferris Wheel at Night ini nggak seperti itu. Kita diminta untuk memutuskan sendiri apa yang ingin kita percayai dari seluruh informasi yang sudah kita terima dari semua orang yang terlibat...kecuali si pelaku. Entah ini kelebihan atau kekurangan buku ini ya. Gue sih agak geregetan dan penasaran, tapi ya sah-sah aja di mana penulis ingin meletakkan kata tamat kan. 

Rekomendasi

Buku ini sepertinya cocok untuk remaja atau yang lebih tua, sebab ada banyak kata umpatan yang sepertinya kurang baik dibaca bocah. Plus, kebanyakan tokoh dalam buku ini memang ada di usia remaja jadi mungkin mereka akan bisa lebih relate dengan situasi para tokoh muda. 

Meski begitu, para orang tua juga sangat gue rekomendasikan baca buku ini supaya anak mereka nggak jadi Malin Kundang seperti Ayaka. Overall, gue suka buku ini karena tulisan dan penerjemahannya sangat mengalir. 
]]>
<![CDATA[[Review Kumcer] Membuka Ruwetnya Ibukota Indonesia Lewat 'Cerita-Cerita Jakarta']]>Sun, 12 Sep 2021 07:50:37 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-kumcer-membuka-ruwetnya-ibukota-indonesia-lewat-cerita-cerita-jakarta
Picture
Reading with a view di Gelora Bung Karno sore-sore
Terbit pertama kali dalam Bahasa Inggris, 'Cerita-Cerita Jakarta' kini disampaikan dengan bahasa ibunya yang menggambarkan peliknya hidup di Ibukota Indonesia ini.
'Cerita-Cerita Jakarta' adalah salah satu buku yang aku tunggu-tunggu kehadirannya tahun 2021 ini. Buku ini berisi 10 cerita pendek tentang Jakarta yang ditulis oleh penulis yang berbeda-beda, tiga diantaranya udah nggak asing lagi buat aku yaitu Sabda Armandio, Yusi Avianto Pareanom, dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Selain itu, buku ini juga direkomendasikan oleh banyak bookstagram yang aku ikuti di Instagram. So, yok kita coba kupas buku ini just in case kamu lagi pengen tahu worth it atau nggak buku ini dikoleksi.

Jakarta Hari Ini, Dulu dan Nanti

Sesuai dengan judulnya, buku ini tentunya membahas masalah-masalah yang lekat dimiliki penduduk kota metropolitan ini. Sebagai salah satu penduduk Jakarta, gue harus mengakui bahwa problematika yang diangkat sangat dekat dengan gue. Misalnya permasalahan ruwetnya macet, antrean mengular, penggunaan aplikasi canggih. termasuk friends with benefit dan gelandangan. Kayaknya nggak ada kota seruwet Jakarta deh di Indonesia. 

Tapi menariknya, cerita yang disuguhkan nggak cuma tentang Jakarta saat ini lho! Cerita Sabda Armandio misalnya, mengisahkan kerusuhan Mei 1998 dari sudut pandang dua pengamen jalanan. Selain itu ada pula kisah persahabatan dua gadis Tionghoa yang terpisah masih karena peristiwa penurunan Presiden Soeharto itu. 

Nggak cuma kembali ke masa lalu, pembaca juga disuguhi kemungkinan Jakarta di masa depan jika kehidupan kita masih begini-begini saja. Maksudnya, yaaa masih buang sampah sembarangan, masih aja bangun apartemen dan jalan layang di kota yang udah mau tenggelam ini. Meskipun begitu, kita mungkin juga akan menjadi anak-anak dewasa yang membeli rumah dengan harga overpriced karena siapa sih yang nggak mau punya tanah dan rumah megah di Ibukota?

Namun seluruh pilihan dan tindakan kita di manapun dan kapanpun pasti akan membawa konsekuensi. Cerpen-cerpen ini menunjukkan kemungkinan konsekuensi yang bakal kita terima dan melihat konsekuensi yang sudah kita bayar dari kejadian masa lalu di Jakarta. 

Cerita Terfavorit sampai Ter-enggak Ngerti

Gue harus menyampaikan apresiasi gue pada Hanna Fransisca yang sudah menulis 'Aroma Terasi'. Ceritanya tentang kebusukan aroma korupsi ini sangat menghibur dan menohok, karena kebetulan banget kantor yang dikritiknya adalah kantor gue. LOL sumpah lucu banget!

Cerita berikutnya yang sangat membekas di hati gue adalah 'Buyan' karya utiuts. Sebenarnya cerita sangat pendek tapi kocak. Buyan adalah mobil tanpa pengemudi yang entah di Jakarta tahun berapa mampu beroperasi tanpa supir. Si Buyan bisa dipesan melalui aplikasi KEJAR dan nahasnya malah membawa seorang emak-emak rempong menuju Semanggi yang kala itu sudah digenangi air. Kepanikan emak-emak sungguh menggelitik.

Peringkat ketiga favorit gue adalah 'Anak-anak Dewasa' oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dan 'Matahari Tenggelam di Utara' yang ditulis Cyntha Hariadi. Agak bingung menentukan mana yang lebih gue suka karena menurut gue keduanya bener-bener bagus. Yang satu menceritakan bagaimana orang-orang generasi kita mungkin akan menyesali keputusan mereka bertahan di Jakarta dan membangun rumah bagai istana di sini. Sementara itu, cerita Cyntha sangat sedih yaitu tentang dua siswa SMA yang sama-sama orang keturunan Tionghoa. Yang satu berasal dari keluarga tajir melintir yang tinggal di perumahan super mewah, sedangkan satu lagi hidup sederhana. Begitu pecah kerusuhan tahun 1998, perbedaan kasta itu mempengaruhi hubungan mereka begitu parahnya. 

Nah yang terakhir, cerita yang paling gue nggak ngerti adalah 'Pengakuan Teater Palsu' dari Afrizal Malna. Cerita yang satu ini agak filosofis, sehingga kita mungkin butuh waktu lebih banyak untuk mencerna maksud cerita ini. Tokoh dalam cerita ini mirip-mirip temenku di jurusan sastra dulu yang kalau ngomong seolah ngalur ngidul nggak jelas. Tapi sebenarnya lagi memprotes sesuatu.

Rekomendasi

Buku ini aman untuk pembaca remaja atau yang lebih tua karena ada cerita tentang 'Rahasia tentang Kramat Tunggak' yang mungkin kurang pas dibaca anak-anak. Selebihnya, buku ini sangat cocok untuk orang yang ingin mengenal Jakarta dan segala histori dan masalahnya. Plus, covernya sangat cakep berwarna krem dengan tulisan merah dan biru. 

Selanjutnya, gue jadi pengen baca series 'Book of (Town)' yang diterjemahkan dalam Bahasa Inggris oleh Comma Press seperti buku ini. Anyway, buku ini bisa kamu dapetin di Post Santa karena kebetulan memang mereka penerbitnya. Bahkan editornya adalah couple goals gue, Maesy Ang dan Teddy W. Kusuma.

Selamat membaca!
]]>
<![CDATA[[REVIEW NOVEL]  'Pulang Pergi' - Tere Liye: Dari Jual Beli Tinju sampai Kebut-kebutan Mobil]]>Thu, 19 Aug 2021 10:35:13 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-pulang-pergi-tere-liye-dari-jual-beli-tinju-sampai-kebut-kebutan-mobil
Suka dengan film mafia dengan adegan bertempur dan kejar-kejaran dengan mobil keren? This novel is gonna be one of your best pick!
Buku action dari Tere Liye adalah salah satu genre buku yang paling menghibur kalau dibaca. Alurnya super cepat, hanya 1-7 hari dan sudah seru dari lembar-lembar pertama. Pernyataan gue ini berdasarkan pengalaman gue membaca 'Negeri di Ujung Tanduk', 'Negeri Para Bedebah', 'Pulang' dan 'Pergi'. Begitu 'Pulang Pergi' keluar, langsung banget nih penasaran dan pengen baca.

Jadi kali ini, Tere Liye masih melanjutkan kisah Bujang (a.k.a Agam, a.k.a Si Babi Hutan). This time Bujang is going to marry a girl. Meski dibangun dengan setting yang tampaknya bernuansa romantis, percayalah keromantisan ini hanya sekitar 10 persen aja dari keseluruhan cerita. Alkisah Bujang dijodohkan dengan Maria, putri penguasa shadow economy Rusia bernama Otets. Namun sebenarnya, Bujang nggak yakin dia mau menikah walaupun Maria ini sangat cantik. Di Rusia, Bujang mengajak penembak nomor 1 di dunia hitam, Salonga, dan juga bertemu Thomas.

Jika kamu belum tahu, Thomas adalah tokoh utama dari seri 'Negeri Para Bedebah'. Dia adalah seorang akuntan cerdas, ganteng, kaya, singkatnya ya sempurna gitu. Novelnya juga berisi tembak-tembakan dan adu pukul.

Namun di hari H pernikahan Bujang dan Maria, Otets malah menerima pengkhianatan yang sangat menyakitkan. Pengkhianat itu membuat Bujang dkk terus melarikan diri. Momen-momen melarikan diri itulah yang menurutku sangat seru dan kalau diimajinasikan nggak kalah sama Vincenzo dan Fast and Furious.
Picture
Saint Petersburg sebagai latar pesta pernikahan sekaligus pertempuran Bujang melawan musuh.

Nuansa yang Lebih Beragam

Yang selalu mengagumkan dari tulisan Darwis Tere Liye adalah risetnya. Kita akan dibuat percaya bahwa dunia mafia sangat nyata dan berkuasa dengan data-data yang benar-benar ada. Salah satu kejadian nyata yang disebutkan di buku ini adalah kecelakan di Chernobyl pada 1986. Kejadian itu benar-benar ada, tapi belum semua orang Indonesia tahu. Buku ini paling tidak mengulas sedikit sejarah wilayah yang sudah terpapar radiasi nuklir itu.

Apakah kejadian itu benar-benar ada hubungannya dengan para mafia? Kita tidak tahu. Tetapi selalu menarik menyimak hubungan yang dibangun Tere Liye antara kejadian-kejadian besar dunia dengan shadow economy.

Selain itu, kali ini Tere Liye juga memberikan bumbu-bumbu cinta dan persahabatan yang lebih kental. Justru nuansa keagamaannya yang tidak terlalu berasa. Mungkin karena kali ini sudah tidak dinaungi Penerbit Republika lagi. Sementara itu, adegan yang ada di dalam buku ini juga lebih sinematografis. Sangat mudah membayangkan buku ini difilmkan dan menjadi salah satu box office.

Ganti Penerbit

Tidak seperti biasanya, kali ini buku Tere Liye diterbitkan oleh Sabak Grip Nusantara. Konon, perubahan penerbit ini menyebabkan perubahan yang membuat sebagian pembaca Tere Liye kecewa. Contohnya, yang agak mengganggu gue adalah ketidakhadiran terjemahan dari Bahasa Rusia yang kebetulan sangat banyak dalam buku ini. Cuma karena gue orangnya kontekstual dalam membaca apapun, gue jarang ambil pusing ketika gue ga ngerti bahasanya. Lanjut aja. Paling artinya ini atau itu. Namun intinya, gue sangat mengerti bahwa kekurangan ini agak menyebalkan memang.

Ada juga yang mengeluhkan font dan ketebalan buku. So far itu nggak terlalu ganggu sih kalau buat gue. Selain itu, ada juga yang menemukan inkonsistensi bahasa White yang biasanya kerap menjawab 'Aye aye captain', sekarang menjadi lebih lugas. Memang benar secara karakter, White jadi tidak seperti di dua buku sebelumnya yang sangat kental kemarinirannya. Hal ini konon karena ada penulis kedua yang membantu Tere Liye. Tapi balik lagi, itu nggak merusak cerita kalau bagi gue.

Rekomendasi

Bagian yang paling mudah dalam menulis review ini adalah rekomendasi. Gue rekomendasikan buku ini untuk siapa aja. Buku ini aman dibaca semua umur karena entertaining, heart pounding and mind-opening. 
]]>
<![CDATA[[REVIEW NOVEL] Memilih Petualangan Sepatu Ajaib Sendiri dalam 'Gentayangan' karya Intan Paramaditha]]>Sat, 14 Aug 2021 15:30:00 GMThttp://pengejacerita.com/fiksi/review-novel-memilih-petualangan-sepatu-ajaib-sendiri-dalam-gentayangan-karya-intan-paramaditha
Masih ingat kisah Goosebumps yang kita bisa pilih halaman cerita kita sendiri? Buku ini versi dewasanya yang lebih peka terhadap isu perempuan.
Gentayangan berkisah tentang seorang wanita 'Aku' atau kadang juga 'Kamu' yang memiliki sepasang sepatu merah cantik pemberian Iblis Kekasih. Kita sebagai tokoh utama wanita dalam buku ini ceritanya sangat bosan hidup di Jakarta yang sumpek tanpa pencapaian hidup yang dapat memuaskan dirinya. Akhirnya, dia pacaran dengan Iblis berharap hidupnya lebih bergairah. 

Setelah pacaran dengan Iblis Kekasih, rupanya kita masih bosan juga. Iblis kekasih yang cinta mati, kita rela memberikan apapun deh dan kita minta satu tiket untuk pergi jauh tanpa harus kembali ke rumah. Dengan berat hati, Iblis Kekasih memberikan kita sepasang sepatu yang akan mengantarkan kita ke negara-negara di dunia untuk melarikan diri dari Indonesia. Nah, kita sebagai tokoh utama bisa memilih untuk bergentayangan di New York, Berlin, Amsterdam dan seterusnya. Terserah kita mau memilih halaman berapa dan berakhir seperti apa. 

Tapi yang perlu diketahui, semua pemberian Iblis Kekasih itu juga membawa kutukan. Jadi siap-siap saja di setiap kisah pasti akan ada surprise dari sang kekasih.

Cerita lama yang dijadikan kekinian

Sampai beberapa minggu aku baca buku ini, aku nggak yakin sudah membaca semua ending atau semua halaman. Masalahnya, nggak peduli berapa kalipun aku mencoba memilih pilihan berbeda, seringkali endingnya berada di halaman yang sama. Entah aku yang bingung atau memang ceritanya diset seperti itu.

Tapi jangan sedih, dari beberapa plot yang sudah berhasil aku temukan dan tamatkan, Intan Paramaditha menyajikan kisah-kisah yang sudah familiar di dunia misalnya The Wizard of Oz, Rumpelstiltskin, pencurian patung kurcaci sampai cerita kuntilanak segala. Cerita-cerita ini seperti mendapat update yang menjadikan mereka relevan terhadap kehidupan zaman now di kota-kota besar.

Intan sepertinya memang sangat percaya bahwa 'there is nothing new under the sun' dan nggak apa-apa juga untuk me-recycle cerita folklore yang sudah sangat dikenal masyarakat. Yang paling penting adalah bagaimana cerita-cerita itu dinarasikan dengan gaya penulisnya. Sejujurnya aku emang suka cerita recycle seperti ini. And that's why I enjoyed reading this book.

Intan menambahkan unsur gothic, horor dan majik untuk nuansa penceritaannya. Ini karena Intan punya kesenangan membaca Margaret Atwood dan juga Mary Shelly. You know that Shelly who wrote Frankenstein? Yup, itulah asal kegelapan cerita di buku ini.

Isu perempuan

Meskipun kamu laki-laki, tapi kamu akan tetap menjadi perempuan dalam tokoh ini. Dari buku ini, kita akan diajak melihat dunia dari perspektif perempuan dan bagaimana konsekuensi pilihan itu. Dari plot yang aku udah baca, aku pernah jadi lesbian, janda, pelancong atau pramusaji. Kadang berakhir mati, kadang berada dalam bahaya tanpa ending yang jelas. Tapi menurutku, isu yang dibawa Intan ditutukan dengan sangat subtle sehingga nggak terasa feminismenya dibanding buku-buku bertema perempuan lainnya.

Membaca buku ini aku jadi berpikir lagi apakah perempuan itu benar-benar sebebas itu memilih jalan hidupnya. Kok, banyak yang pilihan yang berakhir nggak bahagia ya? Aku nggak tahu apakah pilihan dalam buku ini sebenarnya disajikan sebagai kebebasan sungguhan atau diset untuk menunjukkan bahwa nasib perempuan itu memang kebanyakan berakhir sama aja? Sepertinya, aku masih harus bolak-balik buku ini lebih lanjut untuk mendapatkan jawabannya.

Dalam buku ini kita akan ketemu juga dengan sosok-sosok perempuan yang exceptional. Kita akan punya kakak seorang pebisnis hijab sekaligus ibu yang sukses, wanita yang ternyata penyihir, perempuan-perempuan bersejarah sampai perempuan pembuat film. Meski menyentuh banyak hal, Intan membubuhkan satir terhadap kehidupan perempuan masa kini yang kerap dilabeli seperti halnya benda. 

Rekomendasi

Buku ini cukup tebal yaitu 490 halaman, tetapi kita mungkin nggak akan membaca semua halaman itu sekaligus. Butuh waktu yang cukup lama untuk membaca buku ini karena aku sendiri sering terjebak di alur yang sama. Oleh karena itu, pembaca yang punya target menyelesaikan sejumlah buku mungkin perlu meluangkan waktu lebih untuk bisa menikmati buku ini.

Gentayangan juga sebaiknya nggak dibaca di e-book. Pasti akan pusing bolak-balik halaman dan merunut alurnya. Pakai paperbook aja, kita masih bisa tersesat lho apalagi e-book. Aku adalah salah satu korban e-book Gentayangan yang tersesat. 
]]>