<![CDATA[Pengeja Cerita - Tips]]>Fri, 17 Sep 2021 12:59:07 +0700Weebly<![CDATA[Cara Gampang Menulis Review Buku]]>Sat, 11 Sep 2021 11:00:00 GMThttp://pengejacerita.com/tips/cara-gampang-menulis-review-buku
Anti ribet menulis ulasan buku yang menarik tuh begini lho manteman!
Menulis ulasan buku itu penting, baik buat diri kita sendiri maupun orang lain. Alasannya adalah supaya kita nggak lupa apa aja yang udah kita pelajari dari buku yang kita baca. Lalu, kita juga bisa memberikan gambaran pada orang lain tentang buku yang kita baca itu. 

Masalahnya, banyak orang yang nggak tahu mengulas buku itu caranya gimana sih? Nah, yok kita bahas satu-satu prosesnya ya!

Proses saat membaca buku

Kalau sudah berniat mengulas sebuah buku, kita sudah harus memulai bahkan saat kita membaca buku tersebut. Ambil alat penanda, boleh sticky notes, buku catatan, stabilo atau alat apapun yang membuat kita nyaman dan ingat detail di dalam buku. 

Catatan ini bisa tentang sesuatu yang mengusik kamu, yang kamu paling suka, yang baru kamu pelajari, atau bahkan sesuatu yang paling nggak kamu suka. Intinya, catatan ini dibuat agar kita ingat poin yang ingin kita paparkan nanti di dalam tulisan. 

Proses menulis ulasan

Jika sudah memahami keseluruhan isi buku, kita sudah bisa membuat ulasannya dengan komprehensif. Apa saja yang bisa kita bahas?

1. Gaya Bahasa
Ada banyak gaya bahasa yang bisa digunakan penulis. Bisa saja bahasa yang digunakan asing, sulit mengerti, formal, kasual, kekinian, dsb. Kamu bisa memberikan komentar apakah gaya bahasa yang digunakan penulis membuatmu nyaman atau tidak saat membacanya.

2. Setting
Latar cerita biasanya aku masukkan ke dalam sinopsis. Intinya adalah menceritakan ulang konsep di dalam buku mengenai tempat dan waktu. Kamu bisa komentari apakah setting ini relevan atau tidak dengan kejadian saat ini. Apakah settingnya menarik atau tidak bagimu.

3. Alur atau plot
Komponen yang satu ini juga biasanya aku masukkan ke dalam sinopsis agar pembaca ulasan kita memahami premis cerita. Pengulas buku yang jeli biasanya dapat menemukan plot hole (lubang logika) jika memang buku yang dibacanya punya alur/ plot yang kurang baik. Ada alur cepat, ada juga yang lambat. Ada yang punya konflik tajam, ada juga yang sifatnya slice of life. 

4. Karakter
Yang satu ini biasanya juga nggak boleh ketinggalan dalam mengulas buku. Kamu bisa ceritakan karakter tokoh dalam buku yang akan kamu ulas terutama di buku-buku fiksi. Bisa juga kamu komentari bagaimana karakter ini menurutmu, apakah cukup mewakili sekitarmu, apakah cukup bisa dipercaya ada tokoh seperti ini, apakah dia unik dsb. 

5. Isu
Ini adalah preferensi gue dalam menulis ulasan. Gue selalu suka bicara lebih banyak tentang isu atau key takeaways yang dibawa buku itu dari pada komponen cerita lainnya. Nggak tahu kenapa kayak justru ini lho yang mesti kita tangkap dalam membaca buku jenis apapun. Jangan sampai kita terlalu sibuk mencatat unsur-unsur intrinsik atau ekstrinsik buku, tapi lupa mengambil esensi buku tersebut.

The DOs and DON'Ts

Meskipun kelihatannya gampang, ada peraturan penting yang perlu kita tahu dalam mengulas buku. Nggak banyak, tapi semua penting.

1. Jangan spoiler!
Ingat, orang membaca ulasan kita bukan karena mereka ingin membaca ringkasan buku yang sudah kita baca. Mereka ingin tahu pendapat kita tentang konsep buku yang kita baca. Jadi, jangan sampai mengungkap terlalu banyak isi buku sehingga orang malah kehilangan minat untuk membaca buku itu sendiri. Plus, spoiler itu menghilangkan rezeki penulis buku.

2. Sampaikan opini dengan santun
Dengan semakin banyaknya buku yang kita baca, kita akan ketemu buku-buku yang kita suka dan tentu saja buku-buku yang sama sekali kita suka. Buku yang nggak cocok itu bukannya jelek, tetapi emang nggak ngena di kita. Jadi ketika memberikan ulasan, kita perlu punya mindset bahwa buku itu barangkali akan cocok dengan orang lain atau penulisnya mungkin butuh saran serta masukan agar tulisannya lebih bagus. Sampaikan opini kita dengan sopan dan santun ya. Tunjukkan apresiasi kamu tentang buku itu dan juga di mana kamu rasa ada kekurangannya.

3. Rekomendasikan
Kita perlu ingat bahwa buku selalu punya pasarnya sendiri. Nggak peduli semenye-menye apa kamu nggak suka pada sebuah buku, di luar sana pasti ada orang yang lebih suka baca buku itu dibanding bacaanmu. Jadi, jujur saja di tulisanmu bahwa genre buku tersebut kurang cocok untuk orang yang memiliki selera sepertimu. Genre ini lebih cocok untuk siapa, dengan umur berapa dan mereka yang menyukai apa. 

4. Nggak perlu bahas semua komponen
Ini hanya sekadar catatan aja sih, kita nggak perlu mengulas semua komponen cerita di atas seperti alur, karakter, setting atau gaya bahasa jika memang tidak ada yang perlu digarisbawahi dari komponen-komponen itu. 

Nah, gampang kan sebenernya? Kita nggak mungkin guys inget semua buku yang kita baca, apalagi kalau kamu tipikal orang yang baca 10 buku dalam sebulan. Dijamin bakal lupa. Makanya mulai sekarang, coba tulis ya ulasan bukumu. Tag gue di @pengejacerita kalau tulisan ini sudah membuat kamu menulis ulasanmu sendiri.
]]>
<![CDATA[Cara Mengatasi Reading Slump Akut]]>Sat, 04 Sep 2021 08:30:00 GMThttp://pengejacerita.com/tips/cara-mengatasi-reading-slump-akut
Kamu pernah nggak sih ngerasa capek banget baca? Ngerasa buku apapun yang kamu baca nggak pas aja untuk dibaca sekarang, padahal sebelumnya kamu suka suka aja baca genre itu atau karya dari penulis itu? Well, mungkin kamu lagi terserang reading slump.
Sekarang gue lagi berusaha dengan susah payah untuk menyelesaikan reading slump. Btw, apa sih reading slump?
(adj) not being able to pick up a book and read because you just can't, you just can't read. - Urban Dictionary
Ya pokoknya rasanya males aja. Entah karena book hangover (abis baca buku yang bagus banget dan nggak bisa move on), mungkin karena capek atau emang lagi jenuh. Apapun alasannya, reading slump nggak bisa dibiarkan lama-lama. Kalau sampai dibiarkan, dia akan jadi menahun dan menggerogoti kebiasaan baik dalam membaca. Jadi harus gimana?

Berikut langkah-langkah yang udah gue coba untuk mengatasi reading slump gue yang sempat berlarut-larut selama bertahun-tahun!

Sempatkan berkunjung ke toko buku 

Bagi orang yang (pernah) suka baca buku, mencium kertas baru di toko buku adalah pengalaman yang menyenangkan. Ingatkan diri kamu bahwa kamu pernah bahagia menelusuri halaman-halaman buku atau cerita-ceritanya. 

Berkunjung ke toko buku sesering mungkin juga akan meningkatkan semangat untuk baca lagi karena kamu baru beli buku baru, mungkin yang lebih update, lebih menarik atau sedang dibicarakan orang. Hasrat FOMO (Fear of Missing Out) yang biasanya dimiliki pecinta buku bisa membuncah ketika melihat sesuatu yang menarik dan baru.

Baca buku tipis 

Kalau ternyata membaca buku dengan ketebalan normal tetap tidak meredakan reading slump kamu, cobalah ambil majalah atau buku tipis yang menarik. Kamu bisa mencoba baca buku bergambar atau komik yang lebih ringan dan cepat untuk diselesaikan.

Tips ini biasanya cocok untuk kamu yang terbiasa memasang target penyelesaian buku. Harus diakui, reading slump memperlambat proses kamu menyelesaikan target jumlah buku yang ingin diselesaikan. Nah, cobalah berikan sense of finishing pada diri kamu dengan membaca buku yang ringan atau tipis saja. 

Kembali ke buku favorit

Jika cara-cara di atas tidak memberikan dampak juga, kamu bisa mencoba kembali ke buku yang membuatmu mencintai aktivitas membaca. Karena kamu sudah tahu ceritanya, kamu nggak akan terbebani untuk membaca cepat-cepat. Yang penting kamu kembali merasakan sensasi membaca buku yang menyenangkan lagi. Mungkin membaca buku itu akan mengingatkan kamu lagi alasan kamu suka membaca buku. 

Jeda

Jika semua cara di atas masih nggak mempan, kamu sepertinya perlu mengambil jeda. Coba jauhkan dulu diri kamu dari aktivitas membaca. Nikmati waktu bareng teman, keluarga atau me time aja dengan nonton atau skincare-an. 

Tapi yang namanya jeda, beda sama titik. Artinya kamu harus kembali lagi pada tenggat waktu yang harus kamu tentukan. Jika sudah sampai di tenggat waktu, coba ulangi mencoba menawarkan berbagai pilihan buku yang mungkin bisa mengembalikan hasrat membaca kamu lagi. 
]]>
<![CDATA[Alasan Bagus Kamu Harus Nulis Setiap Hari]]>Tue, 23 Jun 2020 15:27:15 GMThttp://pengejacerita.com/tips/alasan-bagus-kamu-harus-nulis-setiap-hari
Dear diary, aku nggak pengen jadi penulis tapi kenapa aku harus disuruh nulis setiap hari?
Mungkin itu ya pikiran kamu pas baca judul di atas. Tenaaaaang. Kamu nggak memang nggak harus menjadi penulis untuk menulis setiap hari. Agenda menulis tiap hari pun nggak harus seperti bikin berita atau novel. Kamu bisa menulis beberapa kalimat yang menggambarkan harimu, bagaimana perasaanmu atau apa yang sedang kamu pikirkan. 

Tapi tetap aja, kenapa harus? Ini dia alasan-alasanya mengapa itu penting menurut gue.

Pembebasan pikiran (dan perasaan)

Semua orang pasti pernah merasa penuh dengan perasaan dan pikiran tetapi nggak semua orang punya keberanian untuk mengatakannya. Ketika kita menulis, kita akan punya kesempatan untuk menuangkan apapun yang ingin kita katakan. Pasti ramai banget kan di dalam otak dan nggak akan menjadi lebih sepi dengan kita memendamnya. 

Pada dasarnya, menulis merupakan sebuah terapi untuk diri sendiri. Sebab saat menulis, kita terbebas untuk mengutarakan apapun yang kita pikirkan, rasakan dan ingin sampaikan. Untuk kamu yang sulit mengutarakan perasaan, menulis bisa jadi medium untuk menuangkan apapun tanpa takut dinilai atau salah. Biasanya setelah menulis, perasaan akan menjadi lebih tenang dan nyaman sebab unek-unek kita udah keluar. 

Menata pikiran

n Gue menulis bukan hanya untuk menenangkan hati, tetapi juga memastikan cara pikir gue benar. Kalau kamu ikut kelas Bahasa Indonesia di SD, kamu pasti tahu kan kalau bikin tulisan itu umumnya diisi oleh satu ide besar yang disokong beberapa ide-ide pendukung sehingga ide besar itu kelihatan mantap (benar, meyakinkan, mengajak dll). 

Kadang dalam mengambil keputusan sulit dan emosional, gue menulis ide-ide itu dengan kasar. Kemudian, gue akan melihat alasan yang seperti masuk akal dan benar versus alasan yang berasal dari ego atau sumber buruk lainnya. Dengan begitu, gue merasa keputusan yang gue ambil nggak sembarangan dan berdasarkan proses yang sudah matang. Gue pun jadi punya kepercayaan lebih untuk mengambil sebuah keputusan di tengah pikiran yang awalnya carut marut. 

 Refleksi diri

Menulis artinya mencatat hal-hal yang mudah dilupakan otak. Wajar ya, otak manusia memang terbatas untuk mengingat. Catatan itu akan menjadi bahan kamu merefleksi diri.

Bayangkan aja kalau kamu yang 30 tahun membaca status Facebook saat usia 17 tahun (alay banget biasanya), tapi tulisan itu menunjukkan seberapa jauh kamu sudah tumbuh dan berkembang selama ini. Kamu juga jadi bisa melihat kesalahan apa yang sudah kamu lakukan di masa lalu dan mencoba untuk tidak terjebak di lubang yang sama. 

 Terorganisir lebih baik

Gue udah pernah bilang belum ya? Gue ini sangat pelupa dan teledor. SANGAT. 

Menulis membantu gue mengingat apa yang belum gue kerjakan, apa yang gue rasakan saat disakiti seseorang, atau kenapa gue melakukan sesuatu. Menulis catatan sangat membantu pekerjaan mengorganisir diri sendiri. Ini membuat gue menjadi orang yang lebih teliti saat mengerjakan sesuatu. 

Abadi

Well, kita pasti mati. PASTI. Tapi banyak banget orang yang takut dilupakan ketika sudah meninggal, makanya pengem imortal. Contohnya? Lord Voldemort dan Nicholas Flamel. 

Karena kita nggak hidup di dunia sihir, kita bisa mengabadikan diri dengan menulis. Kamu yang suka baca pasti kenal Pramoedya Ananta Toer. Tulisan dan pikirannya tetap dibaca dan didiskusikan anak-anak zaman now meski beliau sudah lama meninggal. Tulisan adalah salah satu karya yang akan abadi.

Kalau kamu nggak pengen jadi penulis, yaaa at least, tulisanmu bisa jadi warisan untuk anak cucumu nanti. Mereka akan jadi tahu bagaimana hidup di era kamu dan belajar dari itu.

Dapat penghasilan tambahan

Kamu tahu kan kalau ngeblog itu kalau diseriusin bisa dapat duit?

Ini salah satu alasan gue memulai blog; cari duit dari hobi. Memang, untuk membuat blog dan tulisan yang bagus artinya kamu udah harus latihan dengan jam tinggi. Tapi menulis itu nggak perlu bakat, karena yang dilakukan adalah hal-hal teknis yang bisa jadi lebih baik tiap hari kamu mencoba.  Kalaupun nggak nge-blog, kamu bisa jadi freelance content writer untuk menghasilkan uang tambahan. 

Itu dia alasan-alasan yang menurut gue worth sharing supaya kamu mulai menulis. Susah, nggak tahu harus nulis apa? Coba kasih komentar aja ya.
]]>
<![CDATA[Alasan Anak Muda Kudu Berkomunitas Sukarelawan]]>Sun, 14 Jun 2020 17:00:00 GMThttp://pengejacerita.com/tips/alasan-anak-muda-kudu-berkomunitas-sukarelawan
Dari mencari teman hingga pengalaman, ada banyak banget manfaat berkomunitas yang perlu kamu alami setidaknya sekali dalam sehidupmu.
Ada banyak banget manfaat melakukan kegiatan berkomunitas, terutama komunitas sosial yang menuntut komitmenmu untuk bersukarelawan. Sebagai anak muda, kalau ditanya punya duit atau pengalaman, umumnya nggak punya. Tapi kita masih punya idealisme, mimpi, tenaga, dan waktu untuk belajar. Jadi berikut alasan kamu setidaknya wajib sekali aja gabung komunitas sukarelawan.

Mengembangkan ketertarikan

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, hidup bersama sama. Nggak mungkin di seluruh dunia ini hanya kamu seorang yang memiliki satu ketertarikan pada suatu hal. Nggak peduli seberapa segmented hobi atau ketertarikanmu, kamu akan ketemu orang yang memiliki ketertarikan yang sama.

Orang itu mungkin memiliki pengetahuan atau kemampuan yang melebihi kamu. Bergabung bersamanya akan mengembangkan ketertarikan kamu. Bayangkan jika kamu tertarik pada bisnis atau investasi, lalu kamu bergabung dengan komunitas orang-orang yang sudah lebih jago berinvestasi. Maka otomatis, kamu akan jauh lebih jago juga dalam berinvestasi. 

Keahlian kamu nggak hanya akan membantu diri kamu sendiri, tetapi juga generasi setelah kamu yang nanti pada gilirannya akan kecipratan ilmu kamu. Entah itu karena mereka anak kamu, atau junior kamu di komunitas yang ingin belajar darimu. 

Meningkatkan empati

Bagi kebanyakan orang, yang sulit dari berkomunitas adalah mengekspos diri pada orang-orang yang umumnya lebih cepat berganti keanggotaannya. Ini berbeda dari kantor atau sekolah yang pergantian orangnya lebih sedikit. Di dalam sebuah komunitas, orang yang akan menjadi teman sukarelawan kamu mungkin akan ganti tiap 3 bulan sekali atau bahkan lebih cepat, tergantung jenis komitmennya.

Berhubungan dengan orang baru berarti membuka hati dan pikiran untuk orang tersebut. Well, kita nggak harus suka sama orang lain untuk bisa kerja sama dia. Tapi, mengetahui kondisi relawan lain akan membuatmu bisa berkomunikasi dengan tepat dengannya.

Lebih dari itu jika kamu melayani program sosial, mereka yang kamu layani biasanya memiliki kondisi yang berbeda darimu. Melihat kondisi tersebut akan membuatmu lebih mawas diri dan lebih mempertimbangkan perspektif lain dalam mengambil keputusan penting dalam hidup.

Aktualisasi diri

Milenial, katanya, nggak terlalu mendewakan uang. Tapi banyak juga temen gue yang bekerja hanya demi uang lantas memilih komunitas untuk aktualisasi diri. Sebetulnya apa sih aktualisasi diri itu?

Aktualisasi diri adalah kebutuhan seseorang untuk memaksimalkan kemampuan dan potensi dalam diri. Peraturan di institusi formal tempat seseorang bekerja biasanya begitu rigid, sehingga milenial kurang bisa fleksibel mencoba kemampuannya dengan level maksimal karena kesalahan yang dia buat akan menyebabkan kerugian. Ini tentu berbeda dengan komunitas yang lebih sans dan biasanya bersifat kekeluargaan. Saat temen kamu salah, semua orang mewajarkan itu karena komunitas adalah kampus kehidupan di mana kamu bisa mencoba dan gagal. Harusnya tatanan sosial kita juga bisa begitu, tapi ya... idealisme itu tidak selalu jadi nyata.

Menciptakan dunia baru

Setiap gerakan komunitas setahu gue selalu menginginkan kondisi dunia yang lebih baik. Komunitas literasi misalnya, ingin lebih banyak orang baca, atau orang bebas membaca buku. Komunitas lingkungan ingin alam lebih terjaga, bumi tidak digunduli, sampah tidak dibuang sembarang dan lain sebagainya.

Sebagai anak muda yang masih boleh membuat kesalahan dan punya tenaga serta waktu untuk mengarungi kegagalan, kita bisa mengupayakan dunia baru itu dari tangan kita sendiri. Caranya? Ya itulah yang sedang dengan kreatif dicari oleh semua komunitas di dunia. Ide, tenaga dan waktumu sebagai anak muda yang sangat dibutuhkan untuk dunia yang lebih baik.

Mengenal diri sendiri lebih baik

Ada banyak orang yang bingung dengan identitasnya sendiri. Kalau mereka cerita sama gue soal krisis identitas itu, gue selalu bilang, 'Cobalah ketemu lebih banyak orang yang punya banyak kesamaan sama lo. Lalu, cari perbedaan di antara kalian."

Itu yang gue lakuin dulu when my quarter crisis kicked in. Ketika berada di komunitas, umumnya elo akan bertemu banyak banget jenis orang, ya yang baik seperti malaikat, ya yang racun seperti lagu 'Kekeyi Bukan Boneka' cepet banget bikin apal. 

Dengan memahami lebih banyak jenis orang, kamu akan menemukan betapa kalian sama tapi sangat berbeda. Perbedaan itulah yang akan menjadikan kamu ya kamu. Kamu punya kesukaan, cara pikir, dan pilihan yang berbeda. Bahkan meskipun sama, nggak mungkin 100 persen sama! Karena gue yakin bahkan kembar identik atau manusia kloningan pun akan punya jiwa yang berbeda.

Dengan ketemu banyak orang, kamu juga akan belajar bagaimana cara bergaul dengan mereka. Orang yang seperti malaikat harus diperlakukan seperti apa, begitupun yang seperti anakonda harus diapakan. Prinsipnya adalah perbanyak teman, tiadakan musuh. Kalau kamu udah punya identitas yang baik, kamu nggak akan insecure dengan perbedaan dan mantap memperlakukan orang terjahara dengan tepat.

Memupuk jiwa kepemimpinan

Saat kamu ikutan OSIS atau HMJ di kampus, kamu mungkin udah familiar dengan pelatihan kepemimpinan. Well, ada komunitas yang bisa menawarkan pengalaman dan pelatihan kepemimpinan yang sama, tapi banyak juga yang sama sekali berbeda.

Gue bisa bilang komunitas berbau "politik" dan "sosial" punya cara main yang sangat berbeda. Cara mengatur orangnya sangat berbeda, Bahkan cara komunikasi antara komitenya aja berbeda. Oleh karena itu, kalau kamu ingin memperdalam leadership, kamu bisa pelajari people management di komunitas sukarelawan sebab di platform itu manusia adalah api kehidupan utama. Manusia ini hanya mau bersukareawalan karena ketertarikan, hobi, dan loyalitas. Kamu sebagai pemimpin bertugas memastikan api itu tetap terbakar

​Nampak bagus di resume

Yang ini gue taruh bawah karena mau diakui atau enggak, berkomunitas membuat kamu terlihat sudah memiliki pengalaman-pengalaman yang gue sebutin di atas.  Ketika kamu sudah dianggap berpengalaman, orang akan lebih percaya padamu.

Oleh sebab itu jika kamu sudah berkomunitas, kamu akan memiliki kesempatan lebih lebar untuk ditempatkan di suatu pekerjaan atau mendapatkan beasiswa. Itu karena kamu dianggap sudah mampu bekerjasama dengan orang lain, bahkan memiliki kebiasaan positif untuk berguna bagi lingkungan. Orang cenderung ingin bekerja dengan rekan yang positif kan daripada yang bejat tanpa bisa bersikap?
]]>
<![CDATA[Kenapa Harus Gabung Komunitas Pembaca?]]>Sat, 13 Jun 2020 17:14:11 GMThttp://pengejacerita.com/tips/kenapa-harus-gabung-komunitas-pembaca
Baca kan bisa sendirian, kenapa harus gabung komunitas?
Kamu benar, membaca umumnya adalah kegiatan solitare. Namun ada banyak banget manfaat menjadi anggota komunitas buku atau pembaca. Apa aja sih?

Bertemu pecinta buku lain

Tentu saja kamu bakal ketemu pecinta buku lainnya. Eh tapi jangan salah. Meski sama sama suka buku, ada banyak genre buku berbeda. Misalnya kamu suka fiksi; ada banyak sube-genre seperti misteri, horor, thriller. Bahkan subgenre itu saja masih punya sub sub lainnya yang lebih spesifik.

Bertemu pecinta buku baru artinya adalah koneksi. Bisa saja teman barumu adalah seorang penulis atau penerbit. Kamu bisa mendapatkan pengetahuan yang nggak mungkin kamu dapatkan jika hanya berdiam diri di dalam perpustakaan pribadimu di rumah.

Kamu juga jadi punya teman bertukar pikiran ketika menyelesaikan suatu bab atau buku. Diskusi mengenai sebuah buku dengan orang yang sama-sama sudah membaca buku itu seperti menceritakan seseorang yang sama-sama kalian kenal, sensasinya seperti ghibah. Dan ghibah itu seru kan? Hahaha

Bakal ketemu buku yang nggak pernah kamu kenal

Saat komunitas buku yang kamu ikuti punya beragam orang dengan genre kesukaan yang berbeda-beda maka saat itulah kamu akan ketemu banyak sekali buku yang asing. Dari teman sekomunitas itu, kamu bisa mendapatkan informasi tentang buku itu, mendengar langsung darinya isi buku itu bahkan tanpa membacanya. Tapi tentu jika ingin ilmu yang lebih menyeluruh, kamu perlu membacanya sendiri.

Gue selalu menganggap bertemu dengan buku itu seperti jodoh. Stok buku nggak selalu ada, ketika udah ketemu pun belum tentu cocok. Di komunitas, umumnya orang mencari buku yang mungkin cocok untuk dibaca berikutnya.

Disiplin membaca

Gue emang suka membaca dari SD, tapi bukan berarti gue berhasil menyelesaikan 25 buku setiap tahun. Ada kalanya semangat membaca gue sirna hilang entah ke mana. Saat itulah, komunitas pembaca punya peran yang krusial.

Biasanya, komunitas pembaca punya deadline tertentu untuk menyelesaikan satu buku. Jika tidak, mereka minimal akan menanyai kamu tentang progresmu dengan buku yang sedang kamu baca. Hasilnya, mau nggak mau kamu harus tetap membaca. Dari terpaksa, lama-lama jadi punya disiplin yang baik. Disiplin gue sekarang adalah membaca buku sebelum tidur. 

Biar relaks

Ketika bergabung dalam kegiatan komunitas buku, umumnya mereka menyediakan tempat membaca yang nyaman biar kamu bisa relaks dan konsetrasi membaca. Bahkan meskipun di cafe, pengelola cafenya akan memelankan musik agar anggota komunitas merasa betah.

Suasana ini bisa membantu kamu mendapatkan mood yang baik. Mood yang baik berarti sehat. Saat sehat, kamu siap bekerja atau belajar lagi dengan maksimal. Membaca sendiri memang sebuah terapi yang bisa mengobati kondisi mental tertentu.

Buku gratis

Buku itu mahal, benar kan? Jika kamu suka banget sama buku, kamu mungkin menghabiskan Rp300-500ribu setiap bulan untuk menambah koleksi baru. Tapi jika kamu bergabung dengan komunitas, mereka biasanya mengadakan aktivitas yang menghadiahkan buku atau tiket berlangganan di perpustakaan secara gratis. Seru kan?

Nggak cuma itu, ada saja teman di komunitas buku yang suka memberi hadiah berupa buku. Seolah dia tahu suatu buku mungkin akan kita sukai.  

Di Jakarta, Jogja, Bandung dan kota-kota besar lainnya ada banyak komunitas buku. Kalau di Jakarta, salah satunya adalah Kumpulbaca. Komunitas ini punya agenda rutin seminggu sekali, biasanya di akhir pekan untuk ngajak anggota #sejammembaca. Kamu bisa ikuti kegiatannya secara online, dengerin podcastnya di Spotify atau nanti setelah pandemi, dateng langsung ke agendanya.
]]>
<![CDATA[Membangun Komunitas Sosial yang Berdampak: Memulai]]>Wed, 27 May 2020 16:26:55 GMThttp://pengejacerita.com/tips/membangun-komunitas-sosial-yang-berdampak-memulai
Bagaimana memulai sebuah gerakan atau komunitas dari awal?
Membangun komunitas adalah salah satu hal yang sebetulnya banyak dilakukan orang, mulai dari anak-anak hingga kakek nenek. Kendati demikian, nggak semua komunitas bisa bertahan dan membawa dampak sesuai seperti harapan anggotanya. 

Anyway, kita harus berangkat dari pengertian komunitas. Mengutip dari Kamus KBBI Daring Kemendikbud, komunitas adalah kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban.  Lalu bagaimana cara membangunnya dari titik nol?

Beberapa bulan lalu, Kumpulbaca mengikuti program SEKELAS yang diselenggarakan oleh Ruang Komunal Facebook Indonesia bersama Coworkinc. Nah bermodal teori dari kelas itu dan pengalaman Kumpulbaca, gue akan membagikan catatan berseri tentang membangun komunitas yang berdampak.

Mulai dari lingkaran terdekat

Membangun komunitas adalah membangun interaksi antara manusia di dalamnya. Sebelum memulai sebuah komunitas, kamu harus tahu alasanmu ingin membangun komunitas. Selanjutnya, lihat sekitar dan observasi siapa saja di antara teman terdekatmu yang memiliki kecemasan dan ketertarikan yang sama. Kamu juga bisa menimbang kebutuhan awal untuk membangun komunitas kamu apa saja. 

Kumpulbaca adalah ide teman gue yang entah sejak kapan udah dia pendam sendiri. Akhirnya kami ketemu dan tahu kalau sama-sama suka buku. Lalu ketemu dua teman lain yang ternyata bersedia mengeksekusi konsep komunitas literasi yang kami rembug bersama; tentu saja berdasarkan riset dan perbandingan sana sini agar sesuai dengan nilai para founder. 

Para founder ibarat ayah dan anak bagi komunitas; merekalah yang menggodok tradisi, budaya, nilai, dan visi misi komunitas. Makanya, lebih baik jika kamu menemukan rekan membangun komunitas dari lingkaran terdekat yang sudah kamu ketahui plus minus sifatnya dan sudah saling percaya sehingga membangun interaksi dan komunikasi di antara kalian lebih nyaman dan efisien.

Saat kamu memulai pertemuanpun, kamu bisa mengundang teman atau keluarga terdekat untuk hadir dan menyaksikan kelahiran komunitasmu. Meski yang datang hanya lima orang, it's already a good start. Pastikan mereka mau membantu kamu menyampaikan kehadiran komunitasmu di lingkaran mereka yang lain sehingga lebih banyak orang tahu. Start small, go big!

Selanjutnya, kamu bisa membuat akun sosial media tentang komunitas kamu. Undang mereka semua yang hadir untuk memberikan testimoni atau memposting kegiatan kalian di sosmed mereka juga. 

Menentukan DNA komunitas

Setiap organisme punya DNA. Maka jika komunitas adalah kumpulan organisme, sudah sepatutnya dia memiliki kecirian tersendiri yang membuatnya berbeda dan bisa bertahan di masa depan bahkan jika para founder-nya sudah ingin pensiun.

Membentuk DNA komunitas emang nggak bisa dilakukan sekejap mata. Tapi untuk langkah awal, kamu bisa mencari alasan besar kenapa komunitas kamu harus ada, dengan cara apa dia akan membawa perubahan, seperti apa tradisi di dalam komunitas dan value apa yang ingin kamu tularkan ke anggota komunitas. DNA ini akan terbentuk seiring waktu karena yang membentuknya bukan 1 atau 2 orang melainkan seluruh member juga ikut terlibat.

Ada beberapa metode yang gue tahu untuk menggali DNA komunitas, melalui SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) analysis dan Community Canvas (semacam business canvas khusus komunitas). Pada prinsipnya, membangun komunitas dan perusahaan memang mirip. 

Kumpulbaca contohnya punya DNA yang terbuka untuk siapa saja, pertemuan regulernya gratis, selalu mengkampanyekan gerakan #sejammembaca baik di pertemuan online dan offline. Tujuannya adalah menjadi alternatif gaya membaca bagi orang yang emang udah suka baca buku maupun yang belum suka.  

Dari DNA itu, kamu akan bisa membuat berbagai program atau platform yang tujuannya fokus untuk melayani visi misi komunitas kamu. Ya fokus untuk siapa segmennya, fokus pula sasaran outputnya. Programnya pun jadi lebih bervariasi meski tujuannya satu.

Konsistensi

Bagian paling sulit dalam membangun sebuah komunitas adalah menjaga konsistensi. Konsistensi ini bermakna begitu luas; konsistensi kegiatannya; membernya agar tetap datang; komitenya tetap semangat dan banyak hal sesuai tahapan komunitas kamu berkembang.

Di awal membangun Kumpulbaca, kami berusaha tetap konsisten membuat pertemuan seminggu sekali. Tapi ternyata sulit karena di hari Minggu, nggak semua orang ingin keluar rumah. Maka, kami buat penyesuaian dengan kadang mengadakan pertemuan di Sabtu kadang di Minggu. Yang mana aja, asal sepekan sekali tetap ada.

Kegiatan diskusi buku lama kelamaan mulai nggak seru karena Teman Baca (member Kumpulbaca) lebih seneng sama kegiatan yang lebih semarak. Makanya, kami buat lebih banyak model acara setelah agenda wajib #SejamMembaca, yaitu games, bookswap, bedah buku, ketemu penulis dan banyak lagi lainnya. Yang mana aja, asal seru untuk membuat orang tetap dateng.

Nah, yang paling sulit adalah membuat komite tetap semangat. Setiap komite baru pasti semangat tetapi umumnya mulai loyo di akhir, atau ternyata banyak pekerjaan dan kuliah. Tapi nggak perlu khawatir, kamu selalu bisa pakai pendekatan antar-teman untuk membuat komite kamu tetap ikut berpartisipasi dan berkontribusi di komunitas. 

Bagaimana dengan dukungan finansial?

Dukungan finansial sebuah komunitas tentu bergantung pada jenis kegiatan dari komunitas itu sendiri. Kegiatan seperti arisan sebetulnya juga termasuk kegiatan komunitas yang hadir berlandaskan silaturahmi dan memerlukan uang sebagai alasan untuk berkumpul. 

Banyak komunitas yang meminta dana membership pula untuk menjalankan kegiatan karena jujur saja, membangun komunitas tanpa uang sama sekali tidak mungkin. Namun uang yang dibutuhkan tidak harus selalu besar sampai berjuta-juta rupiah. 

Kumpulbaca dibangun empat orang pendiri yang saat memulai, dua di antaranya sedang pengangguran. So, bisa dibayangkan bukan bahwa yang terpenting adalah memulai dulu. Saat itu, uang hanya untuk membeli kopi atau snack karena kami menggunakan halaman sebuah cafe di Cikini. Nanti seiring besarnya kegiatan yang ingin kamu buat atau seberapa banyak orang yang terlibat, maka kebutuhan kamu akan dukungan finansial akan ikut meningkat. 
]]>
<![CDATA[Proses Menulis Berita Online yang Cepat dan Akurat]]>Fri, 22 May 2020 17:49:18 GMThttp://pengejacerita.com/tips/proses-menulis-berita-online-yang-cepat-dan-akurat
Bagaimana jurnalis berita portal online mampu menerbitkan berita hanya beberapa menit setelah kejadian berlangsung?
Jika kamu milenial, kamu pasti sudah memperhatikan bagaimana cepat berita genting nangkring di halaman utama Detikcom atau Kompas.com dengan begitu cepat. Padahal untuk menyajikan berita, wartawan harus menyiapkan banyak hal dan verifikasi kanan kiri untuk memastikan pemberitaannya akurat. 

Jurnalisme online memiliki kaidah yang sama dengan jurnalisme media apapun sebelumnya. Hanya saja, ada satu prinsip yang membuat langkah penerbitannya jauh lebih praktis dan membutuhkan waktu yang lebih ringkas.

Portal berita online selalu mengikhtiarkan kebenaran berdasarkan runut waktu kejadian. Prinsipnya, wartawan akan membagikan apapun informasi yang mereka miliki dulu, entah karena melihat sendiri atau mendengar sendiri. Kemudian memulai verifikasi setelahnya. Tidak semua berita yang diterbitkan harus memiliki informasi yang lengkap dulu atau mendapatkan tanggapan dari seluruh pihak untuk diterbitkan.

Tanggapan atau informasi selanjutnya bisa menyusul atau justru sengaja dipecah (agar lebih mudah dicerna pembaca online) sesuai dengan kronologi atau urgensi informasi masuk ke kantor berita. Meski pemberitaan kanal online seringkali dinilai lebih dangkal dangkal dibandung koran, media ini punya kelebihan cepat, punya jangkauan luas dan mampu secara menyeluruh mengupas sebuah kejadian karena tidak terbatas pada jumlah halaman.

So berdasarkan pengalaman gue menulis untuk beberapa media di kanal hiburan, teknologi, dan politik, berikut ini adalah langkah-langkah yang umumnya dilakukan jurnalis portal online ketika meliput suatu kejadian. Gue tidak mengklaim bahwa cara yang akan gue bagi ini dilakukan oleh semua jurnalis online dan tidak juga berarti yang paling benar. 

Lakukan Riset 

Waktu wartawan untuk mencerna informasi setelah kejadian berlangsung sangat sempit dan berkejar-kejaran dengan wartawan dari media lain. Lakukan riset mengenai narasumber dan topik yang akan disampaikannya sebelum acara atau sebelum tiba di tempat kejadian. 

Buat kerangka berita (biasanya disebtu cangkang) dari informasi yang sudah tersedia. Jadi begitu kamu mendengar pernyataan narasumber, kamu sudah tahu bagian mana saja yang bisa dikutip.

Jika kamu hadir di acara peluncuran produk, kemungkinan besar kamu akan mendapatkan pers rilis dari PR (public relations). Tapi untuk menanyakan pertanyaan yang tajam dan nggak hanya fotokopi rilis ke beritamu, kamu bisa riset seputar produk itu, produk sebelumnya, rumor mengenai perusahaan atau mengenai narasumbernya sendiri. Pastikan 5W1H sudah kamu prediksi supaya kamu bisa mendapatkan informasi yang lebih dalam. 

Namun tidak jarang kejadian seperti kebakaran, pembunuhan atau kejadian tak terprediksi lain harus kamu laporkan juga. My best advice untuk hal-hal yang berbau kecelakaan adalah datang secepatnya dan minggle dengan orang di sekitar tempat kejadian untuk riset dulu sebelum menunggu pihak otoritas memberikan pernyataan. Berita pandangan mata dan saksi kejadian aja udah bisa dapat satu angle tuh. Kamu juga bisa saling bertukar informasi dengan wartawan lain jika memang mereka sudah hadir lebih dulu.

Nah kalau politik gimana? Kan kadang mereka juga pengumuman sesuatu yang nggak terprediksi tapi bukan kecelakaan. Kalau soal ini, nggak ada cara lain selain riset dengan reading between the line berita mengenai tokoh ini sebelumnya dan banyak ngobrol sama senior di lapangan atau di kantor. Paling nggak dengan begitu, kita bisa menebak arah angin pejabat atau calon pejabat  ini mau membuat pernyataan apa.

Datang lebih cepat dan bawa perangkat perang

 dJika kamu datang meliput acara yang sudah direncanakan, nggak ada salahnya datang lebih cepat sebelum acara dimulai. Tujuannya biar lebih bisa minggle dengan orang di sekitar atau narasumber. Pekerjaan wartawan sebetulnya adalah pekerjaan membangun koneksi. Mintalah kontak narasumber sehingga kamu bisa menghubunginya nanti jika reportasemu kurang lengkap atau jika ada isu yang berhubungan dengannya.

Yang nggak kalah penting adalah nggak meninggalkan perangkat utama; SMARTPHONE dan HEADSET, atau alat rekam dan foto lainnya. Ponsel pintar selalu gue fungsikan sebagai perekam, pengambil foto kejadian, sekaligus catatan. Pastikan ponsel kamu bisa digunakan secara multitask atau bawa tiga perangkat terpisah untuk tiga tugas utama wartawan di lapangan tadi. Tapi dari pengalaman, nggak ada satupun wartawan online yang nggak punya smartphone sebab mereka kadang dimintai tikpet (ketikan cepat) melalui WhatsApp agar berita bisa diolah editor di kantor dengan kepala lebih dingin dan perangkat yang lebih nyaman untuk membuat berita. 

Tikpet adalah koentji

Dari pengalaman gue, ngetik cepet di handphone atau laptop adalah nilai plus bagi kuli tinta online. Tapi yang paling penting adalah peka terhadap kalimat-kalimat dan kejadian penting di depan mata. 

Tikpetan tiap wartawan emang beda-beda. Ada yang lengkap, utuh, dan rapi. Semua omongan narsum ditulis. Tapi gue lebih fokus mendengarkan dan menulis kalimat yang bisa dikutip atau inti pernyataan yang penting-penting saja. Kenapa?

Ada kejadian-kejadian yang berlangsung selama berjam-jam, misalnya sidang atau rapat paripurna. Jika kita tikpet semua percakapan, kita nggak akan bisa fokus untuk memilih angle dan malah kebingungan. Plus kalau kelewat, kita jadi lebih kalut. Toh nanti, kita selalu bisa menulis apa yang kita dengar dari rekaman. Trik ini gue lakukan untuk menghindari transkrip berita yang memakan waktu paling lama dalam pengumpulan informasi baik. 

Tikpet adalah pegangan penting untuk membuat berita karena tanpa kutipan yang dicatat di dalamnya, berita akan terasa hambar dan kurang terpercaya. Sementara itu, rekaman adalah back-up. Siapa tahu kamu terlewat atau narsum kamu menuntut, kamu punya bukti konkret dengan rekaman itu. So yes, rekam semua kejadian (entah dengan video atau suara), tapi catat hal yang penting saja.

Menentukan angle

Jika semua data yang kamu butuhkan (5W1H) sudah terpenuhi, atau jika kebanyakan sudah terpenuhi, kamu perlu menentukan angle dengan bijak. Pikirkan dari sudut pandang mana berita yang kamu tulis ini akan terindikasi "paling penting" atau "paling tidak disangka" oleh pembaca berita.

Angle berita tampak dari judul. Judul adalah muka berita yang gue usahakan paling memantik meski nggak perlu sampai clickbait juga. ​Pewarta memiliki metode yang berbeda dalam menulis berita, tapi gue selalu mengawali menulis dari judul. 

Struktur piramida

Berbeda dengan penulisan berita di koran, menulis di portal online berangkat dari informasi paling spesifik ke paling umum. Kita menulis dari yang paling penting menuju ke informasi tambahan atau pemberian konteks informasi. Ini karena reading span pembaca dunia maya tidak lebih dari 3 menit rata-rata untuk satu halaman berita.

Gue tipikal yang nggak pernah bikin outline karena tikpet adalah outline gue. Tapi jika kamu merasa perlu, kamu bisa membuatnya sebelum menulis dalam paragraf.
Paragraf pertama adalah inti dari segala inti berita.
Untuk straight news, gue biasanya membuat paragraf pertama dari perpanjangan judul (yang kebanyakan menggunakan kata-kata sinonim dari judul), namun kalimat ini sudah lengkap dengan waktu dan tempat kejadian di kalimat pertama. Singkat kata, 5W1H selalu gue taruh di kalimat tersebut dengan struktur SPOK (subyek, predikat, obyektif dan keterangan).

​Kalimat keduanya bisa berisi kelanjutan ide dari kalimat satu jika memang ide pokoknya panjang banget, atau berisi ide penyambung antara judul dengan paragraf selanjutnya. Yass, cuma dua kalimat saja agar paragraf tidak terlalu gemuk dan melelahkan pembaca. 

Paragraf kedua gue biasanya sudah kutipan dari narasumber yang berkaitan dengan judul. Penyajian kutipan tidak harus selalu urut berdasarkan kejadian asalkan tidak memberikan konteks yang berbeda dari yang disampaikan narasumber.

Jumlah paragraf tentu saja tergantung pada format dan konsep media tempat kamu menulis. Tapi menurut pengamatan gue untuk hard news, minimal 3 paragraf (untuk breaking news). Paling panjang bisa mencapai 12-15 paragraf seperti di CNNIndonesia.com atau Tirto.id jika format media kamu memang in-depth.


Tulis saja dulu semua informasi yang bisa kamu sampaikan untuk pembaca. Jangan pikirkan apakah ada saltik (salah ketik), apakah kalimat kamu efektif atau tidak, atau paragraf tidak koheren. Proses swasunting berada di tahapan yang berbeda.

Menyisipkan kutipan terkurasi

Pelajaran penting dari editor gue selama jadi wartawan adalah: 
"Jangan mengulangi kalimat kutipan di deskripsi atau sebaliknya."
Pilih informasi apa yang ingin kamu sampaikan dengan kutipan narasumber dan mana penjelasan yang kamu tulis sebagai kalimat tidak langsung atau disebut juga informasi deskripsi. Kedua jenis kalimat itu tidak perlu menjelaskan ide yang sama, justru harus saling melanjutkan ide.

Kutipan harus kuat dan menarik. Bahkan, beberapa media menggunakan kutipan narasumber menjadi judul berita. Pastikan juga kutipan yang buat akurat dengan mengecek kembali rekaman. Saran gue, selalu kasih mark ke setiap rekaman kejadian sehingga gampang buatmu untuk kembali mengecek kutipan di tahap selanjutnya. 

Swasunting sebelum dikirim 

Berita yang baik, secara teknis memiliki kalimat yang efektif dan efisien. Tidak ada saltik, tidak terlalu banyak kata pengisi, ide tidak berbelit-belit atau kata diulang-ulang. Pastikan kamu tidak melanggar PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) Paragrafnya perlu berkesinambungan antara satu dengan lainnya.  Oleh karena itu sebelum masuk ke meja redaksi, kamu perlu swasunting dulu.

Tekniknya sederhana, baca sekali lagi dari awal setelah semua informasi sudah lengkap. Cek sekali lagi apakah nama narasumber sudah betul, atribusinya sudah benar dan begitu pula dengan kalimat kutipannya. Langkah ini penting, tapi juga yang paling sering terlewat sehingga omelan editor seringkali mampir. 

Semua langkah ini butuh waktu untuk dilakukan secara baik. Kunci menulis apapun dengan cepat dan tepat adalah berlatih setiap hari. Jadi, selamat berlatih!
]]>
<![CDATA[Tips Membaca Buku yang Nggak ‘Sparks Joy’]]>Mon, 13 Apr 2020 17:00:00 GMThttp://pengejacerita.com/tips/tips-membaca-buku-yang-nggak-sparks-joy
​Udah pernah membaca buku Marie Kondo berjudul ‘The Life Changing Magic of Tidying Up’? Kalau udah pernah baca, kamu pasti udah nggak asing dengan frasa ‘sparks joy’. Konsep spark joy, sebetulnya nggak hanya bisa dilakukan untuk merapikan rumah, tapi juga banyak hal lain untuk membuat kehidupan lebih bermakna. Tentu saja, termasuk membaca.
​Kamu pasti pernah melirik review pembaca lain di Goodreads atau Google sebelum membeli buku atau meminjamnya. Berharap merasakan pengalaman fantastik atau mendapatkan ilmu yang berharga, beberapa orang ternyata malah kecewa karena buku yang disebut bagus rupanya nggak sesuai ekspektasi.

Kebanyakan orang akan langsung meninggalkan buku yang nggak sparks joy itu daripada menghabiskan waktu. Terlalu banyak buku bagus (lain), tapi hanya ada sedikit waktu (hidup di dunia). Begitulah manusia, begitu pula hidup.

Tapi buku adalah hasil perasan pengetahuan seseorang dan curahan ide dan perasaan. Buku itu ibarat anak, dilahirkan ke dunia. Jadi, sebelum kita meninggalkan buku “bagus” yang nggak sparks joy di awal, ada beberapa langkah penjajakan dengan buku yang semoga juga mampu menghapus rasa menyesal atau tertekan saat mencampakkannya nanti.

​1. Baca lebih banyak tentang plot (bahkan yang mengandung spoiler)

​Masalah ini biasanya dihadapi oleh pembaca buku-buku dengan plot maju dan mundur, campur atau bahkan yang alurnya sangat lamban. Pembaca cepat cenderung tertidur membaca buku seperti itu.

Oleh karenanya, para pembaca ini perlu mencari referensi lain untuk membantu pemahamannya dalam mengerti plot dan “mengintip” keseruan di depan agar buku itu lebih seksi untuk dipilih sebagai peneman waktu. (Tapi ini tidak berlaku pada novel thriller/detektif karena bisa jadi akan menghancurkan pengalaman teka-teki dan twist-nya)

Pengalaman ini kulakukan ketika membaca ‘The Cather in The Rye’ dan ‘Botchan’. Sebagai pembaca yang suka alur instan, kedua novel ini sejujurnya terlalu datar dan kurang seksi. Tapi karena terpancing begitu banyak pertanyaan dan review netizen di Goodreads, keduanya berhasil selesai dan meninggalkan kesan yang baik di hatiku.

Jika setelah membaca plot dan spoiler ternyata bukumu tetap tidak menarik, coba langkah berikutnya.

​2. Ngobrol dengan orang yang merekomendasikannya

​Saat kamu pusing dengan sebuah buku, ingatlah dari mana kamu berminat membaca buku itu; apakah itu dari saran teman, keluarga sahabat, sobat baca, netizen atau lainnya.

Kembalilah pada mereka. Coba diskusikan apa poin penting yang membuat buku itu bagus bagi mereka. Jika rekomendasi itu datang dari orang dekatmu, tanyakan pada mereka apa yang membuat mereka merekomendasikan buku itu padamu.

Langkah ini sedang kualami sekarang saat membaca ‘To Kill A Mockingbird”. Seorang teman mengatakan buku ini bagus karena mengajarkan tentang kepolosan manusia dan bagaimana toleransi harus dimiliki semua orang untuk orang lain. Kucoba terus lanjut karena aku selalu tertarik pada isu-isu kesetaraan.

Memahami isu, poin atau concern orang lain tentang buku itu akan membantu kamu memahami buku itu lebih baik. Kamu juga akan mendapatkan perspektif lain yang siapa tahu terlewat olehmu. Setelahnya, kamu bisa mempertimbangkan apakah isu atau poin dalam buku itu berguna bagimu atau tidak. Jika mungkin berguna, lanjut ke poin berikutnya. Jika tidak, lompatlah ke poin 4.

3. Perkirakan apakah akan berguna di masa depan

​Ada beberapa buku yang intrepretasi dan kegunaannya berubah seiring waktu pembacanya. Ini karena tidak semua buku bisa dibaca semua umur. Jika kamu merasa suatu hari akan butuhkan perspektif atau menguasai ilmu dari buku itu, tidak ada salahnya untuk meletakkannya dulu untuk sementara waktu. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk menanti suatu masa ketika buku itu cukup menarik dibaca.

Ada beberapa buku yang pernah bernasib seperti itu di tanganku; sebut saja ‘Lean In’ — Sheryl Sanberg (yang berisi penuh data tentang angka-angka berkenaan perempuan). Pada suatu hari ternyata ada sebuah pemilihan pemimpin yang kuikuti, dan buku itu telah membantuku membangun narasi dan data akurat bahwa perempuan perlu mendapatkan porsi lebih dalam kepemimpinan.

Begitu juga dengan ‘Cantik Itu Luka’ — Eka Kurniawan- yang awalnya mengerikan. Tapi kemudian karena tertarik dengan sejarah pra-kemerdekaan dan novel surealisme Eka yang digadang-gadang Pram(oedya A. Toer) masa kini, buku itu jadi lebih menggairahkan untuk dibaca.

4. Pinjamkan pada orang lain

​Kalau kamu nggak yakin apakah buku ini akan berguna bagimu atau tidak, pinjamkan saja pada orang. Siapa tahu, buku ini memang hanya ditakdirkan singgah sebentar di tangan orang lain sebelum menemukan maknanya untukmu.

Orang yang meminjam biasanya memang sudah tahu harta karun yang tersembunyi di dalam lembaran-lembaran bukumu. Biarkan dia membacanya, lalu kamu tinggal memintanya untuk membantumu memahami kehidupan di dalamnya. Jika harta karun dalam buku itu membuatmu cukup tergerak dan penasaran, kamu sudah sadar bahwa buku patut untuk mendapatkan waktumu sejenak nanti.

Buku yang mendapat perlakuan ini dariku adalah ‘Sepeda Merah Vol. 2: Bunga-Bunga Hollyhock” karya Kim Dong Hwa, Meilia Kusumadewi yang kupinjamkan untuk booksitter di acara Komunitas Baca Kumpulbaca. Ternyata orang yang membacanya lebih dulu dariku mengatakan buku ini sangat bagus dan menyentuh khas Korea Selatan. Karena pada dasarnya aku pecinta K-Drama, sepertinya aku akan membacanya nanti.

​5. Fisik dan gaya bahasa yang payah

​Don’t judge a book by its cover itu — menurutku setidaknya — adalah frase lama yang sekarang kurang relevan. Jarang buku bagus punya sampul jelek, karena buku bagus biasanya diurus dengan baik oleh percetakannya. Jarang, sekali lagi jarang, buku bagus sampulnya jelek. Setidaknya, aku nggak pernah bermasalah dengan sambul buku-buku yang menurutku keren. Bahkan, buku biasa aja bisa punya sampul yang menarik.

Sering sekali orang kecewa melihat fisik buku yang sudah jelek, kurang terawat atau memang sampulnya tidak meyakinkan. Tapi berikanlah kesempatan pada buku itu untuk berkenalan denganmu lewat bab-bab pertamanya.

Gaya bahasanya mungkin aneh, terlalu banyak menggunakan bahasa asing atau terjemahannya memusingkan? Biasanya pembaca akan mulai terbiasa dengan gaya bahasanya pada bab ketiga, mulai memahami alurnya pada bab kedua, namun terjemahannya sudah memusingkan di bab pertama.

Oke, jika terjemahannya memusingkan, cari buku bahasa aslinya jika memang kamu menguasainya. Jika tidak? Lupakan membaca buku itu.

Buku Metamorfosis — Franz Kafka bernasib nahas di tanganku. Tiada obat, terjemahan Bahasa Indonesianya sangat memusingkan, sampulnya tidak menarik. Terpaksa kucampakkan. Beruntungnya aku hanya pinjam sehingga rasa menyesalnya tidak seberapa.

​6. Sampaikan selamat tinggal

​Ada cara menyampaikan selamat tinggal pada sebuah buku agar kamu merasa sedikit tidak bersalah pada diri sendiri yang sudah terlanjur memiliki buku itu. Ada beberapa langkah yang bisa kamu pilih; berikan pada orang yang menurutmu akan menyukainya, tukarkan dengan sobat baca yang mungkin akan mengadopsinya dengan senang hati, donasikan, atau yang terakhir dan yang paling merugikan adalah, jual lagi.

Saat menjual lagi, tentu sebagian uangmu kembali. Namun harganya tentu jauh dari harga aslinya. Sedangkan jika kamu berdonasi, uangmu memang tidak akan kembali tetapi buku itu mungkin akan sampai pada orang lain yang kesulitan mengakses buku dan mengubah hidupnya. Bukumu akan membantu orang lain, tapi tentu jika kamu ikhlas.

Cium selamat tinggal buku itu dan katakan ‘Terima kasih telah memberikan aku kebahagian setidaknya dengan pernah memilikimu sejenak”.
]]>